100 Hari Setelah Aku Mati Part 33 : Kamu Harus Tetap Bersama Aku Bagian 2

0
88
bukukita.com

Namun aku yakin itu merupakan suami dan anak dari ibu yang meninggal saat melahirkan barusan. Terlihat jelas karena aku melihat arwah seorang perempuan dengan wajah tersenyum sedih berada di dekat mereka. Arwah itu tampak membelai kepala bapak itu sambil menangis dan tersenyum dalam waktu yang sama dan sepersekian detik kemudian dia menghilang. Pergi ke alam kubur dan meninggalkan dunia yang fana. Dengan meninggalkan suami dan putranya yang masih sangat kecil dan apakah ini yang dulu di maksud sari. Dan mungkin sesaat setelah kematian orang tua aku dulu mereka juga mengunjungi aku juga. Pengalaman ini sangat mengerikan dan menyentuh betapa seseorang tidak akan bisa melawan takdir dan aku mendoakan arwah wanita itu agar bisa mendapat tempat yang layak di alam kubur dan aku menoleh ke kiri dan kanan.

Memastikan tidak ada arwah yang baru di cabut dari raga nya terutama aku ingin memastikan arwah risa masih berada di raga nya yang tertidur. Aku tidak henti-hentinya berdoa dan malam itu untaian dzikir juga terucap pelan dari mulut aku dan aku melangkah keluar dan ruangan dan melihat om hamzah duduk dengan kepala menunduk. Tampak di mulutnya ada sebatang rokok filter persis seperti milik almarhum bapak dulu. Tampak om menegur aku dan membuyarkan lamunan beliau. Aku menggeleng dan aku melirik ke jam tangan aku jam3 pagi dan artinya aku hampir tidak tidur hari ini. Setelah risa sehat apakah aku boleh terus bersama risa dan menjaga nya. Aku akan menjadi penyemangatnya seperti risa yang selalu menjadi penyemangat aku.

Ayah risa pun bilang tentu saja boleh karena menurut ayah risa jika risa merupakan anak semata wayang nya dan untuk saat ini berteman saja dulu kalian yang masih muda. Waktu berjalan terus dan aku habiskan dengan mengobrol dengan om hamzah dan beliau menceritakan kronologi kejadian itu. Entah berapa lama aku berbincang dengan om hamzh dan sampai adzan subuh berkumandang. Tidak lama aku dan om hamzah menuju mushala di komples Rs. Aku mengangguk dan aku pun di nasehati om agar aku tidak bolos. Dan om meminta aku membawa kan surat ijin sekolah risa. Namun saat itu aku minta tolong untuk meminjam motor karena ketika ke rumah sakit aku naik mobil dan nekat karena motor aku macet. Dan sekarang pulang nya aku tidak berani lagi. Sepanjang jalan pulang pikiran aku kosong dan aku hanya melamun sepanjang jalan apalagi hal yang kulamunkan selain risa.

Aku sampai rumah dan bersiap berangkat sekolah dan sudah hampir 3 minggu aku tidak sekolah. Sudah banyak sekali pelajaran yang ku tinggalkan. Aku mengecek dompet dan tinggal hanya ada selembar uang 20 ribu dan hanya tinggal uang aku satu-satu nya. Aku tiba di sekolah dengan lesu seperti semangat belajar aku sudah luntur dan belum banyak atau mungkin belum ada yang tau tentang keadaan risa. Banyak yang menyambut aku dengan sapaan dan ucapan berbela sungkawa untuk meninggalnya bapak. Guru-guru aku juga demikian beliau-beliau juga menyampaikan bela sungkawa dan dukungan buat aku. Jam 07.15 dan pelajaran jam pertama akan segera di mulai dan aku duduk bersama irawan. Surat izin risa sudah aku sampaikan kepada guru piket karena aku memang tidak sekelas dengan risa. Hari itu sangat menjemukan buat aku dan sama sekali materi yang di berikan guru tidak bisa masuk ke otak aku. Di dalam otak aku hanya ada risa dan risa. Begitu banyak pikiran aku mengenai risa dimana jam istirahat aku di serbu anak-anak kelas lain, mereka berebutan menanyakan keadaaan risa dan nampaknya mereka sudah tau risa mendapat musibah.

Sekarang risa koma dan dia di rawat di Rs sarjidto dan aku tidak menanggapi pertanyaan yang tidak terlalu penting dan aku hanya menjawab seadanya. Aku pun menjawab jika risa kecelakaan. Aku pun meninggalkan meja aku dan meninggalkan kerumunan teman-teman aku yang lain. Aku duduk di sebuah bangku panjang yang berada di koridor samping kelas aku yang tampaknya sepi dari gangguan. Tidak lama susi memanggil aku, aku merasa sedang tidak ingin di ganggi dan rasanya jengah di tambah rasa kantuk yang membuat aku semakin tidak bisa berkonsentrasi. Ketika susi memberi aku dukungan di samping aku, aku tidak terlalu menghiraukan kehadiranya. Ketika itu pikiran aku sangat penuh dan belum bisa diisi apapun. Susi pun bilang jika dia paham jika aku sedang dalam keadaan tidak karuan namun aku harus ingat jika teman risa bukan hanya aku saja. Aku dan teman-teman juga pengen tau keadaan nya.

Tidak lama aku meminta maaf pada susi dan aku mengatakan jika aku sangat kawatir dengan keadaan risa saat ini. Susi pun mengatakan jika mereka semua juga menghawatirkan risa saat ini. Susi pun melakukan pendekatan dengan kalimat masuk akal, itu membuat aku sedikit melunak. Aku kemudian memberitahu susi tentang keadaan risa dan mengetahui kejadian itu sampai menimpa risa di kamar mana risa di rawat. Susi mencoba memberitahukan kepada teman-teman nya jika aku sedang dalam keadaan yang sensitif dan kurang baik. Cerita nya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here