100 Hari Setelah Aku Mati Part 141 : Lawan Aku Sekarang Bagian 4

0
38
bukukita.com

Seperti ayat kursi dan surat an-anas dan banyak lagi dimana makhluk itu meronta-ronta kesakitan dan kepanasan. Aku melakukan pukulan secara membabi buta pada mereka yang ada di sekitar aku. Alhamdulilah itu membuat beberapa dari mereka mundur sebelum berhasil memasuki rumah. Aku berdiri dengan terhuyung dan sempoyongan. Aku mencium bau rambut seperti terbakar dan mereka mendesis dan meraung dan terlihat tidak senang. Satu yang terbesar menggeram dengan suara yang seperti guntur dan aku menahan rasa pusing dan mata yang berkunang-kunang dan berusaha menghiraukan rasa sesak sakit di dada. Aku berdiri setegak mungkin menunjukan bahwa aku tidak semudah itu untuk di robohkan. Siluman dan jin itu mundur sambil memberikan umpatan dan sumpah serapah pada aku.

Gendruwo itu dari tadi hanya jongkok di tempatnya sambil mengeram dan dengan marah aku tatap dia. Aku mendekati dengan langkah kaki yang terasa lemas. Makhluk yang 2 kali tingginya daripada aku itu ikut berjalan mendekat, dimana kuku tajam seperti sangkur itu terlihat berkilat dan memantulkan sinar bulan yang berpendar penuh. Aku sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Aku sudah siap duel dengan nya dan saat tangan kekar berotot itu melayangkan tinju ke aku, aku pun mengelak dan membalas dengan pukulan berisi amalan. Makhluk itu terkena telak dan mundur sambil meraung kesakitan dan tanpa di suruh ketiga temannya yang setingkat ilmu dengan nya meluncur deras ke arah aku dan di situ aku sudah merasa sampai di titik batas maksimal dan aku malah memejamkan mata namun tidak menyerah kepada mereka dan aku memohon suatu perlindungan pada Allah. Aku tidak akan pernah meragukan perlindungan nya yang benar dan cukup lama aku memejamkan mata.

Harusnya ketiga makhluk itu sudah mampu memncapaiku namun tidak ada hal apapun yang terjadi, maka aku membuka mata karena merasakan kehadiran yang lain dan begitu aku membuka mata aku seperti nya mendapat angin yang segar karena sosok kembaran beda alam aku muncul. Persis di samping aku dan aku melihat kedepan dimana jin jahat itu sudah memegangi anggota tubuhnya yang seperti hangus. Aku bilang jika makhluk itu selalu merepotkan dan tidak ada henti-hentinya membuat masalah. Sampai sekarang aku tidak tau namanya dan makhluk apa ini dan kenapa dia datang jika dia mengatakan demikian. Makhluk yang bersujud sama persis dengan aku ini sangat misterius dan sebuah misteri yang tidak bisa aku pecahkan dan mungkin tetap di jadikan sebuah rahasia oleh Tuhan.

Belum sempat menjawab sosok gendruwo itu berseru dengan suara yang sangat keras, jin tinggi besar itu berteriak dengan gusar dan dengan beriringan mereka meninggalkan kami dalam sekejab. Aku duduk di rerumputan dan kalimat alhamdulilah terucap berkali-kali dimana dengan ini abi sudah aman, begitu pikir aku sambil menahan ngilu yang luar biasa. Aku berfikir sejenak dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada dan sebuah pikiran tentang kemungkinan yang sangat buruk terlintas di benak aku. Nafas aku terengah-engah dengan cepat dan aku baru paham apa yang dia maksud kan. Mereka datang dengan banyak pengikut bujan untuk mengincar abi malam ini, namun mengincar aku dan mereka sangat licik. Mereka sungguh keji kepada aku. Mereka sengaja membuat aku melemah untuk dengan mudah mencelakai abi yang tanpa perlindungan dan ternayat itu rencana mereka dan tidak cukup peristiwa lalu. Mereka datang dengan rencana yang lebih rapi dari sebelumnya dan aku berdiri dengan susah payah untuk berdiri dan lagi-lagi aku jatuh dan merasakan memar dan sangat lemas di sekucur tubuh.

Jangan terlalu banyak bergerak dulu, duduk dan diam saja di situ, aku akan memebangunkan istrimu untuk membantu dirimu, ucap nya yang sedang jongkok di samping aku. Aku pun bilang tidak perlu karena aku ingin lihat anak aku. Aku berjalan terhuyung kekiri dan kekanan dan semuanya tampak buram namun aku berusaha untuk mencapai anak dan istri aku kemudian melewati tangga kecil di balkon aku tersandung dan jatuh. Aku tidak bisa bangkit dengan rasa lemas itu. Aku berangsur –angsur hilang kesadaran dan aku sudah tidak merasakan apapun lagi. Aku terbangun dengan kepala pusing dan rasa nya mual dan ingin muntah karena tempat ini sangat asing untu aku. Beberapa mata aku terasa silau dengan lampu berwarna putih dan ada suara-suara yang memanggil aku namun itu semua belum terlihat jelas. Dan barulah beberapa saat kemudian aku melihat risa sedang menggendong abi. Risa pun menggoncangka tubuh aku agar aku tersadar dan aku menjawab nya dengan lirih.

Aku melihat di sekeliling aku ada tirai hijau dan keramik putih dan selang oksigen yang terhubung ke hidung aku dan rupanya aku sedang ada di rumah sakit dan aku melirik ke samping kanan ada mertua aku pak hamzah dan om bowo beserta istri nya. Belum sempat mereka mendekat ada seorang dokter sudah datang dan langsung mengecek aku. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here