100 Hari Setelah Aku Mati Part 48 : Jangan Terulang Kembali Bagian 2

0
39
bukukita.com

Berjalan menuju pintu depan dan aku melihat reaksi tetangga aku tentang fenomena aneh ini. Aku mendengar suara pohon yang tertiup angin dan sebentar lagi mungkin hujan besar. Aku membatin dan aku membuka pintu, melihat langsung di depan rumah yang menghadap jalan ada sebuah pemandangan yang mengerikan. Jin, setan atau apa lah kalian menjuluki mereka. Aku melihat jin-jin itu dengan wujud dan bau mengerikan mereka dan sangat banyak. Mereka memenuhi jalanan dan mereka berjalan searah, entah menuju kemana. Aku melihat jalan di depan rumah aku penuh dengan makhluk halus, tanpa ada satu pun kendaraan atau manusia yang lewat. Sungguh sangat aneh hari itu. Aku melihat sosok wanita berbaju putih menggandeng anak nya yang lebih kecil. Sangat mengerikan aku melihat sosok tubuh tanpa kepala di lehernya. Dia berjalan sambil membawa kepalanya sendiri di tangan dan dia memegang rambut kepalanya dan membawa berjalan bersama makhluk halus lain yang mungkin tidak terhitung jumlahnya.

Aku tidak henti-hentinya membaca doa dan melihat pemandangan yang menakutkan ini aku menjadi gentar. Banyak diantara makhluk itu yang melambai-lambai kepada aku. Seolah mereka mengajak aku pergi bersama mereka. Hawa tidak enak itu bertambah ketika jantung aku berdebar-debar dengan sangat cepat. Aku menoleh melihat rumah tetangga aku yang jaraknya mungkin hanya 10 meter dari rumah aku. Aku seakan tidak percaya dengan yang aku lihat. Aku membatin dan aku menoleh ke arah lainnya. Semua rumah roboh kecuali milik aku. Kini jin-jin itu tiba-tiba menghilang dan entah sejak kapan mereka hilang dan tadi banyak sekali jumlah mereka. Aku berjalan mendekati rumah pak sidiq tetangga aku dengan berlari. Ada apa sebenarnya rasa takut yang sudah lama tidak aku rasakan kembali. Aku sangat sensitif dengan keselamatan seseorang dan aku sangat takut melihat seseorang celaka siapa pun.

Keringat benar-benar membuat kaos hitam aku basah kuyup. Aku masih berlari tapi kenapa tidak sampai-sampai dan jarak rumah itu hanya sepuluh meter dari rumah aku dan sangat lama untuk sampai kesana. Kaki aku benar-benar lemas karena rasa takut ini. Aku hanya berlari dan aku mencari tau hal goib apa lagi yang menimpa aku. Aku sudah sampai di depan rumah keluarga pak sidiq. Aku heran ada dimana pak sidiq dan keluarganya? Aku membongkar puing rumah itu mengangkat batu bata dan kayu-kayu besar yang sudah ambruk. Berusaha melihat adakah korban di bawahnya dan aku berteriak berusaha memanggil seseorang. Entah siapa pun aku berteriak minta tolong keras-keras namun percuma karena sepi. Aku tidak melihat seoarang manusia pun.

Aku mulai frustasi dan aku berlari memeriksa satu persatu rumah tetangga aku kosong dan semuanya kosong. Aku terduduk di sebuah pelataran rumah milik tetangga aku. Jantung aku berdebar-debar karena pengalaman ini sangat aneh aku rasakan dan aku memejamkan mata berusaha kembali ke realitas. Aku memohon pertolongan yang maha kuasa mohon di beri petunjuk. Ada semilir angin sejuk yang aku rasakan sangat kontras dengan hawa panas udara sekitar. Aku membuka mata dan mata aku tertuju pada sebuah mesin kipas yang berputar dan aku melihat ke sisi kiri. Aku berada di ruang tamu rumah aku dan kesadaran aku masih belum pulih. Keringat masih membanjiri dan tubuh aku. Jantung saya masih berdetak dengan sangat cepat. Aku menoleh kearah kanan karena merasakan tepukan di pipi aku dan seseorang memanggil aku.

Suara lembut itu menyandarkan aku, itu suara risa dan aku melihat wajah ayu nya. Aku sontak memeluknya sangat erat, perasaan takut masih menjalar di tubuh aku. Risa berkata sambil berusaha melepaskan pelukan aku. Aku membisikan risa dan sepertinya paham dengan kondisi aku dan dia membalas pelukan aku dengan melingkari tangan ke pundak aku sambil mengelus pelan kepala aku. Sekitar 10 menit aku lebih tenang dan aku memaksa otak aku untuk mengartikan kejadian itu merupakan mimpi di siang bolong. Risa berbicara dengan lembut dan aku melepaskan pelukan aku dan menggeser posisi duduk aku dan aku terduduk berusaha mengingat mimpi tadi.

Risa berdiri dan meninggalkan aku dan tidak berapa lama kemudian dia kembali dengan segelas air putih dan risa menyodorkan gelas bening itu kepada aku. Aku menerimanya dan menghabiskan nya dalam satu tegukan. Aku menaruh gelas di meja dan mengelap keringat yang membanjiri di wajah aku. Risa mengulurkan sapu tangan yang sama saat aku dan risa pertama bertemu. Sapu tangan berwarna biru kotak-kotak yang selalu dia bawa dan sapu tangan itu selalu dia sodorkan kepada aku disaat seperti ini. Aku mengelap keringat di wajah aku.

Aku rasa ini bukan sekedar mimpi dan ini petunjuk atau pertanda dan aku kemudian menceritakan setiap detail mimpi yang aku alami. Risa seperti biasa selalu memperhatikan setiap cerita aku. Mungkin emang ada maksudnya dan memang mungkin bakal ada kejadian. Risa menaruh dagunya kepundak aku dan sambil menggenggam erat tangan aku. Perlakuan nya yang lembut membuat aku merasa lebih tenang. Risa masih menemani aku sampai jam 5 sore dan dia pamit untuk pulang dan aku mengantarkan nya pulang menggunakan pespa butut aku. Dia tadi diantar sopir untuk sampai ke rumah aku. Bersambung ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here