100 Hari Setelah Aku Mati Part 17 : Ayah

0
88
bukukita.com

Malam itu aku tidak tau harus melakukan apa lagi, aku hanya bisa menangis dan aku di tenangkan kerabat-kerabat aku untuk tetap sabar. Bahkan om dan tante aku menawarkan untuk tinggal bersama mereka karena sekarang aku memang seorang yatim piatu. Aku tidak member jawaban pikiran aku belum sampai untuk memikirkan masa depan aku akan seperti apa saat di tinggal bapak. Aku bingung yang berputar-putar di kepala aku dan hanya kesedihan yang aku rasakan. Aku pun masuk kamar dan membanting pintu dan menguncinya.

Aku masih marah, aku masih sedih dan banyak hal yang aku pikirkan. Tapi yang berputar di kepala aku hanya keluhan dan kenapa hal buruk selalu dan terus saja menimpa aku. Aku masih terlalu kecil saat di tinggal ibu dulu dan sekarang aku belum cukup dewasa untuk di tinggal bapak. Apa dosa aku terlalu besar sehingga rasa sedih itu semakin menggunung di pikiran dan hati aku. Jantung aku masih berdebar-debar dan terasa sesak, aku melihat telapak tangan aku mengeluarkan asap tipis berwarna kehitaman pertanda emosi dan aura aku tidak stabil.

Aku berdiri di depan cermin dan aku berkaca melihat dan melihat seorang pemuda yang menyedihkan dan itulah aku dengan rambut acak-acakan dan dengan wajah amburadul dimana kantung mata aku bahkan punya kantung mata dan aku sudah tidak ingat kapan aku terakhir mandi. Aku menarik nafas dan membaca istifar berkali-kali dan aku masih di kamar dimana aku harus mandi dan solat sunah. Aku menyaut shower dengan air panas nya dan aku mandi dengan pikiran yang masih tidak karuan membayangkan bapak. Satu-satunya keluarga aku yang sekarang juga harus pergi meninggalkan aku selamanya. Pertama ibu kemudian bapak dimana kedua orang yang paling kusayang di renggut dariku dengan cara yang mengenaskan. Mereka harus meninggal dalam sebuah tragedy. Aku berfikir apakah manusia tidak bisa memilih bagaimana dia akan mati? bukankah lebih baik jika mati dalam keadaan tua dan bapak juga ibu pasti akan memilih meninggal dengan berbaring di kasur yang nyaman pada hari ajal menjemput dengan di kelilingi orang terkasihnya.

Ibu dan bapak meninggal dalam sebuah kecelakaan dan bencana dan mereka pasti harus merasakan sakit hingga ajal menjemput nya. Aku mengusap wajah dimana air mata aku terhapus dengan guyuran air hangat yang mengalir dari shower dan kenapa engkau tidak menjemput aku sekalian? Kenapa engkau membiarkan aku hidup dalam kesendirian dan kesepian? Aku keluar dari kamar mandi dan mengganti baju dan solat. Aku duduk di depan meja untuk melamun dan aku menghiraukan ketukan pintu dari om dan tante aku, aku hanya berteriak untuk jangan di ganggu dulu. Dimana tanpa membuka pintu saat sedang melamun ada sentuhan tangan di pundak aku, dia menggenggam aku dan aku tau ini bukan tangan manusia dan berani betul ada yang mengganggu aku, saat itu aku berniat menangkapnya dan membakar makhluk itu, namun ketika aku berbalik dan aku malah tersungkur kebelakang menghantam meja karena kaget apa yang aku lihat di depan aku. Aku baru saja mau menghajar makhluk itu tapi ternyata itu adalah sari dan aku bilang jika dia membuat aku kaget. Aku pun bertanya kenapa sari bisa disini? lalu sari mengatakan jika dia sudah berjanji akan selalu menjaga aku. Dan sari mengatakan jika memang aku harus melalui ini semua. Sari juga menjelaskan jika semua yang hidup pasti akan mati. Sari juga menjelaskan kenapa dia masih ada disini, hal itu karena semua tidak berjalan mulus ketika sari meninggal dan rasa penasaran saat aku mati. Aku menolak bergabung dengan setengah dari diri aku yang sudah di alam kubur dan suatu saat juga aku akan kembali ke alam aku, ke alam dimana aku sepantasnya hidup. Aku pun bertanya apa bisa bapak dan ibu aku menjadi seperti sari? dan sari bilang jika setengah dari jiwa mereka tetap di alam ini dan sudah pasti mereka penasaran melihat anak nya yang hidup sendiri. Dan aku berteriak kenapa mereka tidak menjadi seperti sari? dimana mereka bisa menemani aku hingga aku menyusul mereka.

Sari kembali tersenyum kembali dan dia mendekat lalu memegang kedua pundak aku, sambil mengatakan jika mereka meninggal dengan damai dan iklas karena mereka percaya padamu saat mereka mati. Waktu akan berhenti cukup lama dan mereka berfikir dan melihat kamu ketika bapak dan ibu melihat kamu, mereka yakin bahwa kamu dapat terus hidup dan tumbuh dewasa tanpa mereka ada di samping kamu, ucap sari. Sari berbicara dengan suara yang sangat menenangkan dan dia seperti menghela nafas yang harusnya tidak perlu karena dia sudah tidak butuh bernafas lagi mungkin sekedar menunjukkan ekspresi. Dan sari berkata jika mereka masih menemani kamu disini artinya mereka belum tenang dan setengah dari jiwa mereka masih menginginkan keduniawian. Apakah kamu mau orang tua kamu harus menanggung sakit ketika mereka di samping kamu tapi pada akhirnya harus menunda nikmat kubur yang harusnya sudah di rasakan mereka. Mereka harus menghadapi kenyataan keduniawian yang fana. Cerita ini akan bersambung ke part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here