100 Hari Setelah Aku Mati Part 137 : Hadapi Aku Dulu Bagian 3

0
11
bukukita.com

Seketika itu juga aku betul-betul merasakan 4 hawa negatif. Aku melewati beberapa orang di sepanjang lorong itu dan seseorang berjas putih itu menoleh ke arah yang berlari kencang. Sepintas aku mengenalinya merupakan dokter yang menangani abi namun aku tidak akan puas jika hanya bertanya dan aku putuskan terus berlari tanpa melihat dari panggilan dokter itu yang memanggil nama aku. Sekitar 4 meter sebelum aku sampai ruangan itu hawa negatif dari mereka sangat terasa dan sejurus kemudian. 4 bayangan yang keluar menembus pintu dan hilang tidak bersisa secara sekejab, sangat cepat dan terlalu cepat untuk bisa di tangkap oleh mata batin aku. Aku sudah kepalang tanggung di depan pintu kamar anak aku dan dengan cepat aku buka pintu itu.

Suara pintu yang terbanting keras pasti terdengar di sepanjang lorong dan sungguh tindakan aku sangat tidak terpuji untuk ukuran orang yang pernah mengenyam pendidikan dokter dan begitu masuk dan aku di hadapkan dengan posisi risa yang sedang menangis sedih di samping abi yang menutup mata nya. Aku dengan bergetar dan aku sangat ketakutan dimana aku sangat takut jika kemungkinan paling buruk yang terlintas di pikiran aku memang benar terjadi. Risa yang menghambur dan memeluk aku dengan sangat erat. Aku memanggil risa dengan suara bergetar dan aku mulai beranggapan bahwa hal paling buruk sudah terjadi dan aku terlambat untuk semuanya. Risa mengatakan jika abi menangis tiba-tiba dan muntah-muntah dan kondisi abi turun lagi dari semalem.

Dokter pun kebingungan dengan kondisi abi tapi akhirnya bisa di tolong dan abi tiba-tiba stabil lagi. Muntah nya tidak berhenti dan ada keajaiban makan nya aku lega, ucap risa. Aku memeluk risa dengan erat dan dengan sangat lega mendengar jawaban risa. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengucapkan alhamdulillah pada Tuhan yang sudah melindungi anak aku dari gangguan makhluk terkutuk itu. Aku pun mengatur nafas yang begitu cepat dan stamina aku terasa habis terkuras. Aku mendekat ke tempat tidur abi dan terlihat tubuh kecilnya sedang terpejam tidur. Dan dalam ruangan yang bercahaya lampu itu, aku melihat ada 2 bayangan selain bayangan aku dan risa dan aku segera menoleh ke belakang. Dan orang yang di belakang aku benar-benar membuat aku kaget. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia disini. Dia adalah kyai yang pernah aku ceritakan di sebelumnya dan beliau yang sudah pernah merawat dan menguatkan aku.

Ini merupakan sebuah kejutan besar setelah lebih dari 6 tahun aku tidak bertemu dengan beliau dan kini semua jelas pertolongan Allah datang lewat perantara kyai. Pertolongan disaat genting dan tidak terduga seolah semua ini sudah di takdirkan gusti Allah. Pasti beliau yang mengusir makhluk-makhluk jahat itu karena sepintas saat aku melihat bayangan yang melesat menembus ruangan itu aku juga mendengar teriakan minta ampun. Aku menyalami beliau dan mencium tanganya kemudian memeluk nya dengan erat. Sosok yang selama ini aku rindukan dan terakhir aku bertemu dengan beliau merupakan di peletakan batu nisan bapak. Perkataan terakhir beliau adalah akan menemui aku setelah aku dewasa. Seperti tau sebelum waktu nya. Dan beliau menepati perkataan nya dan menempatinya di saat yang tepat dan di saat aku sudah hampir buta dengan harapan dan aku sudah hampir menyerah kalah.

Kyai pun menepuk pundak aku dan meremas aku karena beliau senang melihat aku sudah sebesar ini. Aku mengatakan bahwa ini semua berkat kyai dan aku pun mengucapkan terima kasih sudah menolong aku dan keluarga. Kyai mengatakan jika aku sudah tumbuh dewasa dan dia tidak menyangka jika kamu akan berkeluarga secepat ini. Kyai mengatakan kangen dengan aku dan memang berencana menemui aku dan keluarga aku seperti yang dulu dia lakukan. Kyai memutuskan ke sini karena kyai paham dia memiliki murid seperti aku. Kyai mengenalkan pemuda di sebelahnya dan menyalami aku. Dia adalah orang yang terlahir berbeda sama seperti aku. Kyai pun bilang jika dirinya sudah mengetahui jika ini akan terjadi. Kyai bilang sahabat aku yang bernama sari memberitahu beliau jika detik-detik mejelang akhir ada kisah yang akan terungkap. Dan sebagian nya lagi akan menjadi sebuah misteri.

Tuhan membua tmisteri bukan untuk di pecahkan sebelum hal itu terjadi dan Tuhan membuat misteri untuk kita selesaikan saat itu terjadi karena adalah berbeda antara mengetahui jalan nya dengan menjalaninya. Anak aku belum bebas dari bahaya dan sari menunggu di 100 hari setelah kematian nya. Ada penyesalan yang aku rasakan kepada teman aku itu, kepada sari dimana beberapa waktu lalu aku sempat berprasangka buruk kepada sahabat beda alam itu. Sekarang aku malah di berikan bantuan olehnya dan jika saja sari tidak datang kepada kyai tentunya dan aku sendiri tidak bisa membayangkan. Kemungkinan buruk apa yang terjadi pada risa dan abi apabila kyai tidak datang hari itu. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here