100 Hari Setelah Aku Mati Part 133 : Jangan Teror Keluarga Aku Bagian 3

0
80
bukukita.com

Aku buru-buru bangun dan mengecek abi dimana pada saat itu tubuhnya bersuhu tinggi dan dia menangis dengan kerasnya. Aku melihat sisa muntahnya yang berwarna kehijauan. Sangat aneh dan abi masih di beri asi dan untuk makanan tambahan belum terlalu sering di berikan. Namun mengapa muntah nya seperti ini, aku pun menjadi sangat bingung dengan kondisi abi. Risa pun mengajak aku ke ugd karena dia takut abi kenap-kenapa. Risa pun segera siap-siap dan membawa baju seadanya sedangkan aku mengeluarkan mobil dan dengan segera aku beranjak keluar membuka garasi dan pagar untuk mengeluarkan mobil. Risa di samping aku dengan menggendong erat abi dan kami segera masuk mobil dan aku memacu kendaraan secepat yang aku bisa.

Abi ketika itu kondisi nya masih muntah terus dan risa pun mulai panik dari kursi belakang dan aku membenamkan kaki pedal gas lebih dalam agar segera sampai ke rumah sakit yang ada di utara jogja. Jalanan ringroad yang masih senggang membuat aku benar-benar ngebut sekencang yang aku bisa. Setiap saat aku mengecek risa dan abi lewat spion tengah dan terlihat risa sudah menangis karena melihat kondisi abi yang drop secara tiba-tiba. Aku sangat tidak konsentrasi ke jalan karena harus membaginya untuk menanyakan kondisi abi dan sebagainya. Teriak histeris risa dari belakang dan aku kalap segera memacu mobil tua ke batas kecepatan maksimal, dimana keringat dingin mulai keluar dan perasaan amat cemas yang teramat hingga membuat perhatian aku buyar. Aku menyalib truk bahan bakar berukuran besar di depan aku yang menghalangi jalan dan aku dalam hati bicara stir ke kanan sambil memainkan kopling aku.

Pandangan aku kembali ke depan dan dengan mendadak aku putar stir itu ke kiri karena di depan mobil kami ada truk yang mogok di tengah jalan dan hampir saja aku tabrak. Mobil pun bunyi ketika belokan tajam di barengi dengan bunyi kencang dari klakson dari truk tangki bahan bakar di belakang aku yang mengerem dengan tidak baik. Aku pun tidak peduli dengan truk yang ada dan segera melaju kedepan dan di belakang aku risa menjerit ketakutan. Hampir saja celaka dengan menghela nafas dan jika saja dia tidak muncul pasti aku sudah menabrak truk itu. Aku meoleh ke sisi kiri dimana aku yakin ada sari yang duduk di situ namun aneh kursi di samping aku tetap kosong. Namun mata ini tidak pernah berbohong dan itu sari yang benar-benar sari yang memperingati aku agar tidak celaka. Namun aku tidak akan memikirkan itu sekarang dan hanya memikirkan anak aku saja.

Dan akhirnya aku bisa membawa abi sampai ugd dan abi segera di tangani petugas medis dan kami harus bersabar menunggu sampai dokter jaga yang menangani abi selesai. Risa pun menangis tiba-tiba dan tangisan nya membasahi wajahnya ke pundak aku dan aku sendiri pun tidak bisa berfikir. Berbagai spekulasi muncul di otak aku tapi aku tidak ingin membuat risa bertambah takut dan panik. Kita berdoa semoga anak aku abi tidak apa-apa dan semua baik-baik saja. Aku pun merangkul risa dan 20 menit dan 30 menit dokter baru keluar dari kamar penanganan pasien. Dokter menyuruh aku tenang dan mengatakan jika anak kami sudah mulai stabil di lihat dari hasil cek darah tadi ada indikasi jika putra ibu mengalami keracunan. Putra kami di inap kan di rumah sakit malam ini dan sampai kita melihat perkembangan kesehatan nya besok. Risa menggenggam tangan aku dan tangannya sangat dingin dan bergetar. Pasti dia masih shock dengan keadaan abi yang tiba-tiba keracunan tanpa tau apa sebab nya. Kami hanya bisa mengangguk tanda faham yang di katakan dokter dan segera setelah abi di pindahkan ke bangsal lain dan kami di perkenankan masuk.

Abi sedang tidur dan aku tidak tega melihatnya karena usia nya belum genap 12 bulan kini harus terbaring sakit disini dan prasangka buruk aku langsung mengarah ke makhluk itu. Makhluk gelap yang mendatangi aku. Aku memandang risa yang duduk di samping abi sambil menangis tertahan dan aku tidak tega melihat risa ketika dia menangis sedih seperti itu. Aku mengatakan kita harus sabar dan harus kuat karena aku yakin jika abi itu kuat seperti diri risa. Dan kita harus percaya dengan anak kita sambil aku memegang bahu risa dari belakang. Risa memeluk aku dan mengatakan jika dirinya sangat takut. Aku mengatakan jika aku juga takut tapi kita tidak boleh takut dan harus kuat. Fajar sebentar lagi tiba dan adzan subuh sudah berkumandang dan mengajak umatnya untuk bangun dari tidurnya dan mendirikan solat karena sesungguhnya solat itu lebih baik daripada tidur. Aku dan risa masih menunggu abi di bangsal anak. Tidak lama aku meninggalkan risa solat dahulu dan aku mengatakan jika ada apa-apa dengan abi aku yakin risa bisa berbuat sesuatu. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here