100 Hari Setelah Aku Mati Part 18 : Ayah Bagian 2

0
23
bukukita.com

Aku hanya terdiam, perasaan aku emosi, bukan emosi karena perkataan dari sari yang menyakitkan aku tapi karena perkataan sari benar. Aku masih belum bisa menerima realita ini. Sari bilang mereka pergi ketempat seharusnya dan kamu boleh bersedih. Tapi jangan berlebihan, kedua orang tua kamu masih bisa melihat kamu disana. Mereka pergi bukan karena mereka tidak sayang pada kamu, mereka masih dan terus menyayangi kamu dengan cara lain dan aku meneteskan air mata lagi dan entah jika semua air mata kumpulkan sejak aku kecil dan mungkin sudah cukup untuk mengisi satu bak air penuh. Sari pun bilang agar aku hidup dengan baik dan jadilah orang yang bermanfaat karena kepedihanmu akan membawa kamu menjadi manusia yang derajatnya tinggi di mata sesame manusia dan Tuhan.

Aku pun minta kepada sari agar aku di tunjukan bapak sama seperti saat kamu menunjukan ibu pada saat meninggal. Sari pun memastikan lagi apa aku yakin dengan keinginan aku? sari pun mengatakan jika sari tidak cukup kuat untuk memperlihatkan secara utuh kejadian itu. Sari pun tidak lama menempelkan tangan nya ke kening aku dan aku memejamkan mata perlahan, aku sudah berada pada kejadian di aceh, melihat air bah yang menerjang kota, mobil, pohon, puing bangunan dan manusia. Adapula orang tua, ada anak-anak dan ada anak seumuran aku banyak sekali. Aku merasakan hawa kematian. Terlalu berat aura ini dan hawa ini, dimana aku merasakan ada yang menetes melewati bibir aku, aku mimisan dan aku merasa akan terpental, dimana aku coba sekuat tenaga bertahan. Aku belum menemukan sosok bapak dan aku melihat di sekitar tengah laut yang menyeret ribuan orang itu.

Mata aku merasa tertuju dengan seseorang di atas atap bangunan masjid dan itu adalah bapak nya, dimana bapak masih selamat, namun tampak sehat. Beliau bahkan tidak terlihat terluka sama sekali tapi kenapa bapak dinyatakan meninggal? lalu ada seorang mengambang, seorang anak kecil, dia tersangkut di sebuah dahan pohon, bapak dan bapak berusaha meraih anak itu. Tapi tidak sampai meraih tangan nya, bapak pun memegang tali karmentel dan tali-tali itu diikatkan kebadannya, ujung tali lainnya di pegangi beberapa warga yang juga diatas atap. Bapak pun menceburkan diri dan berusaha meraih anak itu dan bapak memeluk erat anak itu, orang-orang diatas berusaha menarik mereka dan aku berteriak karena ada setitik harapan jika bapak sebetulnya selamat namun harapan itu sirna. Dan ada sebuah mobil yang hanyut dan menabrak bapak beserta anak yang di gendongnya. Aku menjerit tapi tidak ada suara keluar dari mulut aku, tali itu terlepas dari pegangan orang-orang di atas atap. Bapak hanyut bersama seorang anak kecil yang di gendongnya dan bapak tidak Nampak di permukaan. Aku membisu dan pandangan aku kabur, tubuh aku seperti tersedot angin yang kuat dan begitu membuka mata aku sudah berada di kamar dengan hidung yang berdarah-darah.

Sari pun berkata jika ayah aku pun memilih resiko menyelamat kan anak itu dan tampak nya Tuhan berkata lain. Aku pun merasa menyesal kenapa bapak harus menyelamat kan anak itu? Dan aku kecewa kenapa bapak menyelamatkan orang yang kemungkinan selamat nya kecil. Lalu tidak lama ada yang memukul aku, sari pun marah dengan sikap aku. Dan dia memberitahukan jika banyak orang tua yang kehilangan anaknya yang mati dan banyak juga anak yang kehilangan orang tua nya disana. Tapi mereka tidak menjadi gila seperti kamu. Melihat wajah mereka, mereka juga ketakutan sama seperti aku, nyawa mereka juga bahkan sedang terancam disana. Aku terdiam dan berfikir akan melakukan hal sama jika menjadi bapak.

Tidak lama aku pun meminta maaf atas sikap aku tadi. Sari pun mengatakan jika dirinya akan selalu ada di dekat aku saat di butuhkan dan aku pun harus tidur agar tetap sehat dan hidup. Sari pun mengusapkan tangan nya ke wajah aku dan entah kenapa aku tertidur seperti pingsan tepatnya karena tiba-tiba semua menjadi gelap. Saat kejadian yang sudah di perlihatkan sari pada aku, aku lebih sadar jika nanti suatu saat aku jadi bapak sudah pasti aku akan melakukan hal yang sama seperti bapak. Dan apa yang sudah di katakana sari semua benar ada nya. Dan dari sini lah aku di ajarkan agar lebih iklas dalam menghadapi cobaan hidup yang sudah di tetap kan dan di garis kan oleh Tuhan. Karena setiap kejadian memiliki arti baik di balik nya dan selalu yakin akan kebesaran nya. Cerita nya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here