100 Hari Setelah Aku Mati Part 132 : Jangan Teror Keluarga Aku Bagian 2

0
19
bukukita.com

Abi bahkan mempunyai sesuatu yang lebih besar dari yang aku miliki dan semua ini membuat aku risau. Aku duduk di sofa dan mendudukan abi di pangkuan aku dan aku memberikan mainan kesukaan abi berupa bebek dari karet dan mengelus kepalanya. Memori aku memutar ke masa lalu dimana kyai dulu mengatakan bahwa kehidupan orang seperti aku tidak akan mudah dan akan kah itu menurun pada abi anak aku. Aku sangat tidak ingin abimanyu ikut merasakan kejadian-kejadian itu. Kejadian yang membuat aku menjadi anak yang penakut dan minder. Kyai dulu tidak bisa menutup bakat lahir yang sudah di karuniakan kepada aku. Sungguh aku berdoa agar hal yang aku kawatirkan itu tidak menjadi kenyataan.

Malam hari purnama bersinar penuh baik abi dan risa sudah tidur di satu tempat tidur dan aku melihat mereka yang tidur dengan nyaman nya. Aku mendekat dan mencium kening putra kesayangan aku itu. Aku mengelus rambut ibunya yang masih terlihat ayu bahkan setelah sekian lama aku mengenalnya. Malam itu aku tidak bisa tidur dan aku menuju ke ruang tengah dan menyalakan tv sekedar membunuh rasa cemas yang sedari tadi mengganggu aku. Aku hanya menonton acara berita dan hari sudah menjelang tengah malam saat hawa dingin itu muncul dan hawa dingin negatif yang sedang mendekat ke rumah aku. Aku berdiri dari sofa tempat aku duduk dan mencari asal energi itu dan indra aku menuntun aku ke belakang pintu belakang. Dengan hati-hati aku buka pintu itu dan benar saja sosok itu muncul malam ini. Sosok yang terlihat seperti golongan genderuwo itu berdiri dengan jarak yang tidak seberapa jauh dari ambang pintu dimana aku mematung karena aku heran dengan ukuran tubuh makhluk raksasa itu.

Mungkin sekitar 5 meter dan 5 meter lah tinggi nya dengan bulu lebat berwarna hitam legam. Wajahnya menakutkan menyerupai kera dengan moncong seperti anjing dimana kepalanya seperti manusia dengan rambut gondrong yang menjuntai kumal sampai punggungnya. Lidah nya menjulur berwarna merah darah yang mengeluarkan liur seperti lendir berwarna putih pucat. Dan bau makhluk itu begitu busuk dan baunya seperti bangkai yang akan membuatmu muntah apabila berada di dekatnya dan matanya besar dan merona merah dengan pendar cahaya yang semakin membuat bulu kuduk aku berdiri. Tanganya besar dan berotot dengan menggaruk-garuk tubuhnya dimana cakar yang seperti belati itu mengayun ke udara. Dia terlihat seperti binatang buas seperti beruang yang sangat menakutkan.

Makhluk itu mengatakan jika dia ingin mengawal anak aku dan aku bilang anak aku tidak perlu di kawal. Jin itu mengatakan jika aku merupakan bapak yang bodoh dan dia mengatakan jika anak aku akan menjadi tempat menyenangkan untuk dirinya bermain. Aku pun mengatakan hadapi aku dulu sebelum dia bermain-main dengan anak aku. Sosok itu pun marah ketika aku menantang nya. Aku berjalan mendekati nya dan menyiapkan bait doa amalan untuk memukul mundur atau jika perlu membakar makhluk itu agar tidak mendekat dengan abi. Jin itu bilang jika dia tidak ada urusan dengan aku. Kemudian tidak lama makhluk itu menghilang dari pandangan aku sebelum aku sempat memegangnya. Aku mengheningkan cipta dan berdoa untuk waktu yang lama. Kepada Al aziz yang maha perkasa, aku melindungi dan semoga kami di lindungi dari tipu daya makhluk yang selalu mengganggu manusia dari makhluk yang bermaksud buruk pada keluarga aku.

Aku kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu belakang. Aku masih berdiri di belakang pintu dengan kaca tembus pandang itu dan melihat ke arah purnama yang terlihat indah namun tidak bersahabat. Sejak dulu aku tidak suka malam hari dan aku tidak suka gelap. Aku sangat membenci kehadiran mereka yang datang dan mengganggu aku. Aku seperti kembali ke masa kecil dimana saat matahari sudah tenggelam di kalahkan bulan. Aku hanya bisa meringkuk di kamar dengan berselimut di seluruh tubuh menghindari pandangan mata ini untuk melihat mereka. Mereka yang tidak sepatutnya dilihat manusia pada umumnya dan aku menutup tirai itu. Aku berjalan menuju kamar dari sela tirai cahaya bulan merembes masuk ke dalam rumah dan aku menoleh ke belakang dengan mengatakan jauhi keluarga aku.

Aku berbaring di kasur dengan abimanyu ada di samping aku. Di sisi lain ibunya tidur dengan posisi miring menghadap abi dan aku ikut memiringkan posisi tidur aku hingga menghadap ke abi. Aku mengatakan pada anak aku selama masih ada aku dan risa dia akan baik-baik saja dan itu merupakan kalimat terakhir aku yang mengantarkan aku ikut terlelap bersama istri dan anak aku. Terdengar suara dan gunjangan di tubuh aku yang membuat aku bangun. Mata aku melirik ke arah jam dan aku baru tidur 3 jam dan sekarang masih pukul 3 pagi. Risa pun membangunkan aku dan aku bertanya ada apa? anak aku pun muntah-muntah dengan tiba-tiba. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here