100 Hari Setelah Aku Mati Part 37 : Orang Lain Seperti Risa

0
94
bukukita.com

Sosok kecil ini ada penguasanya dan aku membakarnya dengan amalan-amalan aku. Dan dia tidak akan mati, dia hanya akan tersiksa, aku tidak bisa membunuh jin karena mereka memang tidak bisa mati sebelum kiamat. Ketika aku melihat kamu lagi, saat makhluk sepertimu mencoba bermain dengan aku lagi dan aku bersumpah akan membakar nya sampai habis dan memagari tempat kalian ini agar kalian tidak bisa masuk. Makhluk itu mengiyakan perkataan aku sambil berteriak-teriak kesakitan di saksikan makhluk halus lain di sekeliling aku. Aku lepaskan amalan aku dan setelah aku berkedip dimana aku sudah berada di tempat seharusnya. Tampaknya aku terseret kea lam mereka dan waktu tidak berjalan disini dan aku melihat sekeliling langit sore. Dan orang yang lalu lalang di sekitar aku. Aku memegangi kepala dan duduk disebuah bangku.

Kepala aku sakit sekali dan rasa ngeri dan sedih masih berkecambuk di batin aku dan rasa sedih melihat sosok orang-orang terdekat aku akan berakhir tragis. Saya masih terduduk dengan menahan sakit di kepala menggunakan amalan itu seperti beladiri atau aktifitas lain yang membutuhkan tenaga. Aku tidak menggunakan fisik tapi lebih ke batin dan pikiran dan itu membuat efek sakit kepala sekarang. Aku berusaha menahanya dan melanjutkan berjalan menuju mushola dan sekarang aku lebih waspada karena biasanya aku cuek dengan makhluk halus disini. Tapi sekarang aku akan lebih hati-hati, tampak beberapa wanita berbaju putih yang menjauh dari aku karena takut dengan aku. Aku belum bisa menghilangkan ingatan kejadian tadi, seperti semakin ingin aku lupakan tapi justru ingatan-ingatan itu selalu kembali dan melihat teman-teman juga keluarga aku seolah mati.

Aku sudah sampai di mushola dan segera melaksanakan sholat berjamaah dengan beberapa orang lain. Setelah sholat aku masih terduduk di karpet mushola dan aku hanya berdzikir dan berdoa. Memohon ampunan dan perlindungan. Segala puji dan syukur aku panjatkan kepada nya dan aku memohon lindungan agar aku di jauhkan dari syirik dan di jauhkan dari perbuatan yang kau larang lainnya. Dan aku pun mendoakan yang terbaik kepada orang tua aku agar mereka tenang disana. Aku mencukupkan ibadah aku dan kembali ke ruangan risa. Dari kejauhan tampak teman-teman lain sudah berdatangan baik itu yang sekelas maupun tidak sekelas, bahkan beberapa kakak kelas juga hadir di tambah beberapa guru. Risa memang baru kelas 1 tapi dia sudah cukup terkenal di sekolah nya.

Tampak dari belasan orang itu ada seseorang yang akhir-akhir ini memperhatikan aku dan aku melihat susi yang sedang tersenyum ke arah aku. Aku pun bilang pada irwan agar bicara nya di kecilkan jangan terlalu keras. Ada beberapa teman sekelas seperti irawan dan ada juga dina, ani, teman sekelas dam cowok sekelas lain nya yang aku tidak begitu hapal. Beberapa kakak kelas yang sering caper sama risa, mereka semua menyambut dengan muka sinis. Di situ ada bu endah juga sebagai wali kelas kita. Tadi aku langsung ke sini ngebut dan dina meledek aku dengan mengatakan jika risa adalah pacar aku. Seorang guru bp yang terkenal killer bernama bapak toni juga hadir seperti ciri khas guru bp pada umumnya mata nya sangat tajam saat menatap sudah kayak burung elang saja. Beliau di kenal dengan reputasi kejam dalam memberi hukuman dan sering memutilasi mental siswa yang bermasalah dan beliau masih menatap aku dan menghampiri aku. Pak toni dan bu endah di perkenankan masuk bersama ibunya risa ke ruang ICU sedangkan teman-teman lain harus menunggu bersama aku.

Beberapa teman lain ngobrol dengan suara pelan tapi tetap berbisik dan entah apa yang mereka obrolkan dan memang lebih banyak diam. Sekitar 20 menit kemudian pak toni, bu endah dan tente ndari keluar ruangan dimana pak toni berpamitan dengan memberikan dukungan kepada ibunya risa dan diikuti teman-teman yang lain. Mereka juga mengucapkan perasaan simpati dan dukungan kepada ibunya risa. Pak hamzah juga sedang ada pekerjaan jadi siapa tau bisa bantu-bantu disini. Sambil melirik ke arah tante ndari yang tersenyum mendengar perkataan aku. Aku melihat mereka pergi susi sedari tadi hanya diam berkali-kali hanya diam berkali-kali dan aku meliriknya dia sedang tersenyum ke arah aku saat aku tidak menghadapnya. Tapi begitu aku menoleh dia langsung memalingkan wajahnya. Aku masih duduk-duduk dengan tante ndari dan sekedar mengobrol-obrolan ringan untuk memecah sepi.

Beliau langsung mengangkat dan sedikit menjauh, tampaknya itu obrolan penting. Tidak lama tante ndari menitipkan risa sebentar karena akan ijin cuti lebih lama. Setelah magrib nanti tante balik dan nanti juga sebentar lagi bapaknya risa kesini dan tolong jangan tergesa-gesa. Aku nanti malam menginap disini juga dan mau nemenin om hamzah jagain risa. Tidak lama tante ndari kemudian pamit untuk menyelesaikan urusannya. Mungkin risa juga kesepian saat ayah dan ibunya harus bekerja jauh dan lam sama seperti aku dulu tapi risa lebih berhuntung. Dimana waktu menunjukan 16.20 dan aku hanya membuka buku pelajaran dan berusaha mengingat-ingat materi yang 90% tidak masu ke otak aku. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here