100 Hari Setelah Aku Mati Part 34 : Kamu Harus Tetap Bersama Aku Bagian 3

0
91
bukukita.com

Susi bilang dia akan dia akan memberitahu teman-teman nya agar aku tidak terganggu. Susi pun tau jika aku bukan tipikal orang yang sering banyak bicara dan akhirnya perlahan aku pun menceritakan apa yang terjadi pada risa. Akhirnya setelah cerita aku berdiri dan ingin mencari tempat lain tapi sedetik kemudian tangan susi menari aku. Susi memaksa aku untuk duduk lagi dan aku agak sedikit kesal, susi mengatakan jika bekal roti bakar sama selai dan dia meminta aku untuk menemani nya. Aku mengatakan jika sampai sekarang aku masih sensitif dengan kata teman karena dulu predikat teman sangat sulit aku dapatkan namun sekarang aku sudah di akui sebagai teman oleh banyak orang dan aku memilih duduk seperti yang di minta susi. Dengan senyum manis susi menyuruh aku minum dan aku menerima the botol itu dan meminumnya lewat sedotan, aku melirik ke arah susi dan susi juga termasuk kembang sekolahan.

Dia banyak di sukai karena selain cantik dan tubuhnya yang berisi dia juga berprestasi dalam bidang seni seperti menggambar, bernyanyi dan tari klasik. Semenjak tadi malam tenggorokan aku belum kemasukan makan dan minuman dan mungkin emosi aku juga di pengaruhi asupan gizi yang kurang. Susi bilang jika diriku belum makan sejak tadi malam, susi mengatakan jika diriku boleh cuek tapi jangan cuek pada sama keadaan sendiri. Susi menatapa aku dengan mata sayu dan suaranya terdengar sedikit bergetar. Aku pun mengucapkan terima kasih dimana saat itu susi tersenyum sangat manis. Wajah susi ini cantik dan bisa di kategorikan seperti risa dimana wajah nya tirus tapi tidak terkesan kurus, bibirnya tipis dengan hidung yang mancung seperti risa dan mungkin yang membuat dia menarik adalah rambut yang agak kemerahan dan bergelombang di bagian bawah dan mungkin dia memang oriental. Saat itu pun suara aku sedikit aneh karena mulut aku penuh dengan roti.

Susi menanyakan seberapa penting risa dalam hidup aku. Aku berusaha menelan roti yang belum terkunyah di mulut aku bulat-bulat dan minum banyak-banyak untuk memudahkan makanan itu masuk ke perut aku. Aku pun menjawab jika risa lah orang yang paling memahami aku dan dia yang paling mengenal aku dimana dia yang pertama mengakui aku. Dia serba pertama di fase hidup aku yang baru dan dia yang membawa aku ke sebuah warna baru di hidup aku. Dia penyemangat aku dan wajar kayaknya jika aku sampe sebegini khawatirnya sama dia. Aku merasa hanya dia yang bisa mengerti dan memahami aku dan dia satu-satunya yang membuat aku merasa enggak sebatang kara. Aku diam dan berfikir kira-kira jawaban seperti apa yang akan kukatakan. Susi berkata jika risa berhuntung bisa mengenal kamu.

Aku pun mengatakan kembali jika aku yang berhuntung mengenal nya dulu dan susi juga mengatakan seandainya aku mengenal diri aku lebih dulu. Dan susi menjelaskan andai dia mengenal aku lebih dulu dan lebih cepat dari risa. Setelah kata-kata itu susi berdiri dan menuju kelas nya dan baru beberapa langkah dia membalikan badanya ke arah aku dan berkata aku harus semangat dan nanti aku akan menyusul menjenguk risa. Dia juga bilang jika risa pasti sembuh dan jika dia sudah sembuh suruh dia jaga kamu baik-baik dan jika tidak dia harus hati-hati sama aku. Aku pun heran dengan sikap aneh susi. Tidak lama suara bel sekolah berbunyi nyaring dan panjang dimana saat itu irawan memanggil aku dari kejauhan dan aku sudah berlari menuju parkiran motor. Aku pacu motor milik bapak risa ini dengan kecepatan penuh dan aku ingin tau keadaan risa sekarang.

Aku melihat risa sudah bangun dan sudah membuka mata nya dan pas aku sudah nyampe, aku ingin liat dia bangun. Aku sudah sampai di depan ruangan dimana risa di rawat namun aku mencari om hamzah tidak ada dan aku melihat dari jendela kaca pintu risa masih belum sadarkan diri dan seluruh badanya seperti di perban di tambah gips di tangan dan kakinya. Sedih sekali aku melihatnya karena risa yang aku kenal energik kali ini hanya tertidur di kasur ruang ICU. Saat itu aku mencoba membuka pintu ruangan itu ternyata di dalam ada ibu-ibu yang menepuk pundak aku dan aku mengatakan jika aku adalah teman risa. Tidak lama ibu risa seperti sudah mengenal aku dan seperti sudah tau nama aku. Akhirnya ibu nya risa menyuruh aku menggunakan baju streril terlebih dahulu. Saat aku lihat tante ndarimerupakan orang yang cantik dan di usianya yang mungkin sudah kepala empat tapi wajah dan tubunya masih terlihat muda dan segar dan mungkin risa mewarisi bakat cantik dari ibunya ini.

Aku mencuci tangan dan melepas sepatu kemudian aku di haruskan memakai baju yang berwarna hijau dengan penutup kepala dan ini aturan jika ingin menjenguk pasien ruang ICU. Wajah risa masih terlihat cantik seperti biasa meskipun sebuah selang dan sesuatu yang bening menutupi mulut dan hidung nya. Itu tidak mengurangi nilai kecantikan nya di mata aku. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here