100 Hari Setelah Aku Mati Part 46 : Jangan Menangis, Aku Pergi Tidak Lama Bagian 5

0
87
bukukita.com

Aku membuka mata dan melihat gadis impian aku sedang menatap aku dengan mata indahnya. Aku juga menanyakan cita-cita risa yang dulu pernah ingin menjadi dokter juga namun risa mengatakan jika dulu dia pernah bilang ingin mendapat beasiswa kedokteran juga tapi sayangnya kamu naik kelas duluan, ucap risa. Namun risa mempunyai cita-cita yang lain sekarang ini yaitu mempunyai hubungan yang serius dengan aku dan selama ini kita memang dekat namun jujur sama perasaan kita masing-masing. Akan tetapi dulu aku tidak mau ada kata pacaran soalnya masih kelas satu dan umur kita baru 16 tapi sekarang lain aku sudah 18 tahun dan ingin perasaan aku ke kamu tidak terbendung lagi sehingga aku butuh kepastian, ucap risa.

Risa berbicara tanpa berani menatap aku dan dia hanya menunduk melihat rerumputan sambil memainkan rambut aku. Aku terdiam sebentar berfikir untuk mencerna kalimat yang di ucapkan risa. Dan janya kata itu yang terucap dan aku paham dengan maksud risa namun aku hanya ingin menggodanya. Risa menghela nafas panjang karena aku masih saja cuek setelah 6 tahun dan kita bareng dari kita masih jadi anak ingusan sampe sekarang sudah mau jadi mahasiswa kedokteran. Akan tetapi sofat kamu yang seperti ini membuat aku sering keliru memahami kamu. Aku tau kamu sebenarnya care tapi dengan pembawaan kamu yang seperti ini kadang bikin aku salah paham. Tampak ada rasa kecewa di wajah risa. Aku berdiri dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Aku melakukan perenggangan sekali lagi dan aku melihat jam tangan baru jam 06.10 pagi. Taman ini memang tidak terlalu ramai dan aku melihat risa yang duduk sambil melamun.

Tanganya mencabuti rumput-rumput yang sudah di pangkas pendek. Aku dapat merasakan kekecewaan risa dan mungkin karena jawaban aku yang tidak menunjukan antusias aku. Aku pun jongkok di depannnya dan dia sama sekali tidak menoleh pada aku dan kepala nya masih menunduk. Tidak lama aku berbicara kencang dengan menyebut nama lengkap risa agar perhatiannya mengarah pada aku. Aku meminta maaf karena sudah membuat nya marah maka dari itu aku akan membuat keinginannya tercapai dan dengan tatapan lekat-lekat wajah risa. Tampak pipinya memerah dengan cepat dan dia meremas tangan aku sama eratnya seperti aku menggenggam erat tanganya. Apa yang kamu butuh agar kamu tau jawabanya, ucap aku pada risa.

Aku masih sebel dengan kamu karena menurut risa aku selalu mengganggu nya. Aku tersenyum senang dan aku usap rambut risa dan ada perasaan aneh ketika aku dan risa sudah mengatakan saling suka tapi begitu pertanyaan itu terucap dan di jawab oleh risa ada perasaan aneh yang menyenangkan. Aku seperti mendapat hadiah atau memenangkan sesuatu. Risa mengangguk sambil tersenyum dan aku memegang bahunya dan aku senderkan tubuhnya ke bahu aku. Aku pun menghela nafas panjang. Risa pun bertanya apa boleh risa memiliki panggilan sayang pada aku? aku jawab boleh asal tidak norak sambil menggoyang-goyang kan punda aku. Aku tersenyum dan risa memanggil aku dengan panggilan mas dan itu lucu terkesan lebih dewasa. Aku mengangguk dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum aku berkata jika aku senang di panggil mas. Risa pun aku panggil dengan sebutan nduk dan risa seketika mengangguk dengan cepat. Kebiasaan risa yang kusuka adalah jika dia tidak bisa menahan tawanya dia akan menutupi mulutnya dengan tangannya dan dia melakukannya dengan anggun dan dia terlihat sangat menarik saat berusaha menahan tawanya.
Aku dan risa menjadi pasangan pacaran pada bulan maret tahun 2006 artinya sekitar 1,5 bulan lagi aku akan melaksanakan ujian nasional yang menentukan. Beasiswa yang di berikan kepad aku hanya berlaku saat aku dapat melengkapi berkas administrasi yang sangat banyak dan tentu saja standart nilai kelulusan aku juga harus di atas rata-rata. Aku masih berada di taman itu bersama risa. Banyak yang kami obrolkan dan yang utama adalah pendidikan aku. Risa tampak senang dan aku pun demikian. Di suatu sisi ada perasaan tidak rela harus meninggalkan risa. Begitupun dengan risa yang dengan berat hati harus membiarkan aku terpisah dengan nya sejauh ratusan atau mungkin ribuan kilometer dengannya.

Obrolan kami menglir terus dan rasa nya aku ingin manfaatkan betul momen ini dan aku ingin bersamanya terus dimana gadis yang benar-benar menjadi orang asing pertama yang melengkapi hidup aku walaupun kenyataan nya sebentar lagi kami akan terpisah lama. Risa memanggil dengan pelan kami sudah di rumahnya dan sedang duduk-duduk di ruang tamu, rumah risa. Jika libur dan ada kesempatan pulang risa mulai merajuk dan tampaknya risa benar-benar memikirkan hal ini. Risa dan aku sedang membuka-buka album foto kenangan saat kami masih smp dan kami banyak tertawa melihat wajah culun kami dan nostalgia kenangan masa lalu itu.

Setetes air membasahi sebuah foto dan foto itu merupakan foto dengan risa saat perpisahan smp dan kami menyanyikan lagu berdua diatas panggung dan tampak pada foto itu aku memetik senar gitar dan risa memegang mic. Setetes air itu berasal dari mata risa dan dia menangis. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here