100 Hari Setelah Aku Mati Part 35 : Setan-Setan Penunggu

0
85
bukukita.com

Tubuh yang penuh perban itu dan mata yang masih tertutup rapat membuat aku bersedih dan hal buruk malah terjadi pada seorang yang sebaik risa. Sosok periang dan ramah merupakan seorang cewek yang di gilai banyak cowok karena selain cantik pribadinya yang santun dan sederhana akan membuat semua cowok yang mengenalnya jatuh cinta dan hanya cowok gila yang menyia-nyiakan risa. Mungkin aku adalah orang gila itu dan aku menyia-nyiakan perasaan risa dan mungkin betul yang di katakana banyak orang. Kamu baru akan mengerti pentingnya seseorang setelah kamu kahilangan orang itu. Aku tidak ingin jadi orang gila yang menyia-nyiakan perempuan sebaik risa dan risa harus tetap bersama aku. Tidak terasa setitik air mata jatuh dari mata aku dan aku buru-buru mengelapnya dan aku sedang memperhatikan wajah risa dari dekat. Wajah yang di hiasi beberapa luka gores dan wajah yang selama tiga setengah tahun ini menemani aku dengan iklas dan aku masih memperhatikan wajah risa dan aku melihat telinganya dan telinga yang selalu mendengarkan setiap cerita dan keluh kesah aku dengan seksama.

Aku melihat mata nya yang terpejam dan mata yang selalu mempehatika aku. Melihat aku dan member aku perasaan aneh saat matanya bertatapan dengan aku. Aku melihat bibirnya yang tersumpal beberapa selang, bibir itu selalu menyapa aku setiap hari dan menasihati aku dengan kata-kata yang baik dan menyindir aku dengan kata-kata yang biasanya tidak pernah aku mengerti. Bibir itu selalu mengucapkan kata dukungan untuk aku dan kata-kata indah yang selalu menjadi penyemangat aku. Tapi sekarang telinga, mata dan bibir itu tidak bisa merespon aku seperi biasa dan posisi seperti ini membuat aku merasa tidak enak. Seorang yang paling peduli dengan aku dan seorang yang menyayangi aku dengan iklas sedang berada pada masa kritis di hidupnya dan aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbuat apapun.

Aku pun menyapa risa agar dia bangun dan jangan tidur terus dimana minggu depan kan kita mau masak bareng. Inget tidak kamu yang maksa buat belajar bareng terus, ayo bangun biar kita bisa belajar bareng lagi, ucap aku pada risa yang masih tertidur. Sebuah tepukan di pundak mengagetkan aku dan ternyata ibunya risa dan sampai lupa jika di ruangan ini juga ada ibunya risa. Aku buru-buru mengelap wajah aku yang sedikit basah oleh air mata. Ibu nya mengatakan jika risa sudah melewati masa kritis dan sekarang kondisinya sudah stabil. Sebentar lagi jika kondisi membaik akan langsung di operasi dan kata-kata ibu risa membuat aku begitu lega. Aku mengucapkan syukur karena harapan itu masih ada dan harapan untuk terus bersama risa. Harapan aku dan risa tidak akan pernah meninggalkan dan di tinggalkan.

Aku masih melamun di ruangan itu dan kali ini dengan perasaan yang lebih lega. Risa sering cerita tentang aku pada ibu nya dan memang ternyata memang bener-bener anak baik. Aku pun menjawab dengan pelan dan banyak yang kami bicara kan. Tante terlihat antusias mengajukan pertanyaan kepada aku dan aku juga hanya menjawab apa ada nya dari obrolan kami dan aku tau ternyata ibu nya risa ini bekerja di KBRI untuk Thailand dimana beliau langsung meninggalkan segudang pekerjaan nya dan pulang ke Indonesia. Dan terlihat jelas wajah kesedihan pada nya. Meskipun risa selamat kemungkinan dia tidak akan bisa sehat seperti sedia kala dan tadi tante sudah mengobrol dengan dokter sambil dirinya menahan tangis. Aku juga bilang jika risa anak yang luar biasa dan aku tidak peduli apapun keadaan risa setelah ini. Aku akan terus menemani risa sambil aku memegang pinggiran tempat tidur risa yang terbuat dari besi dengan geram. Entah apa alasan aku geram dan aku kembali melihat risa yang masih tertidur dan si comel ini malah terlihat aneh saat hanya berdiam seperti sekarang.

Jam 3 sore aku masih duduk-duduk dengan tante ndari dan waktu solat ashar sudah dekat. Aku berjalan menuju mushola dan perut aku sudah keroncongan karena hanya disi sepotong roti pemberian susi. Aku mencoba menahan lapar ini karena uang aku memang sudah sangat tipis. Berhuntung tanggal itu adalah tanggal tua jadi sebentar lagi aku akan mendapat pemasukan, sepanjang jalan menuju mushola aku banyak melamun, entah apa, aku lupa dengan yang aku lamunkan. Aku berjalan sendiri dan tidak ada orang sama sekali dan aku baru sadar harusnya mushola sudah dekat tapi sebelah mana. Perasaan aku tadi aku sudah menuju mushola tapi jalan ini asing buat aku. Aku yakin aku sedang di main kan makhluk halus. Pandangan di sekeliling lorong menjadi gelap seperti malam hari dan tempat yang terang adalah sebuah koridor lurus yang sangat panjang. Hampir mustahil rumah sakit ini mempunyai koridor sepanjang ini. Jalan sepanjang koridor di terangi dengan sebuah lampu kecil berdebu di langit-langitnya. Aku ragu untuk melangkah aku hanya terpaku diam dan menganalisa keadaan ini dan aku yakin sedang di jebak untuk di kerjai. Aku merogoh saku aku dan cincin pemukul makhluk halus aku tertinggal di tas. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here