100 Hari Setelah Aku Mati Part 14 : Risa

0
53
bukukita.com

Kami sudah menemukan penginapan di pusat kota semarang, tempatnya cukup murah dan kami membawa kunci kamar masing-masing dan menuju kamar dimana kamar kami bersebelahan. Risa pun menagih janji aku tentang penjelasannya pada nya. Aku pun berjanji namun syaratnya risa harus mandi dulu. Risa pun mengatakan jika dirinya akan selalu iner beauty walaupun tidak mandi. Aku mandi dan langsung melaksanakan solat isak. Tidak tau kenapa setiap membayangkan risa ada rasa yang ada rasa aneh yang aku rasakan. Dan rasa itu selalu membuat aku merasa ingin tersenyum. Aku mengambil handphone dan menelpon risa di kamar sebelah. Aku pun menelpon dia dan mengatakan jadi atau tidak aku ceritakan mengenai masalah aku. Namun risa menyuruh aku menunggu 15 menit lagi karena dia ingin berpakaian dahulu.

Entah aku juga bingung, kenapa aku merasa sangat senang dan aku langsung membongkar tas ransel aku. Aku pun memilih baju yang kira-kira paling bagus. Lalu aku menyemprotkan parfum murahan aku banyak-banyak agar wangi. Kemudian aku melangkahkan kaki aku keluar kamar dan mengetok pintu kamar risa. Aku pun menyuruh risa cepat karena sudah lapar dan kami pun memang berencana ngobrol sambil makan di kafe dekat penginapan. Tidak lama pintu kamar di buka nya dan malam itu risa sangat cantik dengan menggunakan jaket feminim sambil rambut diikat ke atas. Entah baru kali ini rasanya aku benar-benar memperhatikan risa dan biasanya aku hanya melihat dia dengan pakaian seragam cantiknya. Tapi biasa saja aku melihatnya kala itu dan pada saat liburan kemarin dia juga berdandan dengan gaya tomboynya tapi malam ini entah dia terlihat sangat istimewa.

Kami pun berjalan kaki menuju kafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap dan tempatnya bagus, enak banget buat nongkrong. Kami duduk dan memesan makanan. Sambil membetulkan kancing baju aku, aku bercerita dengan risa dimana aku bercerita jika aku seorang yang pendiam dan misterius. Aku pun bercerita jika aku tumbuh tidak seberuntung risa dimana masa kecil aku sangat menyedihkan. Aku juga merasakan kesedihan saat kamu di makam, ucap risa. Pada saat itu juga peristiwa di bekas rumah aku tadi sore itu tidak masuk akal buat aku dan kamu akan aku jelaskan semua nya. Aku yakin semua ada hubungannya. Aku pun bercerita semuanya dan bermula dari pertemuan aku dengan sari, ibu aku yang meninggal secara tiba-tiba dan cerita aku saat bersekolah di SD dengan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari teman-teman aku dulu. Aku sempat berkaca-kaca kala itu, aku menceritakan secara detail sebisa mungkin.

Aku pun mengatakan pada risa jika dia menganggap kisah aku terlalu aneh dan mengada-ada aku tidak masalah. Aku juga bilang atau dia malas punya teman seperti aku yang aneh ini juga tidak apa-apa, Cuma satu permintaan aku agar risa tidak membicarakan ini pada siapa pun. Namun risa mengeluarkan kata-kata jika dia kagum dengan aku dan dengan masa lalu seperti itu dimana aku hidup dengan makian juga di anggap orang aneh. Apalagi aku merupaka orang yang di berikan kemampuan khusus dan pastina tidak mudah, ucap risa. Namun kenyataannya aku bisa sampe seperti ini baik dalam sekolah yang berprestasi di sekolah dan aku pun di kagumi oleh teman-teman aku oleh teman-teman wanita, ucap risa. Bahkan kata risa jika banyak orang yang penasaran pada aku. Tiap malam risa sudah mengetahui itu semua dan mengucapkan terima kasih sudah mau berbagi dengan nya. Risa juga mengatakan jika aku mempunyai dia untuk berbagi atau jika dia mampu dia akan bantu sekuat tenaga dia. Ada pula sesuatu yang berdesir di dada tapi rasanya nyaman sekali.

Risa mengatakan jika aku tidak usah sungkan dan risa bilang jika sari menitipkan aku pada risa. Walaupun aku akan teriak-teriak meskipun bertemu sari lagi. Kami menghabiskan malam itu dengan obrolan-obrolan pribadi yang sebagian besar aku lupa apa yang kami obrolkan dan kami berjalan-berjalan menikmati suasana malam kota semarang. Rasanya jika kehidupan ini punya remot, aku akan memencet tombol pause. Untuk menikmati momen ini lebih lama dengan risa. Kami berjalan pulang karena waktu menunjukan pukul 23.00 aku mengantarkan risa kedepan pintu kamarnya. Risa pun memberikan aku semangat agar tidak pernah menyerah. Ada banyak hal yang membuat aku semangat untuk malam menyenangkan ini. Sesuatu yang hangat menyentuh pipi aku dan risa mencium aku hanya bengong dan memegangi pipi aku. Risa pun tersenyum dan tanpa berkata apapun menutup pintunya dan aku masih tertegun, ada perasaan yang tidak karuan bercampur aduk di dada. Cerita ini besambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here