100 Hari Setelah Aku Mati Part 21 : Sepenggal Kisah Bagian 2

0
88
bukukita.com

Risa bertanya jika aku mendapat besiswa apa aku melanjut kan itu ke kedokteran? aku pun berbicara jika benar aku melanjutkannya karena aku ingin jadi dokter. Aku pun hanya tersenyum dan tertawa, risa itu yang terbaik dan aku paham kata-kata risa tadi bermaksud agar aku belajar lebih giat lagi. Apapun masalah aku, aku akan membantu kamu dan jika kamu sakit, kamu lagi laper dan jika jika kamu kesepian, risa pun mengatakan kamu bisa ke aku. Dari awal smp aku menurut risa merupakan sosok yang spesial dan entah kenapa risa tidak pernah berhenti mikir tentang aku dan aku sangat misterius bagi nya. Sejak dulu risa mencoba mencari perhatian aku. Tapi kayak nya ada tembok gede yang ngalangin mata kamu dan sampai kemarin aku tau bahwa kehidupan aku yang membuat pribadi kamu jadi cuek, pendiem pemalu dan aku baru beberapa bulan bener-bener kenal sama aku, ucap risa.

Dan malah aku tambah tidak bisa berhenti mikir kamu, kamu terlalu spesial dan unik. Tampak risa berbicara sambil menunduk dan mungkin dia malu, aku memahami perasaannya dan aku berfikir sejenak untuk membuat satu jawaban. Aku bilang pada risa jika dia merupakan teman pertama aku dan seorang yang pertama kali menegur aku di sekolah. Di smp kita dulu kamu memaksa aku duduk sebangku dengan kamu, masa kecil aku dulu jangan kan ada yang duduk sebelah aku, bahkan saat aku masuk kelas aku di lempari kapur. Risa merupakan perempuan yang sempurna, cantik, pinter dan baik. Dan dia adalah orang pertama yang mengetahui tentang aku. Risa selalu memberi dukungan pada aku dan kamu adalah teman yang sempurna dan maukah kamu tetap jadi teman aku. Saat itu aku merasa sangat tidak pintar dengan masalah cinta-cintaan seperti itu dan aku juga belum cocok dan belum siap dengan namnya pacaran. Namun ketika aku belum selesai bicara risa sudah memotongnya.

Saat itu risa malah belepotan gitu omongannya dan tidak masalah karena dia hanya mau jujur dengan aku dan risa sangat memahami posisi aku dan risa juga belum pantas pacaran dengan aku. Aku akan berusaha memantaskan diri aku buat aku. Aku akan belajar tegar seperti kamu. Aku akan belajar sabar dan dewasa seperti kamu. Aku pun menghargai perasaan risa dan sikap nya. Risa pun meminta tolong pada aku agar dia bisa terus deket dengan aku. Aku tidak mau kamu disini sendiri terus dan aku pengen nemenin kamu terus. Dan aku berkata juga tidak mau tinggal, aku dan risa tersenyum dimana ada perasaan yang aneh bercampur aduk tapi aku senang risa bisa mengerti.

Itulah sepenggal kisah awal aku dengan kejujuran perasaan risa dan apakah berlanjut hubungan aku dengan risa. Waktu itu risa terakhir datang ke rumah aku pada hari sabtu dan aku terbangun kesiangan minggu pagi. Aku segera buru-buru melaksanakan solat subuh karena sudah menunjukan 05.10. Aku tersadar dan menampar-nampar pipi aku sendiri. Aku berusaha menyadarkan diri aku yang sedikit malas. Aku melangkah keluar kamar dengan wajah yang masih penuh iler. Aku pun membuat sarapan dan aku mengambil 2 butir telur dari kulkas. Aku melihat di meja makan sudah tersaji makanan berupa nasi goreng dengan telur dadar dan disebelahnya segelas the panas yang terlihat masih panas karena masih mengepul uap panas nya. Aku melihat jam masih menunjukan 05.30 aku masih heran, aku berjalan mendekat meja makan dan seperti ritual pagi aku biasa. Aku bersin-bersin dan seperti nya aku gejala pilek. Akhirnya aku mendengar suara yang aku kenal seperti memarahi aku karena mengelap ingus dengan tangan. Aku pun bilang jika risa sama seperti sari yang selalu mengingatkan aku. Saat itu risa muter lewat pintu belakang yang ternyata tidak di kunci.

Rumah kemasukan maling baru tau rasa,ucap risa. Aku mengatakan jika besok-besok aku tidak akan lupa mengunci pintu lagi. Risa beranjak dari meja makan dan mengambil tas nya. Dia mengeluarkan sebundel besar buku tulis dan buku cetak. Dia meletakan di meja tumpukan buku itu. Aku pun bertanya sambil menanyakan apa itu ris? Risa menjelaskan jika orang-orang sekarang sudah memakai ini buat nulis dan tidak kayak jaman-jaman kamu masih pake daun, dengan heran risa bicara jika baru seminggu tidak sekolah diri aku sudah tidak pintar. Risa bilang jika ini adalah buku tugas dan aku sudah tidak masuk seminggu dan baru akan mengerjakan ini minggu depan dan besok kita libur seminggu, sekolah buat persiapan ujian kelas 3. Aku pun membaca sampul buku berwarna biru itu, bahkan aku tidak ingat jika bulan kemaren adalah penerimaan rapor dan akhirnya rapor aku belum diambil sampe risa membawakan nya dan aku membaca indeks nilai aku satu persatu cukup memuaskan.

Risa juga mengucapkan selamat pada aku karena aku mendapat rangking satu lagi dan aku pun berterima kasih pada risa. Risa juga bercerita jika ayahnya tertarik pada aku karena aku merupakan anak yang istimewa. Risa pun mengajak aku untuk ikut ekskul pecinta alam. Dan risa memberi lembaran kertas yang berisi merapi camp. Cerita nya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here