100 Hari Setelah Aku Mati Part 134 : Jangan Teror Keluarga Aku Bagian 4

0
42
bukukita.com

Risa mengangguk dengan senyuman tipis yang dia paksakan dan aku tau sifat risa yang seperti ini berarti dia tidak ingin menunjukan bahwa dia tidak ingin aku lebih kawatir. Aku berjalan meninggalkan ruangan dan melangkah melewati lorong rumah sakit yang masih sepi dari aktivitas itu. Deretan kursi besi khas rumah sakit berjejer dan fokus aku adalah ke mushola kecil yang ada di ujung lorong itu. Aku mengambil wudhu dan ikut sholat bersama beberapa jamaah yang sudah lebih dulu mendirikan sholat dari pada sholat. Selepas sholat aku masih bersimpuh dengan waktu yang cukup lama dan aku masih berdoa khusuk dan memohon pertolongan yang maha penyembuh. Untuk mengangkat apa yang di derita anak aku dan berdoa untuk segala bentuk keselamatan nya di dunia. Aku berdoa semoga di lindungi dari segala bentuk gangguan dan marabahaya seperti barusan.

Aku menyudahi ibadah aku dan segera berjalan kembali ke ruangan perawatan abi. Aku melewati jalan yang sama seperti aku menuju kemari tadi. Ketika aku lewat lorong dengan deretan kursi besi, aku melihat sosok itu dan itu sobat kecil aku sari. Aku yakin itu sari sedang duduk di deretan kursi paling ujung sambil menoleh ke arah aku dan dia duduk dengan wujud anak-anak seperti pertama kali kita bertemu. Tidak lama aku menghampiri sari karena aku lihat dia seperti sengaja menunggu aku disana. Aku berkata pada sari akhirnya dia datang dan sari mengatakan jika dia adalah teman aku sambil dia memainkan kakinya yang di ayun-ayunkan. Aku bertanya pada sari kenapa dirinya kelihatan tidak senang waktu hari pernikahan aku. Dia bilang dirinya tidak senang ada golongan aku yang mengganggu keluarga dari teman aku, ucap sari sambil menoleh ke arah pintu ruangan perawatan anak aku.

Aku pun bingung dengan maksud perkataan sari. Sari mengatakan jika anak aku sama seperti aku yang sudah di gariskan dan bahkan sebelum dia lahir. Dimana seperti diri aku yang mana banyak golongan aku yang menyukai aku. Begitu juga dengan anak aku dan ada yang berniat buruk pada keluarga aku. Dia mencari tumbal untuk di korban kan. Aku paham dengan maksud sari bahwa yang dia maksud itu merupakan sosok hitam. Dia ada di belakang risa istri kamu, ucap sari. Dia berada di pernikahan kamu ketika itu. Dan aku berusaha menjauhkannya tapi aku tidak cukup kuat untuk membuatnya pergi. Aku menampakan diri dengan wujud lain, ucap sari. Sari berharap agar diri aku paham dan jika ada bangsa kami yang berniat buruk maka hal itu terjadi.

Sari pun tidak bisa lama-lama di situ karena itu ujian berat aku dan sari takut sosok hitam itu akan menyiksa sari. Dan sari takut dirinya tidak membiarkan sari pergi. Semua ini membuat aku bingung. Tapi ada semacam benang yang saling menghubungkan dimana kali ini aku benar-benar butuh pertolongan dari kyai. Aku melangkah masuk ke dalam ruangan aku pandang kedua orang itu. Aku pun mengatakan tidak akan membiarkan hal buruk akan terjadi. Aku menulis 2 lembar surat izin yaitu untuk tempat kerja risa dan tempat aku melaksanakan koas. Aku pun pamit pada risa untuk mengantar surat ijin dulu dan mengambil beberapa perlengkapan. Aku pun mengangguk dan pamit kepada risa dimana seperti biasa dia meraih tangan aku dan mengecupnya. Risa pun berpesan agar berhati-hati dan jangan mengebut. Aku memberikan senyum dan mencium istri aku lalu berjalan pergi. Di dalam mobil aku memikirkan kejadian itu dan aku heran kenapa harus anak aku. Dan kemunculan sari yang memberi info pada aku akan adanya bahaya jika aku tidak hati-hati. Sosok gendruwo itu bukan sembarangan jin namun kadang jin yang berilmu tinggi karena memang kanuraganya yang besar dapat menyamarkan kehadirannya.

Dimana semakin tua maka dia akan semakin sakti dan semakin halus. Bahkan mungkin terlalu halus sekalipun dewi yang merasakan. Sahabat aku yang mempunyai tingkat kepekaan yang melebihi aku. Jika saja aku tau hal ini akan terjadi tentunya aku akan memilih langsung berduel dengan makhluk itu dan bukan hanya menggertaknya seperti semalam. Pukul 8 pagi dimana jalanan tidak terlalu sibuk dan aku dapat melaju dengan lancar dan tidak terburu-buru. Walau pikiran aku tetap melayang kepada abi. Aku merupakan tipe orang tua protektif yang selalu mengkawatirkan anak aku. Hal ini di karena kan rasa cinta aku yang amat sangat kepadanya. Aku tidak tega melihat tangan mungil itu harus rela di tusuk dengan jarum yang mengalirkan obat ke dalam tubuhnya. Aku tidak tega melihat anak aku yang masih balita harus menanggung sakit sepeti ini. Dan aku tidak rela jika kelak anak aku menanggung dan mengalami apa yang dirasakan bapaknya. Bahkan di umurnya yang belum genap satu tahun abi sudah mendapatkan cobaan pertama nya. Disini aku mempertanyakan kepada Tuhan. Bersambung ke cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here