100 Hari Setelah Aku Mati Part 142 : Lawan Aku Sekarang Bagian 5

0
32
bukukita.com

Pemeriksaan trauma dan sebagainya di lakukan secara menyeluruh dan mengecek bagaimana kesadaran aku saat di ajak berkomunikasi. Akhirnya dokter menyimpulkan aku sudah terkapar disini dan rasa nya seperti mau pecah kepala aku dan yang bisa aku lakukan hanya diam saja. Namun tidak ada tanda-tanda pencurian di rumahnya dan aku juga sangsi jika ada motif dendam kepada rizal karena anak ini tidak mempunyau musuh, sayu-sayu aku dengar percakapan yang entah di ucapkan oleh siapa. Aku berusaha keras untuk mengingat tapi semua yang aku lakukan membuat kepala aku semakin sakit dan rasa mual ini benar-benar membuat aku ingin memuntahkan isi perut aku.

Aku menggerakan sedikit tubuh aku dan merasa sangat sakit pada bagian dada seperti pernah terpukul sesuatu. Aku pun sudah ingat sekarang dan semua hal ini karena jin itu, mereka yang membuat aku seperti ini dan aku melihat ke arah risa yang sedang membelai kepala aku dengan lembut dan wajahnya terlihat sangat sedih dengan mata yang berkaca-kaca. Risa mengambil anak aku yang sedang di gendong tante sri dan mendekatkan nya ke aku. Aku bersyukur malam ini mereka tidak sampai melakukan sesuatu yang buruk pada mereka, anak 8 bulan ini dengan lucu memegang wajah aku dan seolah ingin tau ada apa dengan diri aku. Anak ini berkulit putih seperti ibunya dan dia tertawa-tawa dan dengan begitu ceria menjambak-jambak rambut aku pelan. Bapak tidak akan membuat senyuman kami ini menjadi tangid seperti yang bapak rasakan dulu, ucap aku pada anak aku.

Dan bapak akan melindungi dirimu dan dalam hati sambil membelai kepala nya. Ibunya yang memegangi abi yang sedang duduk di samping kepala aku. Om hamzah pun bertanya apa aku sudah bisa mengingat kejadian yang aku alami dan ada percobaan pencurian atau perampokan. Aku pun mengatakan jika tidak ada yang mau berbuat jahat pada aku. Lalu aku mengatakan jika bapak tidak akan percaya atas apa yang akan aku ceritakan tentang kejadian semalam. Mertua aku terdian dan beliau paham dengan apa yang aku maksud dan memilih menjawab dengan anggukan ringan tanda beliau mengerti dan beliau tidak akan bisa membuat penyelidikan tentang kasus yang menimpa aku. Hari setelah malam itu membuat banyak orang terkejut saat risa menemukan aku yang pingsan di balkon dengan mulut berdarah dan banyak yang mengira bahwa di akibatkan percobaan pencurian atau perampokan. Padahal hal yang sebenarnya terjadi pada malam itu aku sedang menghalau makhluk halus yang berusaha mengancam keselamatan abi. Aku sudah kalah namun aku tidak mau kalah dan mereka mungkin berhasil melemahkan aku. Tapi aku masih hidup dan selama aku masih hidup maka aku tidak akan tinggal diam dan rasa kawatir masih aku rasakan dimana aku dalam kondisi sehat saja dan tidak mampu berbuat banyak.

Apalagi dengan keadaan aku sekarang ini yang masih tertancap jarum infus. Aku masih takut jika mereka datang dengan cepta dan aku sebisa mungkin segera memulihkan diri dan berusaha meyakinkan dokter agar aku bisa segera pulang karena jika berada disini terus ruang gerak aku akan terbatas. Beberapa hari aku harus dirawat disini dan tanda-tanda teror mulai muncul dan membuat aku geram karena mereka mulai meneror risa. Ketika itu risa sedang mandi di kamar mandi yang ada di ruang perawatan aku dan aku sudah merasa lebih baik dan sudah bisa duduk dimana sementara ibunya mandi aku pun menjaga abi yang aku pangku di atas ranjang namun tiba-tiba aku mendengar suara teriakan risa dari kamar mandi yang membuat aku terburu-buru memosisikan abi dengan tiduran dan menahan sakit tulang rusuk aku yang patah. Aku mengambil infus yang tergantung dan segera menuju sumber suaea yang berasal dari risa.

Aku tanya dengan panik sambil menggedor-gedor pinta kamar mandi. Teriak risa dari dalam dan di ikuti pintu yang terbuka dan risa yang sudah berpakaian berlari dari dalam. Risa bilang jika ada kepala di dala kamar mandi yaitu kepala perempuan dan risa pun sangat takut. Aku segera masuk ke kamar mandi dan mengecek sendir bak mandi yang membuat risa ketakutan dan kosong di dalam nya. Risa mengatakan ketika dia akan mematikan kran, dia melihat ada rambut yang ngambang dan pas dia melihat nya ternyata itu kepala nya dan serem sekali, ucap risa. Aku mencoba menenangkan risa ketika pandangan aku mengarah ke abi dan aku langsung berlari, aku tidak mempedulikan infus yang terjatuh dan pecah berantakan di lantai. Dan itu semua membuat jarum yang tertancap di tangan aku tercabut dengan paksa dan membuat luka sobek pada tangan aku, aku berusaha meraih abi yang memang sudah mulai merangkak dan dia hampir jatuh dari ranjang dan kepalanya sudah menggantung. Hampir saja terjadi hal yang tidak di inginkan dan dengan sigap aku memegang anak aku yang hampir jatuh dan aku menggendong nya. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here