100 Hari Setelah Aku Mati Part 43 : Jangan Menangis, Aku Pergi Tidak Lama Bagian 2

0
35
bukukita.com

Aku menjelaskan jika aku tidak apa-apa dan aku hanya bilang jika terima kasih banyak untuk selama ini sudah mengisi hari-hari aku. Risa tersenyum dan mencubit pipi aku pelan dan aku harus bilang makasih karena diri aku tetap setia padanya. Aku mengatakan jika dirinya mengajari aku supaya tidak gampang nyerah dan kami saling memandang.

Cantik sekali risa ini, ucap aku dalam hati, pantas sangat populer di sekolahnya, tidak lama aku mengajak risa berputar-putar lagi. Aku bertanya apa risa cape namun dia mengatakan jika dirinya tidak cape. Risa juga mengatakan kapan dia bisa jalan lagi dan dia takut lupa cara nya berjalan. Aku pun bilang jika dia tidak akan lupa dan seandainya lupa aku yang mengajarin nya sampe dia bisa berjalan lagi. Dan saat itu aku sambil mendorong pelan kursi roda risa. Dan aku pun bakal dorong kursi ini terus kemana pun kamu pergi.

Waktu memang tidak akan berhenti menjawab sebuah pertanyaan dan pepatah yang berkata biar saja waktu yang menjawab dan tampaknya memang betul ada nya, risa dapat berjalan dan sehat seperti sedia kala. Akan seperti apa kehidupan aku setelah tahun di SMA akan terjawab sebentar lagi. Dia menghirup panjang dan menghembuskannya pelan, ini adalah hari pertama risa berangkat sekolah setelah satu semester tidak masuk dan risa masih menjadi seorang siswi kelas satu sedangkan aku mendahuluinya naik kelas. Dan risa juga memanggil kak pada aku dan aku tidak mau, namun risa tidak mau karena menurut nya aku sekarang kakak kelas nya. Dia mencubit perut aku seperti dulu dan kangen juga rasanya dengan cubitan dasyat nya itu. Menurut risa rasanya lama sekali dan dia tau satu semester tidak masuk dan hari pertama sekolah itu bikin deg-deg an. Aku malu sekarang pake kursi roda dengan nada suara menurun.

Aku mengusap rambutnya yang hitam dan kini semakin panjang dengan pelan dan justru aku bangga dengan nya. Aku pun menyentuh keningnya. Aku bangga untuk kemauan dan tekat risa dan aku yang memilih tidak pindah sekolah dan tetap ingin melanjutkan sekolah di tempat yang sama walaupun harus tinggal kelas. Padahal jika kamu memilih pindah sekolah mungkin kamu tetep bisa naik kelas. Risa bilang jika dirinya hanya ingin dekat dengan aku. Ayah risa pun menititpkan risa ke aku dan ayah risa juga memberi aku semangat dalam bersekolah. Tidak lama yah risa berangkat dan jika ada apa-apa telpon ayah. Aku mendorong kursi roda risa sampai ke halaman depan dan pintu gerbang rumah risa sudah di buka oleh pak suroto tukang kebun di rumah risa. Aku membuka pintu mobil berjenis sedan yang di fasilitaskan om hamzah kepada aku untuk mengantar risa sekolah.

Aku pun mengambil tas risa sambil memegang tas selempang milik risa dan kugantungkan di lengan aku. Dan risa pun sedang membetulkan posisi rok nya. Risa bilang jika rok ini lama-lama makin pendek dan pasti aku di anggap cari kesempatan. Dan aku menjawab siapa juga yang mau paha seperti kalkun. Aku menyampirkan tangan risa kepundak aku dan mengangkatnya pelan dan aku menggendong masuk ke jok depan mobil. Risa tidak lama memanggil aku agar tunggu sebentar ketika aku akan mendudukan nya di mobil. Mobil melaju dengan kecepatan standart membawa aku dan risa ke sekolah, kami sudah berada di sebuah lampu merah dekat dengan pintu gerbang sekolah kami. Risa juga bilang agar aku menemani dia ketika istirahat dan pulang sekolah nanti. Dan aku mengatakan jika aku pasti menemaninya. Aku memarkirkan mobil di parkiran depan dan waktu itu masih belum ada anak-anak SMA yang berangkat sekolah menggunakan mobil. Dan jika ada pun sekolahan ini jadi aku parkir sedikit pinggir samping parkiran guru yang tenggar.

Aku pun mengeluarkan kursi roda risa dan aku keluar dari mobil melihat pemandangan baru di sekolahan ini dan ini adalah hari pertama mos, banyak anak baru yang menggunakan atribut-atribut khas mos. Sedangkan risa tidak di wajibkan mengikuti mos karena dia bukan siswa baru dan harusnya risa tidak perlu berangkat sekarang karena belum ada kegiatan belajar tapi dia merasa harus beradaptasi lagi dan memilih berangkat hari ini. Aku mengeluarkan kursi roda milik risa dan mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Risa bilang jangan menggendong terlalu lama karena dirinya malu. Risa dengan pipi sedikit merah dan aku mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di bantalan kursi roda. Risa membentangkan tangannya dengan kepala menengadah ke atas sambil merem. Aku tersenyum melihat anak ini dan aku mendorong pelan kursi roda risa menuju ruang guru. Aku ingin memberikan surat keringan belajar risa, baru berjalan beberapa meter kami sudah di hadang oleh rombongan teman-teman risa dan mereka memelu nya bahkan menangis. Mereka mengatakan kangen denga risa dan suara-sura jeitan anak cewek cerewet benar-benar membuat bising telinga aku.

Aku melihat wajah risa dan dia terlihat sangat senang dan aku menunggunya sampai rasa rindunya dengan teman-temannya terpuaskan. Tidak lama risa mengajak aku ke kantor guru dan pamit pada teman-teman yang masih merasa kangen. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here