100 Hari Setelah Aku Mati Part 23 : Teror Lereng Merapi Bagian 2

0
25
bukukita.com

Dan saat itu aku yakin sebelum petang tadi gambar nya sama. Tampak wajah teman-teman aku berubah benar-benar panik. Susi mengatakan jika dia takut dan ini pertama kalinya aku naik gunung dimana saat itu susi dengan gemetara, suara teman-teman yang lain juga bersautan karena mereka tidak kalah panik. Aku mengatakan jika kita kesasar tapi tenang karena aku bilang aku ada peta yang benar dan tinggal mengikuti peta ini saja. Kita jalan dari sini menuju titik jalur pendakian dan kita sudah terlalu jauh keluar jalur. Kita tidak mungkin motong jalan karena terlalu bahaya kiri kanan kita jurang dan kita harus muter buat sampe ke watu gajah. Saat ini posisi kami menunjuk satu titik di peta yang di terangi sinar senter.

Aku memang sudah bisa membaca peta dari kecil dan dulu aku sering diajari menggunakan kompas, topografi, membaca jejak dan lain-lain oleh almarhum bapak. Aku mengatakan pada teman-teman aku tidak usah takut akan tetapi saling menjaga saja. Aku juga bilang pada irawan jika ht nya di simpan saja karena tidak berfungsi. Namun ketika batre aku lepas tadi sebetulnya memang posisi ht itu sudah mati kahabisan batre. Akupun juga mengatakan pada teman-teman jika kita sedang di ganggu oleh penunggu disini. Di situ aku minta agar semua nya tenang, jangan parno, baca doa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Selama jalan nanti fokus saja ke pundak aku liat pundak aku saja dan lihat dimana kaki kalian menapak jangan sampe jatuh jangan pula celingukan juga ya.

Semua teman-teman aku mengangguk mendengar instruksi aku dan harusnya irawan menjadi ketua kelompok tapi aku maklum ini mungkin pengalaman pertama dia. Waktu menunjukan pukul 19.45 sebelum berjalan kami solat isak dengan keadaan yang seadanya. Aku membayangkan betapa isntruktur dan senior kami kebingungan mencari kami. Aku juga membayangkan wajah kawatir dari risa disana. Seharusnya kami sudah sampai pos 2 sejam yang lalu. Kami berjalan menembus hutan dan beberapa kali aku menahan kaget karena melihat sosok siluman yang menurut aku adalah jelmaan jin berubah menjadi sosok hewan atau setengah hewan dan aku melihat beberapa makhluk aneh itu dimana mereka hanya memperhatikan aku tanpa berani mengganggu. Kyai pernah berkata bahwa mata batin aku ini selain bisa melihat dan merasakan juga bisa memukul dan melindungi.

Kyai berkata bahwa ini merupakan bakat alam milik aku dan seiring berjalannya waktu akan terus menguat, mata batin ini akan membuat takut jin yang lemah atau yang ilmu nya berada di bawah aku. Namun itu membuat tertantang jin jahat yang lebih besar, begitu kata kyai. Akupun beberapa kali harus berhenti untuk menengok peta dan saat berhenti mereka. Makhluk-makhluk halus itu terlihat semakin banyak, bukan hanya satu dua tapi banyak sekali, tampak di sebuah dahan pohon waru ada sesosok makhluk berbadan manusia dengan wajah kucing. Dia duduk di sebuah dahan dengan mata yang berpendar dalam gelap dan dia bergerak tanpa pakaian. Dan turun ke tanah dimana cara berjalan nya seperti gorila dengan setengah bungkuk berjalan dengan kaki dan punggung tangan untuk menahan badannya, dimana tubuhnya berbulu keperakan dengan ekor yang mengibas-ibas dan dia mengajak aku berbicara. Kami menggunakan bahasa batin dan aku buatkan perkiraan percakapan aku dengan makhluk itu. Jika kalian masuk kesini pasti ada kepentingan dan kamu bisa melihat kami. Dia pun mendesis-desis dengan menjulurkan lidah nya. Akupun mengatakan jika aku seorang muslim dan aku tidak ada kepentingan dengan kamu jangan ganggu kami.

Jika kalian tersesat akan menarik bangsa kami bermain dengan kalian, kamu anak adam yang unik di keraton kami ini akan banyak yang menyukaimu. Makhluk itu berlalu dan jam menunjukan setengah sembilan malam yang artinya sudah 1 jam, dimana kami berjalan dan aku melihat teman-teman tampak kelelahan. Semua teman-teman aku menggeleng sambil mencoba meminum tetes-tetes terakhir air yang ada pada botol aor mereka. Aku mengeluarkan sebotol penuh air mineral 1,5 liter dari ransel aku. Semua nya di hemat dan aku mengulurkan minum aku kepada dina. Dinapun meminum seteguk dan di urutkan pada teman aku yang lain.

Aku menghela nafas panjang dan aku mefokus kan mata ke arah ani, tepatnya ke sebuah batu yang di duduki ani dan batu itu terlalu kotak simetris dan presisi untuk sebuah batu di tengah hutan dan aku melihat teman-teman yang lain. Mereka juga menduduki batu yang serupa dan aku meundukan kepala dan terbelalak. Aku juga menduduki batu yang sama dan batu dengan tulisan aksara jawa. Entah apa artinya aku lupa. Aku bingung dan aku hanya menoleh kekanan kiri sekeliling aku. Tanpa kami sadari kami sedang berada di tengah-tengah kuburan tua, aku heran juga kami sampai tidak melihat puluhan batu nisan yang beserakan dari tadi. Kami segera mengemasi barang bawaan kami dan dengan langkah kaki yang kami percepat kami melanjutkan perjalanan dan baru saja kami berjalan beberapa meter tiba.

Terdengar jelas suara perempuan seperti tertawa yang di paksa keluar dari mulut dan baru saja aku mau bicara pada teman aku untuk tetap tenang tapi tampaknya mereka sudah ketakutan. Ceritanya bersambung di berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here