100 Hari Setelah Aku Mati Part 20 : Sepenggal Kisah

0
23
bukukita.com

Seorang perwira yang baru saja mendapat kenaikan pangkat, seorang bapak yang bertanggung jawab dimana beliau mati secara syahid karena membantu sesama. Jenasah bapak dimakamkan di sebuah kuburan masal bernama ulee iheue di NAD bersama dengan 50.000 jenasah lain. Sebuah makam yang diisi puluhan ribu orang tanpa batu nisan untuk masing-masing jenasah tapi bagi aku makambapak disini bukan sekedar makam kosong. Paling tidak hanya itu yang bisa kulakukan. Agar bapak dan ibu bisa terus bersama walau hanya lewat batu nisan. Aku pun mengucapkan selamat tinggal ibu, dia merupakan seorang wanita cantik dan berani yang meninggalkan seorang putra dan seorang suami. Selamat tinggal bapak, seorang pria gagah, jujur dan setia, seorang pria yang tidak mau menikah lagi bahkan setelah belasan taun kehilangan istrinya saat usia nya masih muda dan dia memilih menyusul istrinya dan membiarkan seorang anaknya hidup agar menjadi manusia yang lebih kuat dan berani dari dirinya.

Aku masih merasakan kenangan dari ibu dan jika diibaratkan luka, luka itu sudah hampir sembuh namun selalu saja ada hal yang membuat luka itu malah mengnga lebar, kepergian bapak benar-benar membuat jatuh mental aku yang baru saja bisa menikmati hidup selama 3 tahun disini. Hari itu adalah sehari setelah peletakan nisan bapak, om dan tante aku juga sudah pulang ke solo dengan berat hati karena meninggalkan aku mengurus hidup sendiri. Aku sedang membereskan kamar bapak tempat istirahat inspirator aku. Kamar ini mulai berdebu, aku membersihkannya dengan seksama, aku menata lemari yang masih lemgkap dengan baju seragam dan kaos harian almarhum bapak. Aku pun membersihkan buku yang tertata rapi di rak, terselip diantara buku-buku itu ada sebuah album foto dan aku membukanya tetapi dengan segera aku tutup kembali. Aku hanya belum sipa untuk bernostalgian lagi sekarang. aku mengelap kursi dan meja baca milik bapak. Tampak di sudut meja masih ada satu slop penuh rokok filter milik bapak masih tersegel.

Disampingnya terdapat sebuah pipa rokok yang terbuat dari gading gajah beserta korek api klasik. Nampaknya ini ketinggalan saat bapak berangkat ke aceh dulu dan aku meletakan nya kembali lalu melanjutkan bersih-bersih. Baru saja mau menutup pintu kamar perhatian aku tertuju pada rokok bapak, aku mengambilnya kemudian duduk di teras samping rumah dan aku membuat secangkir the sambil membawa sebuah majalah yang aku lupa majalah apa itu. Aku membuka 1 bungkus, dimana sangat harum dan aku isengn mencoba sebatang dan menghisapnya lalu aku batuk-batuk. Dan aku pun tidak lama muntah. Aku pun heran apa enak nya rokok ini sehingga bapak menyukai nya. Namun saat aku akan membuang rokok ini tidak lama risa datang dan dia mencubit aku sambil memarahi aku. Aku pun teriak karena sakit namun risa tidak melepaskan cubitan itu malah makin keras di arah kan pada aku. Risa marah karena melihat aku mencoba-coba merokok dan sekarang pun cubitan itu malah semakin menyiksa aku dengan gerakan memutar tangan oleh risa dan ini namanya cubitan dewa level 10. Aku pun menjelaskan pada risa sambil menahan rasa sakit. Akhirnya risa bilang buat apa ngerokok cari duit juga belum bisa dah merokok, besok kalo sudah kerja terserah saja, ucap risa. Risa mengatakan jika aku sudah tidak masuk sekolah sekitar 2 minggu setelah almarhum bapak kamu di yasin kan kemaren aku kira kamu berangkat lagi. Aku pikir kamu sudah pindah sekolah tanpa pamit dengan nada suara yang menurun. Aku Cuma mengangguk dan menghirup nafas panjang. Aku pun mengatakan tidak ingin menjadi beban orang lain dan om aku seorang pensiunan tentara dimana anak-anak beliau juga semua kuliah.

Aku mengatakan jika aku sudah memikirkan matang karena bapak sudah punya taspen dan nanti tidak ada guna nya buat hidup sehari-hari. Dan aku tabung sebagian, aku juga mau kerja sambilan besok dan buat beli alat-alat sekolah. Aku punya cita-cita jadi dokter. Jika aku ikut om mungkin tidak akan kesampaian. Tapi jika aku mandiri disini, mungkin aku punya kesempatan dari tabungan uang taspen bapak akan aku tabung. Aku belajar keras supaya mendapat kan beasiswa. Sekarang ini modal aku hanya percaya pada Tuhan. Risa bilang lebih baik aku ikut dengan om aku supaya enak namun tekad aku sudah bulat saat itu. Aku berfikir aku sudah terlalu lama hidup bersembunyi dan aku merasa jika aku ini laki-laki yang tidak seharusnya aku tidak bersembunyi lagi, maka dari itu aku tidak akan takut pada apapun lagi. Dulu saat kecil aku penakut dan saat takut aku bisa berlari ke ibu aku.

Tapi kemudian ibu juga hrus di ambil paksa dari aku tapi itu tidak masalah dan karena jika aku takut lagi aku bisa bersembunyi dan lari kepada sosok yang lebih kuat yaitu bapak aku namun bapak juga bernasib sama dan harus di jemput dengan paksa. Sekarang aku coba buat lebih pemberani. Aku mencoba tidak lari dan tidak bersembunyi lagi dan aku akan melawan dan menghadapi kenyataan apapun, sekali lagi tapi jika kenyataannya aku kalah dan semakin takut. Cerita nya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here