100 Hari Setelah Aku Mati Part 28 : Semua Akan Kutanggung Bagian 2

0
34
bukukita.com

Irawan pun bilang tumben omongan aku seperti orang idiot sambil menepuk pundak aku dan dia bilang jika aku sudah di anggap seperti sodara nya. Aku hanya tersenyum dan senang mendengarkan teman-teman aku sangat memahami aku. Susi bilang jika aku hebat bisa sejauh ini dan jika dia yang mengalami dia tidak akan tau harus bagaimana. Aku mengatakan jika aku menjalani apa yang sudah di timpakan oleh Allah dan keadaan abnormal ini serta kepergian bapak dan ibu semua merupakan takdir Allah. Memang sakit bahkan dulu aku sering mengutuk Tuhan tapi sekarang aku coba lebih iklas dan semuanya aku tanggung, ucap aku. Lagi-lagi mereka diam seperti memikirkan kata-kata aku barusan dan hening selama beberapa menit dan irawan memecah kebisuan diantara kami. Irawan mengajak kami menonton tv. Obrolan kami masih berjalan dengan biasa lagi namun di selingi dengan tertawa.

Jam 5 sore teman-teman aku pamit untuk pulang dan aku mengatakan agar irawan mengerjakan Pr nya agar tidak nyontek terus. Namun irawan bilang dia kasihan dengan aku jika nilai aku tersalip. Susi dan ani juga berpamitan sebelum pulang membonceng motor ani, susi membisikan sesuatu jika risa beruntung mempunyai aku. Susi kemudian berlalu dengan kaki yang masih pincang sambil tersenyum dan aku menghela nafas. Aku kembali masuk ke dalam dan risa sedang membereskan gelas kotor dan membawanya ke dapur. Saat itu memnaggilnya ketika dia sedang mencuci gelas. Aku berterima kasih pada risa karena dia selalu menemani aku. Risa pun tersenyum manis dan perempuan sempurna ini selalu ada buat aku dan aku pun tidak lama membantu nya mencuci gelas tadi dan menaruh nya di rak piring dan gelas. Sehabis solat magrib aku pun ingin belajar kembali. Risa pun minta agar aku mengantar nya pulang karena ayahnya ingin bertemu dengan aku.

Dan tidak lama risa menyurh aku segera solat agar aku bisa segera mengantarnya. Singkatnya aku sudah berada di garasi dan memanaskan motor vespa aku dan sudah berdebu sekali karena memang ini motor sudah butut. Vespa itu merupakan vespa kesayangan bapak aku dan aku memang lebih sering keluar dengan sepeda aku dari pada memakai motor. Aku pun bergegas karena takut kemalaman dan aku pun tidak lupa menyuruh risa menutup pintu semua nya. Aku pun tertawa-tawa di atas motor ketika aku menyuruh risa mengunci pintunya. Tidak lama kami pun berangkat menuju rumah risa dan aku beberapa kali di tunjukan arah ke rumah risa tapi memang baru kali ini aku akan kesana. Aku pun tanya kenapa bapak nya risa ingin bertemu dengan aku.

Namun karena suara vespa aku yang terlalu kencang risa tidak mendengar pembicaraan aku. Dan akhirnya kami pun sampai di depan rumah risa dan di depan aku sebuah rumah yang ekstra besar, aku kaget ini rumah kayak hotel aja segede ini kah rumah risa. Pintu pagar risa di buka kan oleh ibu-ibu. Aku pun baru saja turun dari motor tapi sudah ada seorang yang tinggi gede dengan brewok yang di cukur rapi, pawakannya sebesar bapak aku dulu. Akan tetapi jika bapak wajahnya bersih dari kumis dan jenggot sedangkan orang ini memiliki bulu yang banyak dengan perawakan yang sangat kekar. Seketika aku berfikir apa itu ayah risa? tidak lama ayah risa menegur risa kenapa jam segini baru pulang? risa hanya menunduk saja dan tidak lama aku bilang maaf karena risa di rumah aku maka dia jadi terlambat pulang dan risa bilang om katanya ingin bertemu aku. Saat itu aku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dan tidak lama juga yah risa bilang jadi ini yang namanya rizal. Aku pun kaget sambil memandang risa dan risa hanya diam sambil menunduk. Sepertinya ayah nya lumayan galak. Aku pun di persilahkan duduk di ruang tamu yang di hiasi dengan interioir yang bagus dan aku tidak henti-henti kagum dengan rumah ini dan jauh banget dengan rumah yang aku tinggali.

Menurut ayahnya jika risa sering menceritakan aku dan ayahnya bilang jika dia tidak masalah jika risa berteman dengan aku tapi harus tau dulu asal usul aku, ucap ayah nya. Aku pun menjelaskan jika orang tua aku sudah meninggal dan ibu aku dulu pegawai bank kemudian meninggal di tahun 95 dan bapak aku seorang tentara AD baru meninggal sebulan yang lalu. Aku juga cerita jika aku sekarang tinggal sendiri, namun aku menjawab dengan nada suara datar tapi keras supaya tidak terkesan menyedihkan. Dan ayahnya nanya lalu biaya hidup aku bagaimana? aku menghela nafas panjang dan aku menjelaskan lagi jika aku hidup sendiri dari uang pensiun almarhum bapak dan aku rasa cukup untuk tabungan. Sekarang aku pun sedang cari kerja sambilan untuk biaya oprasional sekolah, ucap aku pada ayah nya. Dan aku juga bilang aku masih sangat bersyukur selepas kepergian kedua orang tua aku di tinggali banyak fasilitas seperti rumah layak dan kendaraan. Aku juga bilang jika aku yakin banyak anak tidak seberuntung aku. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here