100 Hari Setelah Aku Mati Part 45 : Jangan Menangis, Aku Pergi Tidak Lama Bagian 4

0
90
bukukita.com

Kayaknya memang ada gen comel di keluarga risa karena mbak fira ini juga sama cerewetnya dengan risa dan baru beberapa menit kami berkenalan. Mbak fira sudah mengintrogasi aku dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan aneh seperti apa saja yang pernah di lakukan aku dengan risa sudah pernah berciuman belum? Dan aku menjawab beberapa pertanyaan dengan kalem seperti biasa. Suara risa membuat obrolan aku dan mbak fira terhenti dan risa berjalan menuju ke arah kami dengan senyuman khasnya. Risa bilang awas kalo mbak nya gangguin aku. Aku bingung ketika mbak fira bilang yang godain mbak nya itu aku. Risa mencubit perut aku dengan cubitan barunya dia namai cubitan kapak merah. Aku berusaha mengelak omongan mbak fira tadi dan mbak fira tertawa keras sambil menutupi bibir mungilnya.

Mbak nya pun tertawa kencang karena risa yang mudah sekali di provokasi. Aku pun bilang mbak fira jangan iseng karena aku yang di cubitin terus oleh risa. Mbak fira beranjak dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan kami dan sebelum berjalan mbak fira mengedipkan mata kepada aku dan aku hanya bengong melihat kelakuan sepupunya risa ini. Dia tuh umurnya 3 tahun di atas kamu dan mau-mau aja kamu di godain dia mbak fira, ucap risa pada aku. Dan risa meminta agar aku jangan ke rumah jika mbak fira masih disini dan bisa jebol iman kamu. Risa bilang bahaya apabila mba fira naksir aku. Aku dan risa sedang duduk di sebuah bangku taman dan setelah muter-muter di sekitaran taman dan risa pun menunjuk sebuah tempat dibawah pohon cemara. Kamipun beranjak dari tempat kami dan aku merebahkan diri di rerumputan yang di pangkas rapi. Risa hanya duduk membelakangi kepala aku dan dia tersenyum sambil memainkan rambut aku yang kupelihara sedikit panjang.

Risa menjawab sambil menunguk dan menatap aku, dimana dia sambil berbicara jika dia sangat bahagia banget setiap hari dengan aku dan risa berbicara dengan suara yang sangat lembut. Wajahnya menghalangi sinar matahari yang menyilaukan mata aku sehingga dapat aku melihat wajah cantiknya. Aku pun tersenyum dan memejamkan mata. Hanya menikmatin momen ini agar tidak lupa dan aku mau inget-ingetin momen bareng kamu. Tidak perlu di inget-inget dan jika kangen aku kan bisa langsung ketemu, aku pun terdiam dan aku bangun dari posisi tidur aku. Aku berbicara sambil merogoh saku jaket olahraga aku dan mengambil sebuah kertas dan itu adalah surat yang aku terima 2 minggu lalu. Aku mengatakan pada risa jika sepertinya kita harus pisah dulu sementara. Aku menyerahkan surat dengan amplop kuning keluaran dari dinas pendidikan itu dan risa tidak menanggapi perkataan terakhir aku dan dia fokus kepada surat yang mulai dia baca dengan teliti.

Aku mengamati ekspresi wajah risa yang datar dan beberapa kali keningnya berkerut seperti berfikir tentang maksud surat itu. Sekitar 10 menit risa membolak balik surat dengan lampiran beberapa dokumen itu dan risa melipat kembali surat itu dan memasukannya ke amplop. Risa bilang dia bangga pada aku dan mengucapkan selamat, risa pun tersenyum dengan senyuman manis terbaiknya. Ini semua berkat dukungan kamu risa, ucap aku pada risa. Aku hanya sekedar di samping aku dan menemani kamu tumbuh dewasa. Kerja keras selama ini adalah kerja keras kamu dan memang kamu layak mendapatkannya, ucap aku pada risa. Cowok kuper yang pertama kukenal sekarang sudah besar dan bentar lagi bakal pergi merantau.

Aku juga meyakinkan bahwa aku sudah merantau kemana saja dan aku yakin kan aku bisa jaga diri. Satu-satunya yang harus aku biasakan adalah jauh dari dirimu. Aku berbicara sambil tiduran lagi, mata aku terpejam dan aku membayangkan kehidupan aku di perantauan tanpa risa. Untuk anak seumuran kita cobaan apa yang belum pernah aku dapet, ucap risa. Risa juga mengatakan jika aku sudah melewati banyak hal buruk yang mungkin tidak akan bisa di lewati orang lain dan hidup merantau paling lama 5 tahun dan kamu pasti bisa, ucap risa pada aku. Aku merasakan ujung jari risa menyentuh kening aku. Aku takut nilai aku tidak sesuai target yang di standart kan pihak universitas dan aku tidak bisa bergaul disana. Namun belum selesai mengeluh perkataan aku sudah di potong risa, risa hanya mengatakan jika dia yakin jika aku bisa menyelesaikan semua nya. Aku kembali terdiam dan menunggu kalimat yang akan di ucapkan oleh risa.

Risa mengatakan jika dia hanya berdoa agar aku tetap sehat seperti sekarang dan kamu tetep pinter seperti sekarang dan kamu tetep tidak neko-neko seperti sekarang ini. Disitu aku lihat risa sangat mempercayai aku dan yakin aku bisa menyelesaikanya. Dan risa juga mengatakan jika sebaik apapun kita menyelesaikan masalah sudah pasti masalah itu akan muncul terus tapi memang kita hidup untuk menyelesaikan masalah. Profesi dokter yang aku cita-citakan juga tujuan untuk masalah juga. Aku akan mendapatkan masalah namun aku yakin masalah itu akan bisa terselesaikan. Risa menasihati aku dengan kata-kata yang masuk akan dan itu membuat rasa kawatir aku sedikit berkurang. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here