100 Hari Setelah Aku Mati Part 36 : Setan-Setan Penunggu Bagian 2

0
90
bukukita.com

Harusnya benda itu selalu kupakai di tempat yang penuh aura orang sakit ini dan aku mengheningkan cipta menundukan kepala sejenak untuk berdoa memohon perlindungan dan saat menunduk ada sekelebat bayangan putih dan ada sesosok jin yang aura nya netral. Sosok anak kecil perempuan berbaju putih, dia berdiri membelakangi aku dimana dia seperti sari. Aku berteriak coba memastikan jika makhluk itu adalah makhluk yang aku kenal dan dia tidak bergeming. Aku berusaha menyapa nya namun dia diam saja dan aku berusaha mendapat perhatian nya dan aku bingung dengan keadaan ini. Baru berjalan dua langkah dengan berlari juga dan aku tertinggal cukup jauh. Aku berteriak-teriak memanggilnya dan dia sama sekali tidak menoleh dan dia malah menjauh makin cepat dan aku melihat dia tidak berlari lagi. Kini dia melayang sejengkal dari permukaan lantai.

Koridor ini seperti tidak ada ujung nya dan nafas aku mulai habis, kaki aku juga sudah lemas karena dari kemarin kurang makan dan tidur. Aku tidak berhenti mengejar sari dan di kejauhan aku melihat jalan buntu. Dan ketika aku lihat sari sudah menembus pintu itu. Aku masih sekitar 100 meter di belakangnya dan aku berhenti di ambang pintu dengan hendel bulat itu, aku berhenti untuk sekedar mengatur nafas. Terdengar suara jedar dimana pintu seperti terdorong tenaga kuat padahal aku hanya menyentuhnya sedikit. Waktu seperti berhenti dan jantung aku juga seakan tidak berdetak lagi. Ruangan ini adalah kamar mayat dan aku berada di sebuah ruangan besar dan luas, bahkan sangat luas mungkin ruangan paling luas yang pernah aku lihat. Di dalam ruangan itu seperti kamar mayat. Tempat tidur dari besi berkarat sangat banyak mungkin puluhan atau bahkan ratusan. Diatas masing-masing tempat tidur ada sebuah kantong mayat yang aku yakin ada isi di dalam nya. Keringat sebesar biji jagung menetes melewati pipi aku.

Aku kembali berbalik dan pintu yang aku gunakan masuk sudah tidak ada dan aku berjalan melewati sebuah kantong mayat yang tubuhnya tertutup resleting dan aku beranikan membuka nya. Di dalam nya aku melihat irawan sahabat aku dan aku mundur selangkah karena kaget dan brak aku menabrak tempat tidur sebelahnya. Aku melihat sahabat aku andi waktu kami smp dan aku nekat membuka satu per satu kantong mayat itu. Aku melihat ani, dina, somad, tio dimana mereka semua teman aku di sekolahan dan aku membuka 2 kantong mayat yang berada di satu tempat tidur. Aku pun mengucapkan kalimat istifar beberapa kali dan aku juga melihat om bowo dan istrinya aku sangat takut kali ini. Ini merupakan pengalaman yang mengerikan bagi aku dimana aku melihat 2 tempat berdoa berjalan sendiri ke arah aku.

Aku ditabraknya pelan dan sebuah tempat tidur berdoa khas rumah sakit diisi dengan 2 kantong mayat. Aku membukanya dengan nekat. Semua yang dekat dengan aku akan mati dengan mengenaskan dan ada sebuah suara mengaggetkan aku. Aku berteriak sangat marah kepada makhluk yang membelakangi aku. Dia berbalik dan ternyata dugaan aku salah dan itu bukan sari sama sekali dan memang itu bukan dia. Makhluk itu memiliki wajah yang hancur dan mata tanpa kelopak mata jadi yang terlihat hanya 2 buaj bola mata yang seperti tertempel di wajahnya yang tanpa hidung. Hanya ada 2 buah lubang hidung dan tanpa bibir di bawahnya gigi yang nyaris ompong terlihat di wajahnya. Dia mendekati aku dan sosok kecil ini berubah auranya yang tadinya netral menjadi sangat gelap hingga membuat kulit aku terasa dingin.

Aku melangkah mundur karena panik dan menabrak tempat tidur mayat itu, kantong mayat itu jatuh di lantai. Kantong mayat dengan isinya berupa wujud jelmaan risa. Dan yang menakutkan adalah sosok risa itu bangkit dengan wajah sangat pucat dan dia memegangi aku, berusaha berontak tapi makhluk itu sangat kuat peganganya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga aku. Ketika itu dia mengatakan kenapa aku membiarkan aku seperti ini dan itu yang membuat aku ngeri dan ketakutan. Dan yang paling membuat takut lagi semua isi kantong itu bangkit dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Mereka hampir mirip dengan zombie dimana sosok orang tua aku menjelma sebagai kedua orang tua aku. Itu benar-benar menyiksa aku melihat perwujudan kedua orang yang paling kusayangi di buat main-main oleh jin jahat.

Di situ bapk dan ibu mengatakan jangan membuat kami menderita lagi karena berpisah lama dengan aku dan matilah sama seperti kami dan kita akan terus bersama. Aku menangis dan marah, namun aku sudah mengumpulkan amalan pemukul tapi apa daya sosok yang aku lihat adalah orang-orang terdekatnya aku jadi tidak bisa melakukan apapun dan seperti berhadapan dengan orang tua lagi dan walaupun aku tahu itu hanya jelmaan jin kotor saja. Sosok kekar berwujud bapak aku ini melingkarkan tangannya ke leher aku. Dengan marah aku mencengkram leher makhluk kecil itu dan mereka semua minta ampun dan teriak kesakitan. Aku melihat sekeliling dan wujud mereka berubah menjadi pocong dan aku yang sudah di hinggapi amarah tidak peduli lagi. Bersambung ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here