100 Hari Setelah Aku Mati Part 56 : Orang Seperti Aku Bagian 3

0
87
bukukita.com

Tapi dewi keadaan nya lebih kasian bahkan tidak punya siapa-siapa sesaat dia lahir dan aku lebih beruntung walaupun akhirnya di tinggal pergi kedua orang tua aku tapi beliau-beliau sangat menyayangi aku dan aku memiliki hunian dan fasilitas yang layak dan orang tua aku juga memberikan warisan yang sangat besar untuk aku dan aku juga memiliki om bowo dan keluarganya yang sangat baik terhadap aku. Tapi dewi pasti dalam perjalanan hidupnya dia kesepian, dia pasti kesuliatan, dia jelas lebih kuat dan tegar dari aku. Dari cerita dewi membuat aku benar-benar merasa malu dan sangat malu dalam ceritanya sama sekali tidak ada penyesalan. Dia sama sekali tidak menyalahkan Tuhan dan takdir. Tidak seperti aku di masa lalu yang selalu mengeluh dan bahkan aku sering mengutuk Tuhan dan dia pasti seperti ketakutan dulu dan dulu cukup besar menghadapi semuanya sendiri tapi dewi kemana dia akan lari dan sembunyi.

Segamapang itu dia mengatakannya setelah semua yang dia alami. Dia mengatkan itu lagi-lagi dengan gampang sekali dan sebuah kata memang mudah di ucapkan tapi coba kamu lakukan dan kamu akan tahu betapa butuh bertahun-tahun untuk bisa lebih tenang jika kamu seperti aku. Dewi perempuan akan tetapi hatinya terbuat dari baja hingga sekuat itu. Aku berkata tanpa mata aku bergeming melihatnya dan dewi tersenyum manis dan aku jadi merasa ingin lebih dekat dan mengenal lebih jauh lagi sosok dewi. Latar belakangnya sebagai seorang indigo seperti aku membuat tertarik menyelami kisah kelabunya. Benar kata orang jika kita sengsara maka akan lebih baik jika ada seseorang yang sama sengsaranya seperti kita dan aku jadi merasa tidak sendirian lagi di bumi. Terdengar suara risa saat kami sedang telepon-teleponan walaupun tarifnya mahal untuk roaming internasional tapi cukup membuat rasa rindu aku terobati.

Aku juga mengingatkan risa agar selalu fokus pada tujuan aku. Aku bilang jika risa bhong katanya mau memberi tahu aku sesuatu ketika aku berangkat ke sini. Risa pernah berjanji cita-cita kedua nya tapi belum pernah dia mengatakannya pada aku. Di situ aku mendengar risa tertawa di seberang sana. Namun risa mengatakan jika dirinya bukan bohong tapi lupa. Risa bilang jika cita-cita dia kedua ingin jadi perawat. Risa bilang jika dia jadi perawat maka kita bisa buka praktek dokter umum besok mas, ucap risa. Aku pun menanyakan apa risa sudah memilih kampus nya dan ternyata dia sudah memilih kampus melalui jalur pts. Suara yang tengil terdengar dari mulut risa. Aku pun mengatakan jika aku sangat merindukan risa. Kemudian kita melanjutkan dengan chating aja supaya tidak mahal. Risa bilang aku harus hemat walaupun dapat jatah bulanan dan itu duit negara jadi uang saku aku juga, ucap risa.

Aku menutup telepon itu sambil tersenyum dan sudah 1 tahun aku tidak pulang ke indonesia dan tidak terasa risa sebentar lagi juga akan masuk perguruan tinggi sama seperti aku. Rasa rindu dengan anak itu sudah sangat menyiksa aku. Aku senang tinggal di melbourne dan banyak pengalaman baru yang aku terima disini tapi tetap jiwa aku adalah indonesia dan aku rindu semua yang berkaitan dengan rumah. Sebenarnya aku memang diizinkan pulang saat liburan musim panas tapi karena keterbatasan biaya dan waktu membuat aku harus sedikit bersabar. Aku membuka laptop yang di fasilitasi pihak kemendiknas dan menyalakannya. Aku berada di perpustakaan kampus untuk mencari beberapa resensi buku. Perpustakaan ini sangat lengkap koleksi bukunya mungkin jutaan karena memang mahasiswa disini berjumlah puluha ribu orang dan aku membuka tas selempang aku dan mengambil sebuah buku album foto yang sering aku bawa.

Aku tidak bosan membolak balik foto-foto lama itu dan untuk sedikit mengobati rindu atau mungkin malah menambah rindu aku pada tanah air. Tampak foto almarhum ayah dan ibu aku sedang menggendong aku saat aku masih balita. Bapak ibuk aku kangen aku berdoa dalam hati. Aku membalik halaman album itu dan sampai pada masa-masa smp dan sma aku. Aku memperhatikan teman-teman aku dan aku tertawa sendirian melihat kekonyolan kami yang tercetak pada foto-foto itu. Tentu saja banyak foto risa dari jaman ke jaman. Sekarang aku dan kamu hampir 20 tahun dan mungkin kah kita akan menikah besok. Pola pikir manusia memang selalu mengikuti umurnya dan aku belakangan ini sering memikirkan tentang masa yang akan datang. Setelah aku benar-benar jadi dokter kemudian apa lagi? Aku harus punya impian baru lagi dan aku harus bisa lebih dari ini.

Suara salah seorang teman aku yang bernama natalie dan dia ternyata ikut melihat album foto aku dari belakang dan dia sednag bersama dewi. Teman-teman aku yang berasal dari australia memanggil aku mark karena nama tengah aku adalah markus. Itu lebih mudah di lafalkan mereka daripada memanggil aku rizal. Bule ini sering bertanya-tanya tentang kehidupan pribadi aku bahkan beberapa kali dia mengatakan jika aku pulang ke indonesia maka dia ingin sekali ikut aku. Tidak lama aku memanggil dewi untuk minta di ajari materi dari pak johanson karena ada beberapa bab aku kurang paham. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here