100 Hari Setelah Aku Mati Part 25 : Teror Lereng Merapi Bagian 4

0
83
bukukita.com

Suara-suara alam yang lain dan para cewek mulai menangis, mereka ketakutan bagaimana caranya pulang atau paling tidak selamat. Kami bahkan tidak membawa barang apapun bahkan baju basah yang kami kenakan juga benda-benda lain yang menempel. Aku sangat ketakutan sama seperti mereka tapi aku mencoba tenang dan mencari solusi dan irawan yang biasanya cerdas juga nampak diam karena syok. Tiba-tiba kami melihat sinar dan ternyata itu sinar lampu. Pernyataan aku di benarkan oleh irawan dan tampak wajah teman-teman aku membaik seperti harapan beru. Kami pun menyebrang anak sungai itu meskipun tidak dalam yang mengganggu kami yaitu airnya sangat dingin. Tubuh kami menggigil kedinginan, namun saat itu kami berjalan cukup jauh mungkin sekitar 1 km. Dengan keadaan tubuh seperti ini, ini benar-benar menyiksa. Susi tidak lagi aku apa-apa kan dan dia muntah-muntah sepanjang jalan.

Dan sekarang dia aku gendong dan akhirnya sampai di sebuah perumahan. Sudah ada listrik mengalir dan jalan aspal dimana waktu menunjukan jam 22.30 malam. Ada satu hal yang terbesit apakah kami terlalu jauh kesasar dan mungkin sampai ke daerah sleman. Ketika itu memang jarak desa itu hanya beberapa km dari puncak merapi. Kami berjalan menuju jalan dan di pinggiran jalan ada seorang bapak dan ibu, mungkin suami istri. Mereka menanyakan ada apa dengan kami, kami berbicara dan menjelaskan secara singkat jika kami terpisah dari rombongan pendaki. Nama bapak itu bapak jemino sedangkan nama ibu itu adalah ibu yati dan begitu aku bertatapan mata dengan mereka aku tau bahwa mereka bukan manusia dan aku melihat beberapa orang di belakang jendela rumah mereka. Mereka semua di kampung ini adalah hantu dan bukan lah manusia.

Aku bingung apa yang harus aku lakukan dan aku harap yang aku temukan adalah perkampungan penduduk agar kami bisa meminta pertolongan namun justru kami terjebak di sebuah perkampungan jin. Keringat mulai mengucur dan aku sudah lama tidak mengalami ketakutan yang demikian, sungguh sebuah kejadian yang kali ini menimpa aku. Di tambah kenyataan aku sedang bersama teman-teman yang tidak tau apa-apa. Pasangan orang tua itu nampak melihat luka dari irawan dan susi dan aku hanya diam. Mulut aku kaku dan aku ingin langsung menanyai 2 pasangan itu. Aku terlalu lelah bahkan untuk berdiri kaki aku sudah gemetaran. Amalan penangkal dan pelindung makhluk halus pun tidak akan berfungsi jika tanaga aku sudah terkuras seperti ini dan rasa takut itu kembali saat aku melihat wujud asli mereka.

2 orang wujud manusia dengan wajah putih yang sangat pucat, mata mereka menghitam dan gigi yang sudah tidak ada lagi namun hanya memperlihatkan gusi mereka yang berwarna ungu. Teman-teman aku berbicara sekedar basa basi dengan menanyakan lokasi ini dimana? namun makhluk yang bernama pak jemino itu hanya berkata kalian di lereng merapi. Setelah itu makhluk itu mengatakan jika kami tidak bisa jalan maka besok dia akan bantu kami pulang atau buat ngabari guru kalian dan sekarang nginep dulu saja di rumah kami. Tampak wajah teman-teman aku lega, mereka terlihat senang karena teror dan kesialan ini akan berakhir akan tetapi bagi aku aku ketakutan sekali. Sial nya aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berdoa memohon petunjuk Allah. Teman aku memperkenalkan dirinya masing-masing sambil menyalami 2 sosok di depan aku dan mereka tidak sadar bahwa yang mereka salami bukan manusia. Aku tidak menyalami mereka dan aku terduduk diam dan lemas. Ekspresi wajah aku mungkin akan menunjukan wajah ketegangan.

Bu yati tertawa dan aku sangat ngeri mendengar kan suara itu, saat itu aku berusaha bangun namun lagi-lagi aku jatuh karena aku sudah mencapai batas karena menggunakan ilmu batin aku sejak petang tadi dan di tambah stamina aku terkuras untuk mendaki, berlari dan menggendong susi. Ketika pak jemino mau memapah aku, aku menolak dia dan aku berusaha bangun sendiri sambil memandang makhluk-makhluk itu. Aku memutuskan untuk mengikuti permainan dari 2 makhluk itu dan sudah buntu rasanya pikiran aku. Aku tidak akan menyerah jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku terus curiga dan mengawasi apa yang sebenarnya terjadi dan aku memilih jalan terbaik untuk saat itu. Paling tidak itu bisa mengulur waktu untuk memikirkan rencana dan jika aku tidak ada rencana apa-apa paling tidak itu akan membuat kami bisa hidup lebih lama walaupun hanya sebentar.

Kami berjalan lemas menuju sebuah rumah dari dua orang itu, sepanjang jalan aku melihat warga yang bukan manusia tentunya. Mereka saling menegor rombongan kami dan sekedar mennyakan siapa kami dan apa yang terjadi? Aku pun melihat wujud-wujud aneh dari wujud asli warga di kampung itu. Ada yang berwujud siluman dengan wajah kera dan ada tubuh perempuan muda. Beberapa pocong, beberapa gendruwo dan beberapa tulang manusia utuh yang biasa di sebut jrangkong. Aku menahan gejolak rasa takut aku bahkan mereka lebih kuat dari makhluk-makhluk yang mengganggu kami tadi. Akhirnya kami sampai kesebuah rumah dan cukup bagus untuk ukuran rumah makhluk halus dan mereka menipu kami dengan rumah yang benar-benar seperti rumah pada umumnya. ceritanya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here