100 Hari Setelah Aku Mati Part 47 : Jangan Terulang Kembali

0
89
bukukita.com

Setetes air mata berasal dati mata risa dan dia menangis, risa mengatakan hari ini lucu dimana risa senang dan sedih di waktu yang bersamaan dan aku seneng karena aku mendapat beasiswa. Risa bilang cita-cita aku selangkah lagi bakal terwujud dan aku tambah seneng lagi ketika diriku nembak risa jadi pacarnya. Aku seneng banget namun kenyataannya aku harus pergi jauh dan menurut risa itulah yang membuatnya sedih. Perjuangan aku dan ketabahan aku sekarang sudah ada hasilnya dan aku hanya membayangkan lagi taun depan tidak akan ada kamu. Taun depannya dan taun depannya lagi tidak akan ada aku lagi, ucap risa. Andai saja kamu dapet beasiswa nya di UGM atau di UI yang jaraknya masih bisa di capai tapi Tuhan kayaknya ngasih hadiah spesial buat aku dan aku harus pergi jauh lagi. Risa menangis lagi dia mendaratkan wajahnya ke pundak aku dan membasahi kaos aku dengan air matanya.

Aku akan selalu tau arah kemana aku harus kembali ke kamu dan jangan kawatir dan aku juga haru segera pulih 100% dan sibukan dirimu buat ngejar cita-cita kamu. Aku mengangkat dagu risa dan air mata masih membasahi wajahnya tapi nampaknya histerianya sudah mereda dan dia memejamkan matanya, mungkin dia malu. Aku pun mengecup keningnya dengan lembut dan aku membiasakan sesuatu dengan pelan. Aku bilang jangan menangis aku pergi tidak lama. Ujian nasional yang di tunggu-tunggu seluruh umat SLTA di indonesia sudah terlewati. Ujian negara itu seolah menjadi momok bagi kami anak kelas 3 dan bagaimana tidak ujian nasional pada jaman aku menjadi tolak ukur kelulusan. Tidak terkecuali dengan aku dan aku semakin terbebani dengan harus memiliki nilai di atas rata-rata untuk mendapatkan beasiswa itu. Selain itu syarat sah utamanya aku harus menjadi juara umum.

Benar-benar menjadi beban karena SMA aku merupakan sekolah favorit di jogja artinya pesaing aku untuk mendapat gelar juara umum dalam 1 angkatan akan sangat sulit. Aku hanya berharap dan berdoa, semoga Tuhan memudahkan jalan aku dan aku sudah berusaha. Aku yakin Tuhan tidak akan mengingkari firman. Hari itu adalah jumat siang selepas sholat jumat aku di rumah dan menyiapkan persyaratan administrasi yang sangat banyak untuk calon beasiswa aku. Jika aku ke terima rugi banyak, itu semua menghabiskan gaji aku 3 bulan gaji lamanya. Aku membendel tumpukan dokumen itu dan insya Allah jika aku lolos persyaratan administrasinya sudah komplit.

Aku menyalakan televisi dan menonton tayangan ulang salah satu ajang pencarian bakat menyanyi di tv. Itu yang aku rasakan dan sekarang sudah resmi menjadi pengangguran. Tadi pagi adalah hari terakhir aku di tempat kerja dan aku resign karena banyaknya persyaratan dan persiapan setelah ujian nasional ini. Aku meninggalkan karyawan lain yang kerja disana dan kenangan-kenangan 2 tahunan bekerja disana membuat aku punya ikatan dengan pegawai-pegawai disana. Hari ini juga libur dan karena aku memang tidak ada yang bisa di lakukan di sekolah. Risa juga masih sekolah dan pekerjaan aku di rumah hanya menganggur saja. Aku memainkan handphone nokia 6600. Tampak di layar handphone menunjukan 1 pesan dari risa. Aku tersenyum dan anak ini benar-benar sangat perhatian tanpa diminta risa selalu tau kapan harus ada disisi aku. Aku kembali bengong dan risa pasti sedang pelajaran dan tidak mungkin dia membalas sms aku. Siang hari itu sangat panas aku rasakan dan aku menyalakan kipas angin yang ada di dekat tv.Jadi pengangguran sebentar rasanya sudah tidak enak dan aku pun beranjak mematikan tv. Aku menuju ke taman belakang dan melihat apa yang bisa aku kerjakan di siang yang panas ini. Namun baru beberapa langkah aku berjalan tiba-tiba bulu kuduk aku berdiri dan merinding. Aku merasakan hawa aneh dan kepekaan indra aku meningkat melebihi biasanya. Aku mendengar suara aneh tanpa wujud dan ini bukan ulah jin.

Aku sudah ada di ambang pintu dan melihat ke arah langit dan awan hitam pekat bukan awan mendung yang gelap dan awan yang aku lihat benar-benar hitam pekat seperti tinta dan sedetik kemudian di susul hawa yang sangat dingin. Benar-benar dingin serasa kulit aku di guyur air es. Aku baru pertama merasakan kejadian seperti ini dan perasaan tidak enak juga tidak nyaman dan itu terjadi tiba-tiba dimana awan hitam itu bergulung-gulung seperti ombak. Ada rasa takut di hati aku dan mungkin akan ada badai. Aku merogoh saku dan melihat layar handphone menunjukan jam 13.30 artinya risa mungkin sudah pulang. Aku menelponnya namun tidak ada suara dan aku melihat ke layar handphone dan ternyata batrainya habis. Aku berlari masuk kedalam rumah mencari charge dan aku berusaha menghubungi risa untuk memastikan fenomena alam ini. Aku yakin ada badai sebentar lagi dan aku kembali ke halaman belakang dan melihat langit. Begitu burung yang terbang ke arah utara.

Ini aneh karena aku merasakan ini seperti getaran goib dan berbeda dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Semuanya menjadi gelap dan aura di sekeliling aku berubah gelap. Bersambung ke cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here