100 Hari Setelah Aku Mati Part 42 : Jangan Menangis, Aku Pergi Tidak Lama

0
39
bukukita.com

Aku bilang jangan bicara aneh kayak gitu dan kamu bakal sembuh, dimana selama proses kesembuhan risa aku janji bakal menjaga dirinya terus dan setelah dia sehat maka aku janji tidak akan biarin dirinya seperti ini lagi. Apapun yang terjadi aku tidak peduli dan jika kamu harus pakai kursi roda seumur hidup kamu setelah ini. Aku bakal ada di samping kursi roda itu seumur hidup aku dan aku bakal nepati janji aku. Aku sayang kamu seperti kamu menyayangi aku, ucap aku kepada risa. Aku berbicara di telinganya dengan setengah berbisik dan risa pun menarik telinga aku dengan pelan dan aku juga mendekati bibir nya. Risa kembali bertanya apakah aku mau menyayangi orang cacat seperti nya? risa berbicara dengan suara serak dan pelan.

Aku juga menjawab kembali jika dirinya sangat sempurna dan lebih dari pantas buat aku. Risa memberikan senyum lega dan bahagia dan dia menyeka air mata di ujung matanya. Risa pun bertanya apa betul diriku merupakan siswa kelas 1 karena sikap aku menunjukan sikap orang yang tidak seumuran dengan risa dan menurut risa sikap aku begitu dewasa. Hari berganti hari, minggu dan bulan juga dan tidak terasa sudah 4 bulan berlalu dan terlalu banyak peristiwa terjadi jika harus di tulis di medsos ini. Kondisi risa semakin membaik dari sebelumnya dan 2 bulan lalu risa sudah di perbolehkan melakukan perawatan dan terapi di rumah. Setiap hari aku menemani risa mengantarnya jika dia ingin pergi, main berdua, melakukan hal-hal ringan lainnya juga berdua. Kami sering belajar bersama dan risa boleh tinggal kelas tapi semangat belajarnya pasca sakitnya bahkan melebihi aku.

Sungguh sangat menyenangkan dan kedekatan aku dengan risa terjlain dengan baik dan semakin lama aku berada di dekatnya aku makin merasa menyayanginya. Walaupun di antara aku dan risa tidak ada kata pacaran dan kami jujur dengan perasaan kami masing-masing. Dan itu membuat kami nyaman. Kita juga masih awal SMA yang penting kita berteman dan saling jujur tentang perasaan kita. Tentunya dengan kamu yang selalu ada seperti sekarang, itu sudah cukup hal itu yang selalu di katakan oleh aku. Dan kehidupan aku sudah satu bulab belakangan ini, aku sudah bekerja sambilan di sebuha pom bensi dan aku berhasil membujuk manager pom bensin itu agar mau menerima ijasah SMP aku untuk bekerja sambilan disana. Aku di perkenankan untuk mengelola sebuah jabatan penting. Saat itu aku mempunyai jabata sebagai petugas kebersihan.

Aku menjadi tukang sapu dan pel disana, jam kerja aku adalah dari jam 3 sampai jam 6 sore, kemudian jam 12 malam samapi jam 5 pagi dan aku bekerja 5 hari dalam seminggu. Aku sangat senang mendapat pekerjaan itu dan mungkin sedikit terkendala dalam mengelola waktu tapi semua dapat di atasi. Setiap pulang sekolah aku langsung menuju tempat kerja aku dan membersihkan halaman dan membersihkan toilet merupakan rutinitas baru aku. Selepas magrib aku selalu menyempatkan mengunjungi risa setiap hari dan aku di perbolehkan bahkan aku memang di minta untuk selalu berada di samping risa oleh om hamzah dan tante ndari. Karena om hamzah dan tante ndari yang harus segera kembali bekerja jauh dari risa. Aku biasa menemani risa sampai dia terlelap dalam tidurnya dan di lanjutkan bekerja menjadi cleaning servis di tempat aku bekerja sampai pagi hari. Di sela pekerjaan aku, aku selalu belajar untuk pelajaran besok meskipun jadi sering ngantuk di sekolahan dan inilah yang harus aku jalani jika memang benar-benar ingin jadi dokter.

Risa meminta kau ke bawah pohon dan risa menunjuk pohon rindang di taman kabupaten sleman. Aku mendorong pelan kursi roda risa dan hari itu hari sabtu sore dan aku libur kerja dan di ajak jalan-jalan oleh risa ke taman alun-alun. Aku sudah di latih naik mobil oleh hamzah dan supaya memudahkan aku jika aku ingin pergi dengan risa. Aku menawarka es krim pada risa dan risa pun mau es krim coklat. Aku memberhentikan kursi roda risa di dekat sebuah pohon yang sangat teduh. Aku tidak menuju ke bawah pohon yang di tunjuk risa karena ada perempuan penghuni pohon itu. Aku membawa risa di sebuah pohon besar yang bersih dari penghuni. Aku bilang pada risa agar jangan kemana-mana dan risa menurut sambil tersenyum. Aku pun memberikan es krim kepada risa. Aku dan risa sangat menikmati sore itu sepertinya aku benar- benar kasmaran dengan anak itu dan risa seperti mengobati lubang-lubang di hati aku, dia mengisi retakan-retakan di hati aku dengan senyuman nya. Sikapnya yang baik dan semangatnya yang luar biasa dan aku merasa bisa menghadapi apapun jika risa selalu bersama aku. Tidak lama risa buru-buru mengelap mulutnya dengan kaos lengan panjang nya yang malah mengotori ujung lengan kaos putihnya. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya.

Dia membersihkan giginya dengan lidah yang membuat wajahnya terlihat semakin lucu. Aku kembali tertawa melihat tingkah anak ini. Aku menggulung ujung kaos risa yang kotor karena bekas es krim coklat itu dengan lembut, kemudian menatapa wajahnya. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here