100 Hari Setelah Aku Mati Part 131 : Jangan Teror Keluarga Aku

0
80
bukukita.com

Aku mengalami kejadian buruk dan ujian bertubi karena mata ini dan demi apapu aku tidak akan membiarkan hal buruk yang pernah menimpa aku menimpa abimanyu putra aku. Entah darimana aku teringat kyai yang tinggal di semarang. Semoga dia dapat membantu sabimanyu seperti beliau pernah menolong aku dulu. Aku akan menemui sosok pengganggu hitam dan sobat lama aku yang tinggal di semarang. Hidup aku terasa lengkap dan terasa semua nya sangat indah. Terlebih ada nya abimanyu membuat kami semakin bersyukur atas anugerah dan karunia NYA yang sudah begitu banyak di limpahkan kepada kami. Tangis dan tawa abimanyu membuat rumah yang sudah terlalu lama sepi ini menjadi lebih berwarna. Dahulu rumah ini di tempati oleh 3 orang yaitu aku, bapak dan ibu aku, namun seiring berjalan nya waktu ibu pergi meninggalkan rumah ini.

Beberapa tahun kemudian giliran bapak yang menyusul ibu pergi meninggalkan rumah. Beliau berdua tidak akan kembali dan tinggalah aku sendiri di rumah ini untuk waktu yang begitu lama hingga risa datang memberikan wajah baru disini. Beberapa waktu seterusnya datang seorang lagi yang meramaikan rumah ini yaitu abimanyu anak aku. Dan jadilah kami menjadi bertiga sebagai penghuni tetap di rumah ini. Abimanyu tumbuh dengan sangat cepat dan tidak terasa umurnya sudah menginjak bulan ke tujuh dan dia mewarisi kulit halus ibunya. Abi merupakan anak yang gemar berceloteh dan tertawa, tampaknya dia mewarisi bakat cerewet dari ibunya dan ukuran tubuhnya begitu besar untuk ukuran anak berumur tujuh bulan.

Semua yang terjadi begitu indah bagi aku dan risa. Beberapa hal yang menjadi kendala kami adalah pada saat aku dan risa harus bekerja dan dengan terpaksa musti meninggalkan abi pada pengasuh kepercayaan kami. Dan andai saja aku masih ada orang tua tentunya abi akan aman di asuh kakek dan neneknya. Mertua aku juga bekerja secara terpisah dimana ibu mertua aku di thailand sedang kan bapak mertua aku juga masih menjadi polisi yang aktif. Kami mengambil jalan tengah dengan meminta bantuan seorang pengasuh bernama ibu mus untuk menjaga abi selama kami bekerja. Waktu itu adalah pertengahan tahun 2012 dan aku sedang memakan bekal makan siang aku yang di buatkan risa sedari pagi dan suasana rumah sakit tempat aku menghadapi koas sedang tidak begitu sibuk dan ada sedikit waktu lebih lama istirahat buat aku.

Risa pun menanyakan keadaan anaknya yang sedang melakukan apa di rumah. Kami memang selalu begini saling mengabari setiap ada kesempatan dan waktu luang di sela kesibukan kami. Aku pun menggeser layar handphone dan mencari kontak telepon rumah aku. Suara dial telepon yang sedang menyambungkan ke nomor rumah aku pun berdering namun tidak ada jawaban yang terdengar hanya suara operator yang meminta aku mencoba lagi. Aku beranjak dan berjalan di sepanjang koridor rumah sakit itu menuju ke ruangan aku. Dan handphone di saku aku berdering. Aku melihat ternyata itu telepon dari bu mus karena itu nomor kontak rumah aku yang ada di layar handphone aku. Ketika aku mengangkat telepon, aku mengulang lagi memanggil bu mus namun hanya hembusan nafas yang aku dengar berat. Seketika kaget aku mendengar suara itu. Aku yakin itu bukan suara bu mus karena itu hanya suara tawa berat dan terdengar ganjil dan tidak beres. Aku pun berbicara sendiri dan sedetik kemudian aku segera lari untuk pulang dan mengecek keadaan abi. Aku tidak mempedulikan izin karena aku sedang panik dan suara tadi harus aku cek.

Aku takut ada orang yang berniat tidak baik sedang berada di rumah aku. Ketika aku sampai di parkiran dan segera naik dia atas vespa aku, menggenjotnya sekuat tenaga dan dengan cepat aku melaju ke rumah. Aku menjadi pengendara yang sangat ugal-ugalan di jalanan tidak peduli dengan beberapa lampu merah yang aku terobos dan beruntung aku tidak di kejar polisi dan aku terlalu terburu-buru karena aku takut jika ada sesuatu yang terjadi dengan abi. Aku kaget karena gerbang nya terbuka ketika aku sampai rumah. Aku langsung teriak memanggil bu mus dan aku terus teriak memanggil bu mus dan abi berada. Rumah dalam keadaan rapi tidak ada tanda orang asing dan begitu aku sampai di belakang rumah, aku lega ternyata bu mus dan abi sedang bermain di balkon. Ternyata bu mus sudah telepon balik namun ganggang telepon nya di minta abi.

Aku kaget mendengar cerita bu mus karena beliau tidak pernah bohong dan hari itu ada yang tidak beres dimana ada yang tidak beres dengan abi. Hal yang aku takutkan menjadi kenyataan dan aku menggendong abi dan membawa nya masuk ke ruang tengah. Aku menatap abi hanya tertawa dengan tawa khas anak balita yang lucu namun lebih dari itu. Lebih dari itu aku melihat lebih dalam anak 7 bulan ini. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here