100 Hari Setelah Aku Mati Part 39 : Orang Lain Seperti Risa Bagian 3

0
88
bukukita.com

Otak di kepalanya tidak parah dan risa masih tampak bingung dan selama beberapa menit dia terlihat seperti memikirkan sesuatu sambil memegangi kepalanya dan meringis kesakitan. Om hamzah berkata pada risa jangan memaksakan diri dan dia segera memanggil dokter kemudian meninggalkan ruangan kami dan terlihat sebuah senyuman iklas yang selama beberapa minggu ini tidak terlihat kini sudah mengembang di wajah beliau. Aku masih terpaku melihat ibunya risa yang menangis bahagia dan tangan kanan risa tidak bisa bergerak karena perban dan gips masih melilit di tangan nya. Begitu juga dengan kakinya risa menggerakan tangannya untuk mengelap air mata di pipi ibunya. Aku sudah berusaha keras dan memang sekarang risa sangat membuat aku kawatir lagi dan aku hanya membatin. Aku masih terpaku di pojok ruangan sepertinya aku menikmati momen ini dan melihat sebuah keluarga bahagia yang sangat bahagia melihat putri cantik semata wayang nya bisa bangkit dari sakitnya.

Entah apa yang mereka bicarakan dan aku tidak memperhatikan pembicaraan antara risa dan ibunya, aku masih asik dengan kalimat syukur dan perasaan yang lega yang berputar di kepala aku. Tidak lama ibu risa memanggil aku dan menyuruh aku mendekati risa, lalu tidak lama aku beranjak dari tempat risa terbaring. Sebuah kata singkat yang keluar dari mulut aku dan aku bingung memilih kalimat yang bagaimana hanya kata itu yang terlintas dan terucap. Risa hanya diam dan beberapa saat kemudian senyum mulai mengembang di wajah nya. Sebuah momen yang benar-benar ingin aku pause jika bisa dan berminggu-minggu tanpa omelan dan tanpa celotehan risa membuat aku kangen. Senyuman risa ini mengobati rasa rindu aku.

Tante pun mengatakan jika risa yang menjaganya saat dia sakit yaitu diri aku dan setiap pulang sekolah dia langsung ke sini nungguin kamu. Belajar sama ngerjain pr juga semua disini. Aku Cuma bisa tersenyum dan aku baru pertama kali merasakan ingin banyak bicara ingin sekali rasanya menceritakan semua yang ada di benak risa. Tapi aku masih menahannya mungkin risa sudah sadar tapi aku yakin masih belum sadar sepenuhnya. Sebuah air mata jatuh membasahi bantal tempat risa tiduran. Dia menangis dan meminta maaf, kemudian beberapa detik kemudian om hamzah sudah di ruangan bersama seorang dokter dan perawat. Risa pun bicara sambil menangis dan aku juga kedua orang tua risa belum sempat menanggapinya karena di haruskan untuk mundur. Dokter harus mengecek keadaan risa pasca sadar.

Aku pun mengatakan jika risa tidak perlu minta maaf dan aku melihat risa dari jarak 3 meter dari tempat nya di periksa dokter. Risa masih menangis dan dia melihat aku dengan posisi kepala miring dimana tatapan yang membuat aku ingin segera memeluk nya dan dia menggerakan bibirnya tanpa bersuara jika di terjemahkan dirinya sayang pada aku. Dokter menghampiri kami setelah mengecek keadaan risa, tante pun masuk menemani risa dan ayah risa ngomong dengan dokter tanpa menjawab tante langsung menghampiri risa. Tidak lama om hamzah menanyakan keadaan risa dan dokter mengatakan bahwa putri nya sungguh luar biasa kuat karena daya tahan tubuh nya yang begitu hebat dimana pada kasus kecelakaan yang demikian sangat kecil harapan seseorang untuk selamat. Namun putri bapak dengan sangat cepat bisa menunjukan kondisi yang stabil. Walaupun dia sempat koma tapi perkembanganya bagus dan radang di otak nya juga menyusut dengan cepat. Tentu kita tidak boleh lengah dan dokter akan melakukan rekam medis untuk memastikan kondisi risa.

Aku hanya memperhatikan pembicaraan beliau-beliau dan aku menghela nafas dengan perasaan pling dan memegang kuat pundak erat. Semangat hidup anak aku juga karena aku, ucap om hamzah. Aku hanya mendoakan namun selebihnya risa benar-benar istimewa. Om hamzah menghampiri risa dan ibunya dan aku mengikuti. Ada perasaan bahagia melihat keluarga utuh itu. Seorang ayah, ibu dan anaknya mereka terlihat bersuka cita. Momen seperti itu tidak akan mungkin aku alami lagi. Om juga mengatakan aku jangan bengong dan aku di suruh ikut duduk jangan sungkan sekarang kamu juga keluarga kami dan suara om hamzah membuat tersenyum lebar.

Kini aku punya keluarga lagi tampak nya dan aku bergumam dalam hati dan aku menghampiri mereka yang menganggap aku bagian keluarga mereka. Hari itu merupakan 9 hari setelah risa sadar dan aku masih di sekolahan. Aku sedang mengurus beberapa perijinan untuk risa. Risa di haruskan menjalani perawatan selama beberapa bulan di rumah sakit dan pengobatan jalan di rumah juga selama beberapa bulan. Jika di hitung mungkin memerlukan sekitar 1 tahun penuh. Ini merupakan semester kedua aku dan risa bersekolah di SMA kemudian bagaimana nasib pendidikan risa? Dengan sangat terpaksa risa harus mengulang di kelas 1 lagi di tahun berikutnya. Aku masih terduduk di sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon ketapang dan aku baru selesai mengurus perijinan tadi dan membuka-buka buku pelajaran untuk besok sambil minum sebuah air putih yang aku bawa dari rumah.
Tidak lama ada yang memanggil aku dan sepertinya aku mengenalnya, betul saja itu susi dan aku pun sambil menoleh sambil menghabiskan bacaan mapel bahasa indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here