100 Hari Setelah Aku Mati Part 41 : Satu Tahun Penyembuhan

0
40
bukukita.com

Seperti Menahan sesuatu saat aku menatapnya dan susi meminta agar hujan berhenti dulu, namun aku sambil menggeleng kan kepala. Aku mengatakan jika risa sudah menunggu aku dan aku harus balik sekarang, namun di situ aku pinjem mantel. Susi terdiam dan berlalu sambil mengangguk. Aku pun mengucapkan terima kasih pada susi, aku pun mengusap rambutnya dan mengatakan hari ini menyenangkan. Suso juga berterima kasih karena sudah boleh pergi bareng dengan aku. Aku harus ngebalikin sama yang punya, ucap susi. Dan susi bilang jika aku ini bukan lah milik dia. Aku mencerna kalimatnya dan berusaha memikirkan jawaban perkataan susi tadi. Aku memilih tidak menjawab nya dan hanya mengukurkan tangan untuk bersalaman dengan nya. Susi mengantar aku sampai depan pintu dan aku mengendarai pespa aku dengan pelan. Hujan masih sangat deras tapi paling tidak aku terlindungi dengan jas hujan pinjaman susi.

Tampak dari spion motor aku dan susi masih berdiri bengong du ambang pintu dan sampai aku tidak melihatnya lagi di belokan gerbang. Aku sudah sampai di parkiran rumah sakit dan memokirkan motor menuju mushola karena waktu sudah menunjukan pukul 18.00. Dan setelah aku solat wajib, aku berjalan menuju kamar risa dan mengucapkan salam di depan pintu kamar risa. Tante ndari yang membuka kan pintu. Aku melihat risa dengan sebuah selang masih tertancap di hidungnya dan dia tersenyum sangat manis ke arah aku. Risa terkekeh pelan melihat baju aku yng sangat ketat berwarna kuning dengan gambar bunga. Ini terpaksa daripada basah-basahan sambil dudk di dekat ranjang. Aku mau ambil baju dan keperluan buat risa di rumah dan ayahnya lagi ada dinas penting jadi belum bisa kesini.

Tante ndari berpamitan dengan aku untuk pulang sebentar. Aku dan risa hanya saling memandang beberapa menit, entah apa yang ada di pikiran aku dan risa saat itu. Risa memecah kebisuan diantara kami. Sambil menyinakan beberapa helai rambut risa yang menutupi keningnya. Tidak ada yang bisa aku jodohin obrolan dan aku tidak boleh omong banyak-banyak sama dokter. Suara risa pun kadang masih terdengar lirih dan lemah karena memang kondisi risa masih sangat lemah kadang suaranya bahkan tidak terdengar. Aku mengatakan jika risa akan segera sembuh dan aku sambil menarik selimut untuk menyelimutinya. Aku mengatakan jika aku selalu disini menunggu nya dengan kuat aku meyakinkan risa. Risa kembali tersenyum dan senyuman nya selalu membuat aku rindu dan itu mengembang di wajahnya. Risa mengatakan jika dirinya tidak bisa memasakan aku lagi dan risa bicara dengan nada datar.Aku bilang jika nanti dirinya sudah sehat maka risa boleh memasak sepuasnya untuk aku dan aku cerita jika aku di traktir oleh susi dan risa hanya memandang aku dengan tatapan sayu. Risa sempat menanyakan susi dengan mulut tertahan namun tidak lama aku langsung menyentil hidung mancung risa. Aku langsung menjelaskan jika aku tidak ada apa-apa dengan susi namun hanya kebetulan saja. Risa mengatakan jika dirinya paham dan aku sekarang sedang dalam keadaan seperti ini. Dan risa juga bilang pasti aku bosen dengan keadaannya namun aku segera menjelaskan jika aku akan selalu ada untuk risa. Risa dengan sedih menjelaskan ke aku jika setelah ini hidup nya bakal ada di atas kursi roda dan mungkin aku bakal cacat seumur hidup. Risa juga bilang aku tidak wajib menepati janji aku yang dulu dan kemarin aku ingin berusaha memantaskan diri untuk aku tapi aku sekarang menyadari jika aku dalam keadaan yang sudah tidak mungkin. Seberapa pun aku berusaha aku tidak akan pernah pantes buat kamu dan aku tidak akan sama lagi seperti dulu sambil memiringkan kepalanya ke arah aku duduk 2 titik air mata kembali jatuh ke bantal, ucap risa. Dan risa pun meminta aku agar mempunyai teman baru selalin aku.

Tidak lama aku menyentuh kening risa dan ini lah kali pertama bibir aku menyentuh risa. Aku mengatakan jangan bicara aneh-aneh seperti itu, kamu bakal sembuh dan selama proses kesembuhan risa aku janji akan selalu menjaga risa terus. Setelah kamu sehat dan aku janji tidak akan biarin risa seperti ini lagi dan apapun yang terjadi dengan risa aku tidak peduli. Meskipun risa harus di kursi roda seumur hidup nya setelah ini, aku tidak akan meninggalkannya dan aku akan selalu disamping kursi roda nya seumur hidup aku dan aku bakal menepati semua janji aku. Aku juga bilang jika aku akan selalu menyayangi dan mencintai risa seperti dia menyayangi aku.Ceritanya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here