100 Hari Setelah Aku Mati Part 22 : Teror Lereng Merapi Bagian 1

0
83
bukukita.com

Hari dimana kami anggota ekskul pecinta alam pun akhirnya datang juga dan kami sudah membawa perlengkapan masing-masing. Seperti tas cerier, nasting, matras, slepping bag dan beberapa alat navigasi. Setelah pembagian kelompok selesai kami pun berangkat. Aku sekelompok dengan irawan dan teman baik aku sejak smp. Dan 3 orang perempuan dari kelas sebelah pada hari itu anggota yang ikut acara ada 20 orang. Dengan di bagi 4 kelompok artinya satu kelompok berisi 5 orang dan disamaratakan. Setiap kelompok diisi 2 laki-laki dan 3 perempuan. Tampak di kelompok 3 ada risa yang heboh sendiri dengan bawaan super nya dan aku Cuma menertawainya saja dengan sikap nya. Kami pun diawasi beberapa isntruktur yang akan berada di masing-masing pos dan beberapa titik pos bayangan setiap ketua kelompok wajib memberikan laporan kepada instruktur melalui Ht. Kami menempuh perjalanan dari selo boyolali. Di setiap kelompok akan di beri jarak mulai mendaki selama 10 menit dan ada jarak lumayan jauh untuk tiap kelompoknya. Kelompok risa mendapat nomor undian pertama. Dan itu sudah pasti sengsara jika seperti ini.

Kami pun baru mendaki sekitar 50 menit kemudian dan waktu menunjukan pukul 15.00. Perkiraan waktu sampai ke puncak adalah 5-6 jam waktu normal. Aku dan irawan hanya bercanda terus sepanjang jalan. Bersama-sama dengan susi, dina dan ani. Kita membicarakan banyak hal, mulai dari yang tidak penting sampai yang paling tidak penting. Cukup menyenangkan dimana treking menuju pondok pendaki hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan kami sudah berjalan menuju pos 1 dan semua masih mudah dan kelihatan baik-baik saja. Sesekali tampak dari kejauhan kelompok lain sedang berjalan menembus pepohonan rimbun. Setiap beberapa menit sekali Ht yang kubawa berbunyi dan terdengar suara senior untuk mencari tau bagaimana keadaan kami. Pos 1 sudah kami lewati dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Waktu ashar sudah lewat saat kami sudah berjalan melewati pos 1. Kami memutuskan untuk berhenti sebentar karena ingin istirahat dan solat dengan keterbatasan yang ada.

Dan kami mulai berjalan menuju pos 2 dan di pos 2 ini mulai ada sebuah hawa dingin, namun bukan dingin dari suhu udaranya. Akan tetapi dingin entah bagaimana aku menjelaskan nya. Waktu menunjukan pukul 18.30 dimana perjalanan masih jauh sampai kami dapat beristirahat di watu gajah atau pasar bubrah dan irawan pun memutar-mutar Ht nya. Namun saat itu Ht nya tidak menyala, aku pun sambil mengetuk-ngetuk senter dan kami masih butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai pos 2. Ini alasan aku tidak mau dapat kelompok paling terakhir. Aku membuka peta dan mengukur koordinat kami berada. Untuk aku rute ini lumayan harus hati-hati karena kanan kiri kita jurang. Dan kamu paling belakang, ucap aku pada irawan.

Apabila ada apa-apa langsung bilang dan jangan buat gerakan yang mengagetkan perhatikan langkah sama pegangan kalian, ucap aku. Teman-teman aku hanya mengangguk tanda mengerti dan hal yang kutakutkan semenjak pertama membaca selebaran itu mulai terjadi. Direrimbunan pepohonan sudah banyak yang memperhatikan kami dan mereka semua tampak sama wujudnya karena mereka semua di balut dengan kain putih dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jika kalian tanya jumlah aku pun tidak tau pasti karena yang aku tau mereka banyak banget. Aku pun menghentikan jalan aku dan melihat ke belakang. Tidak lama irawan mengatakan jika Ht nya sudah berfungsi lagi dan kita pun berhenti sebentar, dimana saat itu kita melaporkan untuk meminta petunjuk arah karena dari tadi tidak menemukan jalan.

Tidak lama kita minum sebentar sambil laporan posisi kita dan aku membuka peta kembali juga mencari dimana koordinat kami sekarang. Memang cukup sulit karena selain pandangan yang hanya di terangi sinar senter perhatian aku teralihkan dengan beberapa makhluk yang mulai tertarik pada aku. Aku membaca beberapa doa pelindung dalam hati sekedar menjauhkan mereka. Akhirnya aku mengatakan koordinat kita sambil memberikan secarik kertas berisi koordinat kami sekarang. Irawan mengangguk dan menyalakan Ht untuk meminta petunjuk arah dan baru saja tombol ht itu di pencet tiba-tiba ada suara sinden yang lebih mirip suara tawa yang terkekeh jelek. Aku menyaut ht dari tangan irawan dan mencabut batrainya sebelum teman-teman aku bertambah takut. Tampak kengerian di wajah mereka dan irawan mendekat dengan diikuti dina, susi dan ani yang berpelukan satu sama lain.

Irawan pun dengan wajah panik dan ketiga wanita itu juga ikut nimbrung dengan cerewet dan panik. Aku sendiri menghela nafas panjang dan aku mengatakan jika kita semua harus tetap tenang. Dan kita semua jangan jauh dari rombongan karena mungkin kita keluar jalur sejauh 5 km. Ketika melihat peta jalur sangat berbeda dengan peta yang kita bawa tadi, dimana aku baru menyadari bahwa peta yang aku bawa tadi sudah berubah dan sudah berubah menjadi seperti efek cermin yang harusnya kita belok kekiri malah ke kanan. Namun begitu juga sebaliknya, aku pun memfotocopy peta yang di berikan senior sehari sebelum berangkat dengan tujuan aku punya arsip tentang jalur pendakian merapi. Akan tetapi aku bandingkan hasil foto copy nya ternyata gambarnya berbeda. Cerita bersambung diselanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here