100 Hari Setelah Aku Mati Part 139 : Lawan Aku Sekarang Bagian 2

0
20
bukukita.com

Tiba-tiba orang di samping aku mengatakan jika dia sudah mendengar cerita aku dari kyai. Aku pun tanya cerita apa yang dia maksud kan.Ridwan masih berumur sangat muda namun kyai yang mengajari aku dulu dan mungkin aku bisa sebut dia adik seperguruan. Perkataan nya yang polos membuat aku sedikit tersenyum dan aku duduk menghadap remaja dengan kaos hitam berlogo yogyakarta itu. Dia bilang manusia itu tidak ada bedanya karena kita punya sifat dasar yang sama dan aku pun mengangguk yang di maksud anak ini adalah baik dan buruk dimana semua manusia memiliki ini seperti jin yang bertolak belakang namun satu tubuh. Hal ini di gunakan agar semua orang tau jika mereka itu tidak sendiri dan ada dunia selain yang kita tempati sekarang.

Ada dunia lagi setelah kita mati dan agar tidak ada lagi si congkak yang merasa kuat dan si pemalu yang merasa lemah dan agar mereka tau ada orang yang hidup dengan jalan yang tidak bisa di bayangkan seperti jalan hidup aku dan pemuda itu mengatakan aku harus semangat. Tidak semua akan percaya dan tidak semua orang akan siap. Kita tidak bisa memaksa bola mata kita untuk masuk ke kepala orang lain supaya bisa melihat apa yang kita lihat. Kita tidak bisa mencopot otak kita dan menaruhnya di kepala mereka agar mereka paham apa yang kita pikirkan tentang dunia yang serba pararel ini. Mereka hanya akan mengatakan kita sedang menceritakan dongeng dan fiksi karena aku pernah mencoba nya, ucap aku pada ridwan. Aku pun menceritakan pengalam aki kepada junior baru aku ini.

Ridwan mengatakan jika aku tidak harus memaksa mereka untuk percaya dan aku cukup memberitahu kan mereka yang percaya saja. Mereka yang mau menerima kenyataan dan pemahaman. Kita menceritakan pada orang yang tidak tinggi hati untuk menerima hal tabu yang tidak biasa mereka lihat. Tidak sombong untuk pengetahuan tentang kebesaran Tuhan yang nampak dan tidak nampak. Dan selebihnya akan kita percayakan kepada mereka. Remaja ini begitu cerdas dan pemahamannya melebihi aku tentang aspek yang dia bicarakan dan sejenak aku merasa ada hikmah dan pelajaran baru dari kyai yang menjadi guru aku dan anak muda ini yang membuka pandangan aku. Aku juga mengatakan setelah semua ini selesai dan setelah kamu sedikit lebih besar kita akan membicarakan nya lagi. Obrolan kami pun terhenti saat pintu kamar itu terbuka dan kyai beserta risa yang menuntun beliau keluar dari dalam ruangan.

Semoga semua nya akan baik-baik dan semoga kamu selalu di lindungi karena simbah sudah berusaha sekarang tinggal diri aku yang harus menjaga anak aku. Simbah mengatakan jika dia tidak bisa lama-lama karena beliau harus kembali ke pesantren. Ketika itu kyai memberikan wejangan terakhirnya kepada aku. Aku mengangguk dan memberikan pelukan pada beliau dan dalam hati ada sedikit rasa kawatir namun bukan karena anak aku tapi bagaimana aku akan mengarahkan keistimewaan nya menjadi hal yang bermanfaat untuk diri nya dan bagaimana aku akan terus mengawal anak aku yang begitu istimewa ini. Beberapa waktu setelah kedatangan kyai dan ridwan, anak aku menunjukan kemajuan dan kondisi tubuhnya sudah sangat stabil dan setelah 3 hari abi anak aku pun sudah boleh di bawa pulang ke rumah. Kami berdua sangat senang baik aku maupun risa, namun seperti yang di bilang kyai dimana anak aku belum bebas dari incaran jin itu dan itu akan membuat aku terus waspada dalam mengawasi anak aku ini.

Risa memutuskan untuk keluar dari pekerjaan nya dan memilih merawat abi di rumah untuk sementara dan sampai semuanya sudah membaik seperti sedia kala dimana aku juga selalu mengisi keseharian aku dalam koas dengan buru-buru. Agar bisa segera pulang dan menjaga anak aku. Sekitar satu bulan setelah kejadian itu, maksud aku ketika satu bulan adalah karena itu bulan purnama. Dan persis seperti saat pertama abi mendapatkan gangguan. Aku yang susah tidur tiba-tiba terbangun karena merasakan hawa itu dimana hawa dingin yang singup itu. Kemudian satu hal lagi yang aneh adalah aku mendengar gamelan yang berlalu begitu membuat berisik telinga aku. Tabuhan dari alat yang di pukul dan nyanyian sinden dengan nanda tinggi. Dimana tembang jawa itu tidak berasa asing dan mengerikan karena aku mendengar ada kalimat pejah yang arti nya mati yang di ulang berkali-kali.

Aku terbangun dari kasur dan berusaha membuat 2 orang yang tidur seranjang dengan aku ini tidak terbangun. Aku kenakan lagi cincin pemberian kyai, doa dan amalan pelindung aku lantunkan dan aku amalkan untuk melindungi kamar ini dari serbuan mereka yang aku rasakan memang mulai dekat sekali. Dan ternyata memang benar aku merasa kehadiran mereka sudah sangat dekat. Aku pun berlari untuk menuju sumber energi negatif itu yang bersumber dari halaman belakang rumah aku. Bersambung di cerita berikut nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here