100 Hari Setelah Aku Mati Part 26 : Teror Lereng Merapi Bagian 5

0
85
bukukita.com

Pak jemino pun ingin mengambil obat urut dan kami di suruh beristirahat sebentar. Tidak lama mereka berdua menuju dapur dan berlalu begitu saja. Dapur yang mungkin berisi jasad korban mereka sebelumnya dan aku melihat teman-teman aku dimana keadaan mereka amburadul seperti aku tapi terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Irawan mengeluarkan ht dari sakunya , aku pun berfikir keras untuk kabur sambil membawa teman-teman aku dan jika ada kesempatan mungkin hanya ini. Jika kami tetap disini entah apa yang terjadi tapi jika kami kabur entah apa juga yang akan terjadi pikir aku. Baru saja ingin mengatakan sesuatu pak jemino sudah ada di ruangan kami. Orang tua itu membawa sebuah botol dan beberapa pakaian dimana dia menyerahkan kepada kami botol itu. Pak jemino meyuruh kami ganti baju yang sederhana yang dia berikan. Pak jemino pun mengatakan jika itu adalah pakaian anak nya dan teman-teman aku langsung menerimanya dan mengganti pakaian di ruangan yang di sediakan.

Aku terduduk mematung dan berada satu ruang sendirian dengan makhluk yang mengaku pak jemino itu. Disusul manusia jadi-jadian bernama bu yati sambil membawa satu nampan penuh berisi makanan dan minuman. Aku pun mengatakan jika mereka sungguh hebat. Pak jemino pun mengatakan bahwa aku berilmu tinggi karena bisa tau secepat itu bahkan orang berilmu sekali pun belum tentu bisa membedakan kami. Aku pun berkata apa maksud mereka dan tidak lama mereka bilang jika aku ingin mengakhiri kami maka akhiri kami dengan cepat. Baru saja mau menanggapi bicara dengan mereka teman-teman aku sudah keluar kamar dan aku hanya bisa mengunci mulut aku rapat-rapat. Bu yati pun menyuruh teman-teman aku untuk makan sama-sama. Kami pun sudah berada di sebuah meja makan dengan makanan dan minuman sudah tersaji di depan kami. Disini simbok dan bapak Cuma makan hasil bumi seperti jagung dan ubi.

Makasih sudah menolong kami semua ujar irawan pada mereka. Teman-teman aku langsung menegak minuman itu banyak-banyak dan kami memang sangat kehausan. Tidak terkecuali aku, aku haus tapi ragu dengan apa yang disajikan dan aku hanya menatap gelas di depan aku karena aneh menurut aku. Ini air minum biasa bukan darah cemani atau darah burung gagak seperti yang biasa makhluk halus lainnya minum. Pak jemino menegur aku agar aku jangan bengong saja dan minum lah minuman itu juga jangan merasa takut karena yang tersaji ini semua nya halal. Tampaknya anggapan aku salah tentang mereka karena ini merupakan aura positif sama seperti aura milik sari dan suara itu tidak terdengar menyeramkan. Ani teman aku pun mengatakan agar aku menghargai mereka karena sudah di persilahkan.

Aku pun menuruti nya dan meminum air itu dan benar-benar biasa dan malah sangat segar batin aku. Aku berusaha tidak curiga dan nekat menyantap apa yang tersaji di depan aku. Selama makan pak jemino menceritakan desa ini dan desa ini pun mempunyai nama. Aku tidak pernah mendengar nama itu dan aku yakin hanya di buat-buat. Dia menceritakan kehidupan disini dan mengatakan bahwa dia adalah lurah dan aku yakin mereka penguasa disini. Mereka juga menceritakan keluarga mereka dan almarhum putra putri mereka dan beberapa nasihat juga di sampaikan kepada kami seperti mengenai ibadah, berdoa, belajar dan lain-lain. Mereka tampak seperti benar-benar manusia dan orang tua yang ramah.

Makan malam itu kami cukup kan dan irawan meminta izin mengecas batre ht. Setelah itu irawan dan susi masih di obati lukanya dan di pijat. Ani dan dina juga sama karena banyak sekali luka lecet mereka terkecuali aku. Aku hanya membisu sambil memperhatikan mereka. Dan setelah selesai kami di persilahkan istirahat dan besok pagi kami akan di bantu untuk bertemu dengan rombongan kami. Kami sudah berada di sebuah kamar dan irawan juga aku tidur di sebuah kamar dengan kasur tua sedangkan 3 cewek lain nya berada di kamar sebelahnya. Terlihat wajah irawan masih syok dan aku tidak ingin mengatakan hal yang membuatnya takut. Dia sudah tiduran dan tidak berselang lama nampaknya dia benar-benar terlelap karena kelelahan.

Aku keluar kamar dan menutup pintunya dan aku mencari 2makhluk itu dan mereka sudah duduk berhadapan di meja makan yang kami gunakan tadi. Mereka sudah berujud asli mereka dan aku meminta penjelasan dari mereka alasan mereka menolong kami. Bu yati menanyakan apakah aku beragama dan harusnya aku tau tidak semua bangsa kami jahat. Pak jemino bilang jika aku merupakan anak emas dan jika tidak ada aku mungkin teman-teman aku sudah mati lemas di hutan bersama jin hitam itu. Aku pun memastikan apa kalian tidak bermaksud buruk pada kami. Pak jemino menjawab tentu saja tidak karena mereka adalah jin muslim dan aku penguasa disini, jadi kami semua tidak akan di ganggu oleh jin jahat. Aku pun meminta maaf karena belum bisa percaya dan bu yati pun bilang jika aku melakukan hal yang benar. Tidak lama pak jemino memegang kening aku dan tidak lama pula aku pingsan. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here