100 Hari Setelah Aku Mati Part 40 : Orang Lain Seperti Risa Bagian 4

0
90
bukukita.com

Susi bertanya pada aku apakah aku sudah makan? susi mengajak aku makan di luar dan dia sambil muter-muter biar tidak serius tampangnya. Aku menimbang-nimbang ajakan susi dan sesekali aku harus mengiyakan tawaran nya. Susi mengatakan jika dirinya lagi ingin makan MCD. Aku hanya pake pespa butut aku dan jika kamu mau bonceng motor butut, susi pun tertawa. Aku pun ke parkiran dan mencoba mencari helm. Susi berjalan menuju parkiran dan aku segera membereskan buku dan menuju pak bon yang berada dalam sekolahan. Aku membawa helm buluk dari pak bon dan memakainya sendiri dan susi aku berikan helm aku. Tidak iklas aku rambut susi yang bagus jadi kutuan gara-gara helm nya pak bon.

Motor keluaran tahun 67 itu melaju dengan pelan dan sepanjang perjalanan susi sangat cerewet seperti risa dan seperti biasa aku hanya menanggapi ocehan nya dengan adem-adem saja. Langit kota jogja sudah menghitam dan waktu itu adalah bulan maret dimana harusnya hujan sudah jarang-jarang. Entah kenapa dengan hari itu. Aku mempercepat laju motor aku dan kami sudah sampai di parkiran restoran fast food itu. Kami langsung menempati tempat duduk depan jendela besar. Kami memesan pesanan kami masing-masing dan selalu ada saja yang di jadikan bahan obrolan oleh susi. Mulai dari cara berpakaian aku, temen-temen di sekolah, kelakuan konyolnya di rumah dan hal-hal tidak penting lainnya. Selama perjalanan kami hanya diam saja tanpa bicara. Aku pun mengatakan pada susi jika aku akan pergi menunggu risa lagi dan dia pasti juga bosen tiduran terus.

Tidak lama aku mengajak susi untuk pulang setelah kita semua selesai makan dan obrolan yang tidak produktif itu berjalan lama. Susi bilang jika kasian jika risa menunggu terlalu lama nanti. Motor tua aku melaju dengan lumayan kencang dan aku melihat awan hitam yang sudah hitam pekat beserta angin pertanda hujan badai akan segera menyapu daratan kota jogja. Benar saja 5 menit kemudian. Hujan datang dengan angin yang kencang dan posisi kami saat itu berada di lampu merah. Berada di tengah antrian kendaraan dan sangat tidak memungkin kan untuk menepi dan mau tidak mau aku dan susi harus menerima guyuran air hujan. Hembusan angin yang sangat kencang. Seperti tidak sampai disitu kesialan kami karena 2 mobil di depan aku ngadat di tengah-tengah jalan hingga menambah macetnya jalan yang di guyur hujan deras.

Aku pun meminta susi untuk memegang tas aku dan melepas jaket aku berbahan parasit yang kedap air milik almarhum bapak. Aku menyuruh susi memakai tas nya dan aku menyuruh susi agar tas nya di masukan ke dalam jaket dengan nada sedikit berteriak supaya susi dapat mendengar aku. Aku juga bilang supaya susi tidak kebasahan dan aku berusaha melepaskan diri dari antrian lalu lintas yang padat ini. Mencari celah untuk dapat keluar dari jebakan macet. Dan akhirnya kami bisa lolos dan jarak rumah susi sekitar 20 menit. Aku menyarankan untuk menepi tapi susi bilang sudah kepalang basah dan sekalian saja kita hujan-hujanan dan aku menyetujui nya dan memacu motor dengan hati-hati. Suara Guntur bersautan dan aku sempat kaget demikian juga dengan susi yang kinisudah melingkarkan tanganya keperut aku sambil menempelkan kepalanya ke pundak aku. Tampak susi merespon kata-kata aku dengan lebih erat melingkarkan tangan di perut aku. Cukup sulit berkendara di tengah hujan dan angin kencang dengan helm tanpa kaca pelindung. Air hujan yang terbawa angin seperti tusukan jarum yang mendarat di wajah aku.

Setelah mendengar petunjuk rumah susi kami sudah sampai di rumah nya dan sebuah rumah di kompleks perumahan elit bahkan lebih besar dari rumah aku dan rumah risa jika disatukan. Seorang bapak-bapak menggunakan paying berlari untuk membuka kan gerbang. Aku pun menjalankan motor untuk masuk ke rumahnya susi. Aku memarkirkan motor di dekat-dekat mobil bermerek kijang dan baleno. Susi bilang jika hujan badai seperti ini sangat bahaya dan susi menyuruh aku masuk namun aku tidak mau karena baju aku basah. Tapi susi menggandeng aku masuk ke rumah nya dan bagus sekali rumah susi ini. Susi meminta aku menunggu sebentar di teras dan dia langsung berlari ke dalam dan beberapa menit kemudian dia sudah keluar dengan membawa sebuah handuk. Aku pun mengelap badan aku dengan handuk. Susi meminta aku masuk dan aku menunggu di ruang tamu dan dia mungkin menuju kamar nya untuk ganti baju juga.

Aku tidak berani duduk di sofa karena masih basah kuyup dan aku hanya berdiri sambil melihat ruang tamu yang cukup luas itu dan sebuah foto keluarga, ayah nya susi, ibu nya susi dan seorang dengan perempuan yang lebih kecil dari susi dan mungkin itu adiknya. Susi berbicara dari arah belakang aku sambil membawa beberapa pakaian dan aku mengangguk dan di tunjukan kesebuah kamar mandi oleh susi. Aku keluar dengan pakaian yang sanga ketat berwarna kuning ngejreng. Melihat jam tangan sudah hampir magrib dan harusnya aku menemani risa tapi malah terjebak disini. Aku mengucapkan terima kasih sambil melihat mata nya. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here