100 Hari Setelah Aku Mati Part 16 : Lubang Kesedihan Bagian 2

0
83
bukukita.com

Selain di aceh gempa dan tsunami itu juga menerjang 14 negara lainnya dan gara-gara kejadian itu banyak orang kehilangan rumah nya. Banyak orang kehilangan hartanya, banyak bapak dan ibu kehilangan nyawa anak nya atau sebaliknya dimana aku juga termasuk orang yang terkena dampak tsunami itu. Rasa takut dan kawatir menjalar di sekujur tubuh dan lemas rasanya mendengar kabar itu dan aku mencoba menghubungi bapak. Namun nomor bapak tidak bisa di hubungi dan mulai hari itu juga aku mencari kepastian tentang kabar bapak dan aku menghubungi instansi-instansi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana di aceh sana. Akan tetapi hari itu nihil sama sekali bahkan mungkin mereka juga belum tentu selamat dan rasa takut itu bahkan masih kurasakan sekarang.

Aku pun berharap agar bapak disana tidak terjadi apa-apa dan aku berharap agar bapak sedang beraksi menolong evakuasi korban disana. Aku berdoa dalam hati dan kerabat-kerabat aku mulai datang ke rumah dan mengajak aku berbicara dan memberikan dukungan. Mereka juga terus berusaha mencari kepastian kabar bapak disana. Setiap hari aku duduk di depan televise dengan menyanding telepon rumah dan handphone yang nomornya sudah aku kirim untuk konfirmasi dari badan penanggulangan bencana jika ada informasi tentang bapak dan doa tidak putus-putusnya aku panjatkan. Untuk menjaga keselamatan bapak dimana pun dia aku tidak pernah berhenti berdoa. Ingatan aku pun kembali dimana saat-saat aku kehilangan ibu aku. Aku berfikir apa iya kali ini aku akan kehilangan bapak juga? Apa ini kata-kata bapak jika aku harus siap saat bapak harus menyusul ibu. Aku pun berharap agar bapak tidak pergi sekarang dan waktu berjalan aku hanya bisa menunggu perkembangan berita lewat tv. Setiap hari jantung aku berdebar-debar saat ada telepon masuk.

Rasanya jantung aku mau meledak dan aku di tunggu oleh om dan beberapa kerabat lainnya. Pemberitaan di media semakin membuat aku takut karena pada hari pertama perkiraan korban meninggal 7000 orang, hari berikutnya bertambah menjadi 35.000 orang, 4 hari berselang jumlah korban dinyatakan lebih dari 100.000 orang dengan orang sebanyak itu bahkan jika ada jenasah di temukan, mungkin akan sulit di kenali dan aku mencoba berfikir bahwa bapak selamat. Aku berfikir bahwa bapak baik-baik saja dan bapak hanya belum bisa member kabar pada aku. Aku masih berfikir jika bapak disana sedang berjuang. Pikiran-pikiran buruk coba aku tepiskan dan dukungan teman-teman smp dan sma jug tidak putus, mereka setiap hari datang sekedar menemani aku dan tentu saja diantara mereka yang paling tampak kawatir adalah risa. Dia selalu di samping aku sampai malam hari dan aku menghargai tindakan mereka.

Aku tidak dapat memikirkan hal lain, malam hari aku hampir tidak tidur dan aku habiskan dengan solat dan berdoa. Aku memohon agar di berikan keajaiban yang sudah hampir sebulan jumlah korban terus meningkat mencapai 180.000 orang meninggal belum termasuk orang yang di nyatakan hilang. Aku pun harus kembali ke sekolah dan sebenarnya aku malas tapi berhasil di bujuk oleh kerabat-kerabat ayah dan kerabat almarhum ibu. Di sekolah pun aku tidak dapat konsen dan aku beberapa kali mendapat gangguan dari makhluk halus yang memanfaatkan emosi dan suasana hati aku yang sedang labil. Ada perasaan marah dan aku tahan terus, dimana aku berusaha fokus untuk mencari bapak dan risa lah yang menemani aku sepanjang waktu dia selalu memberikan harapan-harapan bahwa pasti aka nada keajaiban. Itu membuat aku sedikit terhibur meskipun aku tau kemungkinan nya kecil.

Aku mencoba menggunakan penerawangan aku untuk mencari bapak dan ternyata di luar kemampuan aku. Aku malah menangkap bayangan kematian ribuan orang lain dan aku mulai frustasi. Aku pun menyeka darah di hidung aku karena aku mimisan ketika merasakan jangkauan penerawangan aku. Aku pun terlelap karena mungkin kelelahan dan aku terbangun dengan keadaan tidak enak badan, aku tidak menghiraukannya namun ada satu hal yang tidak enak mengganjal hati aku, entah sesuatu perasaan tidak enak. Aku keluar kamar dengan wajah pucat dan mata merah karena terlalu banyak menangis dan aku menuju ke ruang tamu tampak beberapa om dan tante aku duduk dan mengobrol serius. Om aku pun seorang purnawirawan angkatan udara.

Tidak lama om aku menyuruh aku duduk sebentar, wajahnya tampak seperti serius dan beliau bilang seperti yang di bilang bapak jika hidup aku kedepan penuh rintangan tapi bapak aku percaya jika aku bisa melewati semua itu. Om lalu bercerita jika bapak sudah di temukan dalam keadaan meninggal. Serasa tulang ini mau copot dan aku merasa seperti di pukul atau di tusuk sesuatu di hati. Aku seperti merasakan ada sebuah lubang dan rasa sakit dan kesedihan. Aku duduk bersimpuh dan menunduk. Aku sebisa mungkin tidak menangis dan aku sebisa mungkin tidak menumpahkan air mata ini lagi namun apa daya pertahanan aku jebol akhirnya aku menangis cukup keras.

Aku merasakan hati aku sepeti di lubangin lagi dan aku menjadi piyatu saat di tinggal ibu dan sekarang aku menjadi yatim piatu ketika bapak meninggal kan aku. Ceritanya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here