100 Hari Setelah Aku Mati Part 32 : Kamu Harus Tetap Bersama Aku

0
88
bukukita.com

Aku masih termenung dengan mata yang hampir menangis dan aku mematung di depan tirai dan melihat seorang yang sangat aku kenal yaitu risa, dimana dia sedang di berikan pertolongan oleh beberapa dokter dan dia tidak sadarkan diri. Aku melihat kasur tempat risa di tidurkan penuh dengan darah dan aku melihat tubuh nya juga penuh dengan luka. Entah berapa menit aku berdiam diri disana dan kaki aku terasa lemas tapi kaku, seseorang dengan seragam hijau menarik aku. Pasien harus mendapat perawatan karena kondisinya menghawatirkan dan mohon beri ruang. Pasien akan di pindah ke ruang ICU dan aku tidak berkata apapun. Aku melangkah mundur dan melihat risa yang di bawa pergi dengan tergesa-gesa oleh tim medis.

Aku yakin jika risa tidak akan mudah meninggalkan aku semudah ini. Dan aku berdoa pada Allah agar risa di berikan hidup dan pikiran buruk aku akan aku ganti dengan prsangka yang baik. Aku terduduk di sebuah kursi dan aku menyenderkan kepala aku pada sebuah plan besi yang entah apa fungsi nya. Trauma itu kembali saat melihat keadaan risa dan rasa enak di dada yang baru sekitar sebulan aku alami kini memenuhi dada aku dan membuat aku seolah sulit bernafas dan aku sangat takut saat kematian sangat dekat dengan orang terdekat aku. Aku hanya berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan aku. Tidak lama ayah risa datang dan membuyarkan lamunan aku. Pak hamzah pun menyuruh aku agar tidak berfikiran buruk dan sekarang risa sedang di rawat intensif jadi lebih baik kamu tenang, ucap ayah risa. Beliau pun tampak kawatir dan tampak gelisah juga sama seperti aku. Aku memperhatikan pak hamzah sedang menelpon seseorang dan aku kembali melamun.

Aku masih berharap risa menepati janji nya pada aku. 1 jam berselang dari pertama aku tiba disini, waktu yang harusnya tidak lama itu terasa sangat menyiksa aku. Setiap seorang dokter atau perawat keluar dari sebuah ruangan dan aku langsung menanyainya bahkan tidak peduli apa dia dokter atau perawat yang menangani risa. Aku melirik om bowo yang juga sama gelisah nya dengan aku dan tampaknya beliau sedang menelpon ibu nya risa. Aku melihat seorang dokter di ambang pintu ruangan dan dia menganggukan kepala kepada aku. Seperti langsung paham aku menyenggol om hamzah untuk menengok dokter itu dan kami buru-buru mendekati nya.

Dan berdasarkan pemeriksaan dokter bahwa risa mengalami koma karena pendarahan dan benturan yang sangat keras. Risa pun harus melakukan perawatan insentif dan operasi karena tulang tangan dan kaki nya patah dan 2 tulang rusuk nya juga patah. Benturan di bagian kepala belakang membuat radang otaknya, sungguh mujizat dia masih selamat. Akan tetapi kita tidak boleh lengah dan harus terus berdoa agar keadaan nya bisa cepat stabil lagi dan kami bisa melakukan tindakan medis lainnya. Ekspresi wajah om hambzah terlihat cemas dan beliau menelpon seseorang, entah siapa. Aku hanya terganggu dengan emosi yang bercampur aduk dimana pikiran aku melayang tentang keadaan risa. Apapun keadaan kamu besok aku bersumpah tidak akan membiarkan kamu seperti ini lagi. Aku berjalan mendekati om hamzah yang berada di luar pintu dan menunduk lesu dan beberapa anggota kepolisian juga ada disampingnya. Ayah risa juga mengucapkan terima kasih karena aku sudah datang dan sekarang kamu pulang saja dan ayah risa bilang jika aku besok harus sekolah biar aku yang jaga risa sampe ibunya besok pulang ke sini. Aku terduduk lemas dengan tangan yang mengepal kuat dan aku ingin menangis. Akan tetapi aku tahan dan bahkan pikiran akan kehilangan risa pun tidak pernah terlintas sebelumnya. Sampai saat ini dimana sekarang risa terbaring dan sedang berjuang antara hidup dan mati nya.

Aku membayangkan bagaimana keadaan aku tanpa risa dan risa itu adalah orang yang selalu ada buat aku. Ketika bapak dulu di nyatakan hilang risa datang dengan membawa harapan bapak akan selamat. Akan tetapi takdir berkata lain saat bapak harus meninggal tapi kemudian risa datang lagi dan membawa harapan jika aku tidak benar-benar sendiri. Karena ada dia dan ada risa yang membuat aku merasa tidak sebatang kara. Akan tetapi jika risa juga di takdirkan pergi apakah harapan lain masih ada. Semalaman aku tidak bisa tidur dan hanya bisa melihat ke awing-awang. Memikirkan banyak hal yang sudah aku lalui dengan risa. Aku malah frustasi seperti de javu dan cukup orang yang aku sayangi harus mati dengan tragis dan jangan ada lagi, ucap aku. Jika engkau menginginkan nyawa maka tukarlah nyawa risa dengan aku dan biarkan dia hidup.

Aku beranjak dari kursi panjang yang kugunakan tiduran dan melihat beberapa keluarga pasien ruang ICU lain. Tadi baru saja aku mendengar ada kabar bahwa seorang ibu muda meninggal saat melahirkan putra keduanya. Namun tragisnya anak yang di lahirkan nya ikut meninggal. Aku melihat keseberang ruangan dan tampak seorang bapak sedang menunggui anak nya yang mungkin masih berusia 3 tahun yang tidur beralaskan sarung di sebuah kursi ruang tunggu. Cerita bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here