100 Hari Setelah Aku Mati Part 138 : Lawan Aku Sekarang

0
8
bukukita.com

Aku pun tanya ke kyai apakah jin-jin itu akan datang lagi? aku tanya dengan berbisik agar risa tidak cemas jika dia mengetahui hal ini. Untuk beberapa detik kyai diam dan dahinya berkeriput di situ dia terlihat makin berkerut dan wajah memang sudah berumur beliau yang sudah 85 tahu. Akan tetapi memang mengherankan dengan umur sesepuh itu dirinya masih begitu sehat. Bahkan bisa membantu aku yang masih muda dan sehat sentosa ini. Beliau membetulkan letak kaca mata yang berwarna kuning emas yang menempel di depan mata nya dan tampak sekali beliau sedang memikirkan sesuatu. Dan kyai mengatakan jika mereka tidak akan kapok di usir apabila hanya sekali saja. Kyai mengatakan dirinya tidak muda lagi dan tidak sekuat kamu. Sebaiknya kita bicara di luar saja supaya istri kamu tidak mendengar, ucap kyai.

Kami bertiga keluar dari kamar dan pemuda yang baru aku kenal bernama ridwan itu. Aku tanya apa yang terjadi dengan anak aku? aku tanya kenapa anak aku sama dengan aku? aku dapat merasakan mata batin anak aku bahkan di usia nya yang masih balita ini. Kyai membenarkan letak peci beludru berwarna hitam itu dan jari tanya mengetuk-ngetuk kursi dari besi yang kami duduki di samping ruangan abi. Sepertinya kyai sedang membuat wejangan yang sedang di pikirkan beliau. Kyai mengatakan pada aku jika dia sudah hidup cukup lama dan jauh lebih lama dari aku. Simbah pun pernah mempunyai anak dan itu semua tidak luput dari yang namanya ujian karena anak itu merupakan anugerah dan sekaligus ujian.

Simbah mengatakan jika anak aku itu bentuk kebahagiaan diriku yang di hidupkan secara lahiriyah dan batiniyah yang langsung di turunkan Allah untuk diri aku dan istri aku. Allah juga menguji aku dengan kelahiran anak aku dan menguji bagaimana iman aku dan perilaku aku sebagai imam. Bagaimana tindak dan tanduk aku mengawal anak aku menjadi anak yang bisa duduk rendah dan tinggi berdiri. Pernikahan itu bukan hanya perkara bisa cari uang tapi perkara diri aku bisa menghadapi badai dalam kehidupan dan berbagai macam badai itu dan hari ini dirimu baru merasakan badai kecil yang pertama. Aku mengangguk tanpa paham apa yang di katakan simbah namun yang memiliki indra lebih dan aku tidak mau ketika rasa sakit yang sudah pernah aku terima ini dan akan ikut dirasakan abimanyu kelak.

Simbah mengatakan jika aku terlahir istimewa dan kenapa diri aku harus menyesali jika anak aku mewarisi darah aku. Simbah bilang jika dirinya ingat sekali ketika almarhum ayahnya datang ke simbah dan simbah mengatakan apa yang aku alami seperti sekarang ini. Namun bapak aku tidak mengalami penyesalan sama sekali di wajah bapak aku dan beliau sudah sangat iklas mempunyai anak seperti aku. Anak yang berbeda dari kebanyakan anak yang lahir di arcapada ini. Bapak aku sudah sadar jika yang di bawa anak itu adalah anugerah dan apa yang di terima orang tua merupakan ujian. Kyai menjelaskan sebuah wejangan yang membuat aku hanya tertunduk, tertunduk malu dan kata-kata itu benar-benar menusuk hati aku dan menyadarkan aku begitu bodohnya aku dan begitu munafiknya aku dan begitu berdosanya aku dan aku sudah bersalah. Simbah bilang tidak perlu ada yang di sesali karena sekarang yang penting bagaimana anak aku yang masih terlalu kecil dan jika di tanya simbah tidak bisa jawab kenapa anak sekecil ini sudah menunjukan tanda keistimewaan nya namun semua itu sudah menjadi kehendak Allah yang tidak bisa di rubah oleh manusia. Kyai sepuh itu berdiri dari duduknya dan di bantu ridwan bahkan sulit bagi aku mengukur tinggi nya ilmu kyai. Beliau sudah tua namun masih bisa menghadapi 4 sosok goib yang berhasil membuat aku bingung dan beliau masih sanggup dan tidak terlihat lelah sama sekali.

Jin itu berjumlah 4 dan jin itu merupakan penguasa yang memiliki pengikut dan teman kamu yang goib itu juga menjelaskan jika dia di siksa oleh sosok tertinggi mereka yang berujud gendruwo itu karena berusaha memperingatkan dirimu waktu itu. Namun jangan takut karena sekali lagi simbah mengatakan diri aku jangan takut karena semua ini sudah menjadi qodrat manusia yang lebih tinggi derajatnya dari mereka. Untuk sementara ini anak aku sudah aman dan simbah mengatakan dia sudah memagari dan mendoakan anak aku. Namun ada batasnya dimana simbah tidak bisa menjamin berapa lama dan semua nya kembali ke diri kamu sebagai bapak nya. Bagaimana aku harus melindungi anak aku dari godaan jin dan manusia. Sekarang simbah akan pergi masuk dan memberi amalan doa pelindung anak aku.

Simbah pun memahami jika aku begitu capek dan belum tidur dan simbah pun juga menjelaskan nya ke istri kamu. Aku hanya bisa menurut dengan perktaan kyai dan kini aku hanya bisa tertunduk lesu karena perkataan kyai tadi masih terasa panas menampar hati aku. Bersambung ke cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here