100 Hari Setelah Aku Mati Part 15 : Lubang Kesedihan

0
25
bukukita.com

Bulan mei 2004 merupakan pengumuman kelulusan aku dimana sebuah notifikasi yang menentukan langkah awal aku menuju masa depan. Bapak pulang ke jogja hanya satu minggu, hanya untuk mengambil hasil ujian dan kelulusan aku. Bapak pun harus segera kembali ke banda aceh mengemban tugas sebagai satgas anti teror, intelejen atau apa lah aku sendiri kurang paham. Singkatnya aku lulus dengan predikat juara umum dari 4 mapel yang di ujikan aku mendapat nilai masing-masing 9 dan 10 dan di bawah peringkat aku persis ada risa dengan selisih total nilai 0,25. Artinya aku hanya unggul 1 jawaban lebih benar dari pada risa. Aku pun mengatakan terima kasih kepada ibu aku di dalam hati dan melihat ke atas.

Aku merayakan hari bahagia itu dengan teman-teman dan kami bersorak seolah ini lah akhir dan awal dari pendidikan kami dan kami saling berjabat tangan dan berpelukan, sedikit berbicara tentang rencana kami kedepan. Dan setelah euforia sedikit mereda teman-teman kelas aku berkumpul. Sekedar berdoa bersama untuk jalan kami kedepan dan membuat sebuah janji bahwa kami akan terus menerus menjadi teman sampai kapan pun, jika ada 1 orang sakit atau susah segera kabari 1 sama lain. Dan sebisa mungkin kita saling bahu membahu membantu bersama kominaksi akan tetap terjalin selama kita masih bisa berhubungan. Kala itu kami berjanji jika suatu saat ada reuni. Kita akan bertukar kisah sukses kami. Aku pun mengatakan jika aku sebulan ditinggal bapak dan aku kerepotan di rumah sendiri dan tidak tau juga tanggepan bapak seperti apa. Risa pun berharap agar aku tetap disini dan semoga besok aku satu sekolah dengan risa.

Kita akan selalu bersama, ucap aku pada risa. Dan risa juga bilang jika kita masih seumuran namun kelihatannya jauh lebih dewasa pemikiran aku. Minggu malam adalah hari terakhir bapak berada di rumah karena beliau tampak menikmati betul suasana rumah sambil menghisap dalam-dalam rokok filternya. Aku pun memilih tinggal dan tidak ikut dengan bapak. Karena menurut aku, aku lebih gampang dapet teman jika di aceh aku harus memulai dari awal lagi. Bapak tidak usah kawatir, aku bisa jaga diri dan mengurus diri aku sendiri dan aku ini sudah mau masuk SMA, selain itu aku bisa masak sendiri yang penting kirimannya jangan telat, ucap aku. Bapak pun mengatakan jika beliau bangga pada aku dan bapak mengatakan semenjak ibu aku pergi aku pun memang hidup mandiri. Aku pun tidak boleh manja dan suatu saat bapak juga akan menyusul ibu kamu. Bapak pun menghembuskan asap dari hidung nya dan berbicara lagi bahwa disini perkembangan aku pesat, dimana emosi dan batin kamu stabil, meskipun bapak juga tau itu tidak akan merubah takdir kamu sebagai anak istimewa.

Bapak pun menanyakan apakah aku sudah mempunyai pacar? Bapak pun berkata nya sambil tertawa. Bapak dan aku ngobrol banyak sekali dan mulai dari cerita aku di semarang, ke SMA mana aku akan melanjutkan sekolah dan niat aku untuk melanjutkan pendidikan kuliah jurusan kedokteran. Dokter aku masih konsisten dengan jawaban dari cita-cita aku. Dan kala itu aku menjawab dengan lantang jika aku mau menjadi dokter dan jawaban aku itu masih aku jaga sampai sekarang ini. Bapak hanya tersenyum mengiyakan apapun cita-cita aku, dimana bapak berkata jika jalan hidup aku, aku yang menentukan. Jika aku ingin sekolah kedokteran maka aku harus rajin belajar, ucap bapak pada aku. Bapak juga sudah nabung buat kamu besok, dimana beliau mencukupkan obrolan kami dan mengajak aku untuk istirahat. Dari nasihat-nasihat bapak membuat aku bersemangat dan dalam hati aku berjanji aku tidak akan menyerah sama keadaan.

Bapak sudah kembali ke aceh dan di waktu berjalan terus, tidak terasa umur aku sudah 16 tahun dan aku sekarang mengenakan seragam putih, aku mendapatkan kesempatan bersekolah di sebuah SMA negeri ternama di jogja dan tentunya aku dan risa sekolah di satu sekolah namun hanya berbeda kelas saja. Bulan berganti bulan dengan cepat tidak terasa sebentar lagi aku akan mengalami ujian tengah semester pertama aku dan aku menyiapkan diri dengan baik, walau aku di rumah sendirian selama beberapa bulan terakhir ini, itu tidak mempengaruhi semangat belajar aku. Akhirnya bulan desember akhir tahun merupakan hal menyenangkan karena setelah penat menyiapkan dan menyelesaikan ujian semesteran kami akan merasakan liburan yang di nanti-nanti terkecuali untuk aku.

Hari itu aku melihat tv dan memcoba cari acara yang bagus dan ternyata tidak ada. Hanya ada satu topik yang di beritakan seluruh media televisi dan kalian ingat sebuah kejadian besar menimpa indonesia pada bulan desember 2004 yaitu tsunami aceh. Sebuah bencana besar yang membunuh 200.000 jiwa. Bencana itu menambah luka kota serambi mekah yang sedang terluka konflik gam yang berkepajangan dan sekarang seolah TUHAN menguji rakyat aceh dengan di timpakannya bencana yang maha dasyat. Banyak bangunan roboh, lahan pertanian hancur dan akses komunikasi menjadi sangat terbatas. Bukan hanya aceh yang menderita namun seluruh dunia juga berduka. Cerita ini bersambung di part berikut nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here