100 Hari Setelah Aku Mati Part 136 : Hadapi Aku Dulu Bagian 2

0
10
bukukita.com

Aku memutar handel pintu itu dengan paksa namun benar memang pintu itu di banting dan di kunci paksa dari luar. Aku pun mengeluarkan kunci pintu dari saku dan berusaha membuka nya dengan kunci yang aku bawa. Namun kunci itu malah patah menjadi 2 dan potongan nya tertinggal di dalam lubangnya dan membuat aku mustahil membuka nya menggunakan cara itu. Teriak aku pun dengan menendang pintu itu keras-keras dan aku merasa sangat marah. Aku begitu marah dengan makhluk-makhluk itu. Dan apabila terjadi sesuatu dengan risa dan abi dan terjadi hal buruk pada mereka maka aku tidak akan lepaskan makhluk jahanam itu. Aku malah seperti kesetanan dengan emosi yang memuncak aku mendobrak-dobrak pintu itu memakai lengan dan hal yang aku lakukan sungguh sia-sia. Pintu itu tidak bergeming, aku pun kesal dan pikiran aku saat itu buyar dan sama sekali tidak bisa berfikir dengan lurus.

Aku mencari cara untuk bisa keluar dari jebakan ini dan aku berlari menerjang menuju pintu namun tidak ada di situ. Sekali lagi aku harus mengakui bahwa cara licik mereka benar-benar membuat aku kalap tidak karuan. Aku mengambil jalan lain dengan keluar dari jendela yang bisa aku buka itu pun dengan paksa. Aku sudah seperti maling yang berusaha keluar rumah korbannya. Dan seketika aku terjatuh dari jendela dan aku tidak pedulikan sikut aku berdarah dan berlari sekuat tenaga dan masuk ke dalam mobil. Hari itu benar-benar aku di kerjai oleh makhluk itu. Saat aku akan berangkat mobil yang mau aku pakai tiba-tiba saja mati sendiri. Aku sudah cukup lama membuang waktu dan makhluk-makhluk itu sudah mengulur waktu aku cukup lama dan aku tidak mau membuang waktu lagi.

Tiap detik nya begitu berharga dan aku memutuskan untuk lari. Aku memutuskan untuk lari dan membiarkan pagar itu terbuka dan aku juga membiarkan kunci mobil itu tertancap di dalam nya. Sekali lagi kukatakan aku tidak peduli dan satu-satu nya hal yang aku pedulikan merupakan anak aku abimanyu dan risa. Aku berlari untuk menemukan tukang ojek yang bisa mengantar aku ke rumah sakit. Dan tanpa banyak basi-basi aku langsung meminta tukang ojek ke rumah sakit yang aku kenal dengan beliau dimana beliau bernama bapak rahman itu untuk ngebut mengantar aku ke rumah sakit dimana anak aku di rawat. Akhirnya pak rahman pun mengikuti instruksi aku dan tanpa bertanya dia langsung mengantar aku ke rumah sakit dengan cepat. Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke rumah sakit yang berada di utara jogja ini di tambah jalanan yang padat merayap membuat aku jengah.

Jantung aku terasa berdetak sangat cepat dan jika saja aku mengidap penyakit jantung mungkin aku sudah mati dan perasaan takut itu sudah menjalar kesekucur tubuh. Aku bisa merasakan nya bahkan sampai tulang aku. Dan perasaan cemas itu membuat aku tidak bisa tenang dan tidak hentin-hentinya dan aku memohon perlindungan kepada yang maha hakiki. Yang maha melindungi yang maha perkasa dan semoga semuanya baik-baik saja dan begitu terus yang aku ucapkan dalam hati. Motor bebek pak rohman melaju sampai jarum di spido meternya hampir menyentuh garis maksimal. Bahkan kami sempat di teriaki oleh satpam karena melaju dengan kencangnya saat masuk ke lingkungan rumah sakit dan akhirnya dengan perjuangan yang berat aku sampai di rumah sakit itu. Aku merogoh saku dan memberikan beberapa lembar uang kepada pak rohman. Aku berlari sambil berlari dengan tergesa dan aku tidak sempat menghitung uang yang aku berikan atau lebih tepatnya sekali lagi aku tidak peduli. Aku berlari sepanjang koridor hingga menjadi tontonan pengunjung yang berat aku sampai di rumah sakit itu dan aku merogoh saku dan memberikan beberapa lembar uang kepada pak rohman.

Aku sambil berlari dengan tergesa dan aku tidak sempat menghitung uang yang aku berikan dan lebih tepatnya sekali lagi aku tidak peduli. Aku berlari di sepanjang koridor dan menjadi tontonan pengunjung rumah sakit. Mereka menatap aku penuh tanya dan segera menuju lift karena bangsal perawatan abi berada di lantai 4. Aku merupakan orang yang bisa menahan diri namun tampaknya hari ini tidak berlaku dan saat ini aku sedang kalap juga emosi. Tanga aku mengepal dan aku bentur-benturka ke dinding lift itu karena aku menganggap lift itu naik terlalu pelan dan beberapa orang menoleh ke arah aku dengan tatapan risih. Aku seperti preman saja dan jika ada yang menegur mungkin tidak segan aku jawab tidak peduli. Akhirnya lift ini terbuka dan aku segera keluar dari jalan manusia yang menghalangi jalan aku.

Aku acuhkan gerutuan orang yang terdorong dan tersenggol oleh aku yang berusaha keluar dengan paksa itu dan ini dia kamar abi berada di ujung koridor dan semakin dekat aku ke kamar itu bahkan semuanya semakin terasa. Semakin terasa hawa dingin tidak mengenakan. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here