100 Hari Setelah Aku Mati Part 19 : Good Bye

0
44
bukukita.com

Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang sangat keras, seolah bapak muadzin itu sengaja membuat aku terbangun dan aku mengucek mata juga menggerakan tubuh agar otot tidak kaku. Aku sejenak berfikir bahwa ini bukan sebuah mimpi dan aku mengeluarkan nafas panjang dan aku segera berwudhu dan melaksanakan solat subuh. Aku sudah selesai solat tapi masih saja terduduk di atas sajadah. Aku sedang menutup ibadah aku dan berdoa untuk mengawali hari yang pasti akan panjang dan berat, segala puji syukur aku panjatkan dan aku bersyukur masih di beri kesehatan dan keselamatan oleh Tuhan. Aku pun membuka pintu dan menemui om bowo beserta dengan istri nya. Sekarang aku sudah tenang dan aku coba buat iklas saat ini. Om pun mengatakan di balik ujian pasti ada hikmahnya. Akhirnya jenasah bapak di makam kan di aceh karena jika harus dikirim ke jogja akan lama sekali.

Seketika aku pun menunduk dan ada rasa kecewa, bahkan merasa anak macam apa aku ini, bahkan aku tidak menyolatkan kedua orang tua aku yang sudah meninggal dan dulu aku masih terlalu kecil. Sekarang saat aku lebih besar ada kenyataan lain yang membuatkan bahkan tidak bisa menyolatkan nya lagi. Namun om bowo mengatakan jika yang penting itu adalah doa nya dari anak. Karena apapun itu, itu hanya lah sebuah jenasah dan bapak sudah tidak ada di situ. Dan aku pun semakin mengerti dan paham. Tidak lama aku membantu tante untuk yasinan.

Malam itu merupakan yasinan yang di selenggarakan untuk ayah, seluruh kerabat, tetangga dan teman-teman aku hadir. Aku fokus kepada untaian ayat surah yasin dan berdoa dengan kusuk agar bapak tenang disana. Risa pun tidak lama memanggil aku dan aku tersenyum dengan terpaksa. Disini risa mengucapkan bela sungkawa pada aku. Dan aku pun tersadar jika aku tinggal sendiri setelah risa mengatakan apa yang akan aku lakukan? aku sendirian disini sampai aku membuat keluarga baru aku sendiri. Aku pun berfikir apa yang di bicarakan risa tadi, entahlah aku tidak tau, aku belum mikir sampe situ, nanti malam aku pertimbangkan karena om aku kemarin menawarkan aku untuk ikut keluarganya di solo.

Malam itu setelah acara selesai, om mengajak aku bicara tapi aku mengelak dan aku sudah tau arah pembicaraan yang akan beliau sampaikan. Aku mengelak karena aku ingin berfikir dan menanyakan pada diri aku sendiri. Aku memikirkan bagaimana dengan masa depan aku nanti. Aku juga berfikir apa yang harus aku lakukan sebagai orang remaja tanggung seperti aku. Aku tidak ingin jadi beban untuk keluarga om aku dan walaupun aku pasti dapat uang taspen tapi itu pasti hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari aku. Karena aku juga tidak akan mendapat 100% dari gaji bapak saat masih aktif sebagai tentara. Aku pun memikirkan pendidikan aku cita-cita aku yang ingin menjadi dokter. Karena semua itu membutuhkan uang yang banyak, aku berteriak dengan tertahan bantal yang kusumpal di muka aku entahlah aku pun termenung. Entah kenapa sepersekian detik kemudian terbesit baying-bayang bapak dan ibu. Pikiran aku seperti menuntun untuk berfikir seperti bapak dan jangan menyerah. Seperti ada bisikan di telinga aku. Terbesit kembali sebuah ide dan jika aku seperti menuntun untuk berfikir seperti bapak dan jangan menyerah. Terbesit pula sebuah ide dan jika aku belajar dan sekolah lebih baik lagi tidak mustahil aku mendapat bea siswa. Aku mempunyai prinsip harus lebih rajin belajar namun ada aku kembali bertanya bagaimana hidup aku dan bagaimana cara aku mengurus diri sendiri?

Tapi aku berfikir lagi jika uang taspen bapak tidak cukup aku akan bekerja. Walau hanya sekedar sambilan untuk memenuhi tuntutan sekolah aku, seperti buku, foto copy dan kegiatan lainnya. Aku rasa itu akan cukup dan uang taspen bapak akan aku tabung dan tentu saja juga untuk pengeluaran bulanan seperti listrik dan air.

Aku sudah besar dan siap, aku juga membatin dan meminta pertolongan Allah untuk di kuatkan niat aku. Malam itu aku mengambil resiko untuk menanggung diri aku sendiri dan apapun resiko nya aku siap karena yang jelas aku yakin keputusan ini akan di setujui bapak dan ibu di alam sana. Pagi itu aku mengutarakan niat aku kepada om bowo, awalnya beliau keberatan karena menganggap aku masih terlalu kecil namun alhamdulilah aku berhasil membujuk beliau. Om pun bilang jika aku begitu mirip dengan almarhum ayah aku yang begitu keras kepala. Akhirnya om pun memahami apa keinginan aku dan niat aku. Akan tetapi om masih mengingatkan aku jika aku masih mempunyai om jadi jika ada apa-apa aku bisa meminta tolong padanya. Aku mengatakan agar om dan tante jangan lupa menengok aku, om dan tante pun tersenyum kecil. Om dan tante pun mengusap kepala aku sambil tertawa. Disini terbaring Dra. Astuti Wardani seorang ibu cantik yang menyayangi keluarganya dan disampingnya sebuah makam tanpa ada jenasah di bawah nya letnan satu hartono, S.E,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here