100 Hari Setelah Aku Mati Part 24 : Teror Lereng Merapi Bagian 3

0
87
bukukita.com

Dina, ani dan susi sontak berlalri dengan bergandengan tangan sedangkan aku dan irawan menarik tas susi yang berlari paling belakang karena mereka berlari dengan tangan saling bergandengan namun mereka malah jatuh bersama-sama. Aku memegangi pundak dina dan memandang tajam matanya. Aku pun bilang agar dina jangan kalap dan jangan berlari terus di tempat seperti ini karena berbahaya. Mereka pun hanya diam dan keringat mereka bercucuran, begitu juga aku dan irawan, tenaga kami sudah habis dan aku masih mencari cara untuk menemukan jalan ke pos. Aku terlalu capek karena insiden barusan dengan di tambah kenyataan ada sosok perempuan yang aku yakin merupakan perempuan yang tiba-tiba tertawa tadi. Kini sedang berada di sebuah dahan pohon yang rendah, dia memainkan kakinya sambil bernyanyi jawa. Dia berwujud perempuan tua dengan rambut gimbal dan wajahnya keriput dengan banyak kutil.

Di mulutnya terlihat gigi besar yang jarang-jarang dan dia memiliki punggung bungkuk dan maaf payudara yang menggantung sangat besat tapi kendor dan tampak keriput. Penampilannya menyeramkan dia menatap aku sambil bernyanyi jawa. Saya menoleh kepada yang lain, 3 cewek itu seperti hampir pingsan. Mereka tidak mungkin melanjutkan jalan. Aku meminta tolong agar perempuan di berikan minum, selimuti mereka dan berikan mereka gula jawa di tas aku. Pandangan aku kembali menuju sosok wewe itu dan aku sebenarnya sudah sangat lelah bahkan sekarang aku ketakutan dimana kaki aku mulai gemetar. Aku memakai cincin pemberian kyai untuk menghajar makhluk itu dengan sisa tenaga yang ada. Makhluk itu terlihat terkejut akan tetapi dia kemudian malah tertawa. Aku pun mengheningkan cipta dan membaca beberapa doa dan bagitu mata aku terbuka dan aku jatuh terduduk melihat pemandangan di depan aku. Irawan buru-bur mendekati aku dengan perasaan kawatir dan irawan juga melihatnya, dia tampak lebih ketakutan dari aku. Kini dia jatuh terduduk dan mulutnya membisu.

Tampak udara dingin pegunungan tidak mempengaruhi karena aku melihat keringat sebesar biji jagung menetes di wajah nya. Aku merasa gentar melihat puluhan pocong dengan wajah menyeramkan dan tampak wujud seperti kera hitam legam dengan mata merah menyala, ada beberapa wujud manusia dengan tanpa kepala dan beberapa bagian tubuh yang tidak utuh. Kini wewe itu sudah berdiri tepat di hadapan aku yang bersimpuh lemas kelelahan disampingnya berdiri sosok leak. Leak yang ada di bali dengan lidah seperti komodo yang menjulur-julur. Dan ini keterlaluan karena mereka terlalu banyak dan aku tidak mungkin membakar mereka semua. Jika aku nekat mungkin malah aku yang mati disini. Ini merupakan di luar kemampuan aku. Wewe itu pun berkata apakah aku menantang nya? Aku menjawab jika kami hanya tersesat dan kami ingin pergi dengan perasaan yang takut. Baru pertama kali aku mendapat situasi seperti ini. Tidak lama leak mengatakan jika darah perjaka dan perawat seperti kami akan sangat nikmat. Aku nekat berlari di tengah hutan pegunungan yang terjal dan penuh jurang. Aku berteriak sangat keras dan ternyata 3 cewek itu juga melihat penampakan di depan aku. Kami lari meninggalkan barang-barang kami dan sinyalnya hanya irawan yang memegang senter dan itu pun sudah sangat lemah sinyal sinarnya. Aku berlari sambil membaca beberapa doa agar tidak diikuti, aku menoleh dan mereka mengikuti kami, mereka terbang, rasa sakit di kaki tidak kupedulikan. Entah berapa kali kami tersandung akar pohon dan batu-batu besar. Kami terus berlari dengan sisa-sisa tenaga yang sudah terkuras. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pos itu yang terpenting adalah kami selamat dari teror ini. Ini mengingatkan pada kejadian saat masih kecil dimana aku selalu berlari ketika bertemu makhluk halus.

Tapi kali ini berbeda jika dulu aku sendiri namun sekarang aku bersama temen-temen aku. Aku tidak ingin mereka celaka dan aku memilih kabur. Aku lupa berapa doa perlindungan yang aku amalkan tapi nampaknya berhasil, mereka tidak mengikuti kami lagi. Namun hal buruk berikutnya terjadi sedetik kemudian. Aku berteriak ada sebuah sungai dan kami jatuh. Aku kira kami akan mati dan ternyata sungai sungai itu tidak dalam. Dan kami juga jatuh dari bibir sungai yang tidak tinggi dan kami tersengal-sengal dan nafas kami masih memburu dan jantung kami masih berdetak sangat cepat. Seluruh tubuh aku berasa ngilu karena berkali-kali terkantul benda keras. Mereka masih kelelahan dan terlihat sangat syok dengan kejadian tadi. Tampak susi meringis kesakitan memegangi kakinya. Ani dan dina juga terlihat lelah dan sempoyongan. Sedangkan irawan dia terjatuh duluan mungkin punggungnya menghantam tanah dia jadi memegangi bahu dan punggungnya.

Tapi tinggal kalian yang memilih dan mau mati lemas dan ketakutan atau memilih mencari jalan pulang sama aku. Aku pun memapah susi, tampak nya kaki nya terluka parah. Sebenarnya berdiri pun aku hampir tidak bisa. Tapi aku kasian melihat susi, irawan juga sedang terkilir, kami menepi ke pinggiran sungai. Mencari tempat yang kering, irawan dan yang lain masih ketakutan. Mereka tidak henti-hentinya menoleh kebelakang untuk memastikan makhluk-makhluk itu sudah pergi. Kami kedinginan, haus,capek dan takut, dimana beberapa kali terdengar lolongan anjing. Ceritanya bersambung di selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here