100 Hari Setelah Aku Mati Part 44 : Jangan Menangis, Aku Pergi Tidak Lama Bagian 3

0
87
bukukita.com

Risa melambaikan tangannya kepada teman-temanya yang semakin berisik mengomentari aku dan risa yag memang semakin dekat. itulah hari pertama risa sekolah dan sikapnya seolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya dan tawa nya juga ocehannya sudah kembali. Senyum yang lebar mengingatkan aku waktu-waktu dulu aku merasa senang melihat risa semakin membaik. Tanpa terasa waktu terus berjalan dan risa juga rutin terapi untuk mengembalikan kekuatan tulang kaki dan tanganya. Risa berangsur-angsur pulih dan mulai meninggalkan kursi rodanya dan dia menggunakan tongkat di selang beberapa bulan dia sudah bisa berjalan walaupun dengan sedikit kesulitan dan besi platina yang bersang di tubuhnya belum di cabut.

Melihat risa yang bersemangat membuat aku juga semakin bersemangat menata hidup aku. Pekerjaan aku di pom bensin masih aku lakukan dan sama sekali tidak mempengaruhi nilai akademi aku dan nama aku masih selalu bertengger di urutan teratas dalam hal rangking dan bagaimana dengan risa? Dia juga sama, dia menjadi rangking satu selama 2 semester berturut-turut semenjak hari pertamnya mengulang kelas 1 dan wajar lah selain dia sudah pernah mendapat materi semester 1, dia juaga rutin belajar denga aku. Semakin lama kedekatan aku dengan risa semakin dalam dan kami semakin dewasa dalam menjalani hubungan tapa status ini dan seperti kisah roman remaja pada umumnya kita juga mengalami yang namanya merahan dan cemburu. Tidak sebatas wajar saja dalam 1,5 tahun berlalu aku sudah memasuki tahun ketiga bersekolah dan hari itu seorang guru memberikan aku sepucuk surat dan itu surat yang sangat menentukan.

Aku sednag terduduk di rumah dan sambil membaca novel untuk menghabiskan waktu luang dan karena sudah siang aku makan siang terlebih dahulu. Aku beranjak dari kursi dan menuju ruang makan yang disana sudah ada bapak dan ibu aku yang menunggu aku. Di situ ada ikan asin dengan sambal terasi dan aku menatap meja makan dengan gembira. Bapak mengatakan jika ibu sudah memasak menu kesukaan aku dan sekarang di makan. Di situ ibu menanyakan sekolah aku apa baik-baik saja? Aku menjawab jika biasa dari sekolah banyak tugas. Bapak mengatakan jika aku jangan mengeluh dan harus di syukuri masih bisa sekolah dengan lancar dan aku juga tidak boleh manja dan suatu saat aku akan hidup mandiri. Mereka bilang mereka tidak akan nyediain makan buat aku terus dan aku harus bisa mandiri.

Satu hal yang bisa lakukan dari beliau selamanya adalah menyayangi aku selama nya dan beliau berdua berbicara dengan bersamaan. Aku terengah-engah dan aku menoleh kiri dan kanan gelap dan hanya sinar redup dari lampu tidur aku yang terlihat. Ternyata itu semua mimpi aku dan ini sudah yang kelima kalinya dalam seminggu mimpi itu datang. Mimpi saat asku sudah sebesar ini tapi masih bersama kedua orang tua aku dan benar-benar terasa nyata. Bapak dan ibu aku seolah tidak henti-hentinya menasehati aku. Suara jam beker yang kutaruh dekat meja samping kasur aku berbunyi nyaring artinya adalah jam 04.15 pagi aku mala bangun lebih pagi dari alarm aku dan aku mematikan alarm itu dan mengambil air wudhu.

Aku memakai sarung dan baju lengan panjang untuk mengusir dingin pagi hari. Aku keluar rumah menuju masjid yang terletak tidak jauh dari rumah aku untuk solat berjamaah. Aku melaksanakan solat subuh dengan jemaat lainnya. Selesai solat aku terduduk dengan di serambi dan beberpa hal penting memenuhi otak aku. Gara-gara sepucuk surat yang aku terima 2 minggu lalu dan suarat yang sangat penting dimana pada hari itu merupakan hari minggu pagi dan kegiatan yang biasa aku lakukan adalah mengajak risa berjalan-jalan di taman sekitaran rumah sekedar menghirup udara segar pagi hari.

Aku mengganti baju dengan pakaian training dan melakukan sedikit peregangan di depan garasi. Aku merogoh saku dan memencet beberapa tombol handphone aku. Tidak lama risa datang dan aku pun segera memanaskan motor lalu menyalakan mesin vespa aku. Saat sudah di atas mototr aku teringat sesuatu dan aku buru-buru masuk kedalam rumah dan mengambil barang penting yang akan kutunjukan kepada risa. Sambil memencet bell aku mengucapkan salam di rumah risa dan tampak suara seorang perempuan menjawab salam aku dan di barengi dengan pintu yang terbuka. Senyum simpul menghiasi wajah gadis itu dengan rambut hitam legam dengan potongan bob klasik dan wajahnya bisa di katakan chinese atau mungkin lebih dominan ala-ala jepang. Pagi itu dia memakai baju biru pudar dengan gambar tempat wisata bali dengan celanan pendek ketat.

Aku pikir yang membukakan pintu adalah risa tapi ternyata orang lain yang baru pertama kali kulihat. Tidak lama aku langsung menjabat kan tangan mbak-mbak itu. Tidak lama dia bilang jika risa ada dan dia sedang dandan mungkin di kamar nya. Di situ aku menunggu risa bersama mbak itu yang namanya fira dan dia adalah sepupunya risa yang tinggal di manado. Mbak fira mengatakan jika dulu pernah bertemu dengan aku di rumah sakit waktu risa masih di rawat. Dia sangat asik di ajak ngobrol. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here