100 Hari Setelah Aku Mati Part 13 : Kini Kamu Tau Bagian 3

0
84
bukukita.com

Mungkin mereka masih mengingat aku dimana para tetanggan dulu juga menyalami aku. Mereka masih ingat ternyata dengan aku yang aneh ini dan aku berusaha cuek dengan tatapan aneh mereka. Rumah itu sudah kelihatan dan aku berdebar-debar mungkin jarak aku dengan rumah itu tinggal beberapa meter. Aku pun berhenti sebentar lalu risa bertanya pada aku kenapa aku berhenti? Risa aku suruh tunggu dan aku berjanji akan menceritakan nya semua tentang aku ke risa. Sku meminta risa menunggu di sebuah warung makan yang entah sejak kapan ada warung di situ dan seingat aku tidak ada. Aku sampai di rumah itu, rumah dinas TNI yang berada di paling pinggir kompleks TNI AD. Tidak banyak berubah hanya cat nya saja yang baru. Rumah ini tampak nya belum ada penghuni baru nya, aku hening, membaca doa dan memakai cincin bermata batu. Cincin ini berbeda dengan yang tadi, ini merupakan batu galih kelor dan dia memiliki aura untuk memukul makhluk gaib.

Aku tersenyum di rumah ini dan tampak ayunan itu masih ada disana dengan tali-tali tua yang mulai mengendur dan usang. Aku membuka handel pintu. Aku mengelilingi rumah itu dan beberapa makhluk yang dulu senang mengganggu aku dan mereka malah takut ketika melihat aku karena merasakan ilmu batin aku yang menguat dan aku tarik salah satu dari mereka. Aku tatap lekat-lekat wajah makhluk berbulu lebat itu, dia kepanasan. Aku tidak bicara apapin dan aku lepaskan dia. Meskipun mereka yang membuat ibu aku meninggal tapi aku di ajarkan untuk iklas dan tidak dendam oleh kyai.

Aku masih mencari sesosok makhluk lagi yaitu sari dan aku pun memanggilnya dengan bahasa batin. Aku pun melihat sari dan dia masih tampak seperti pertama kami bertemu. Dia masih berwujud anak berumur 6 tahun dan dia berjalan mendekati aku. Seiring dia berjalan wujudnya berubah menjadi semakin besar dan dia menampakkan wujudnya seolah seumuran dengan aku. Sari bertanya ada apa dengan aku? Aku menjawab tidak ada apa-apa. Aku pun cerita jika sari mirip dengan teman nya sangat mirip seolah tidak percaya apa yang aku lihat yaitu risa dan sari.

Tidak lama sari pun berkata jika perkiraannya aku akan memiliki teman baik sungguh terjadi. Aku pun bilang pada nya 3 tahun yang lalu dia berjanji bahwa kita akan selalu bertemu dan aku ingin menagih janji nya. Namun sari pun bilang jika dia sudah menepati janji nya untuk bertemu dengan aku dan mereka pun berterima kasih untuk doa-doa yang aku panjatkan untuk mereka semua. Aku pun langsung mengajak sari untuk ikut dengan aku. Tapi sari bilang dia akan selalu menjadi teman nya, ketika itu sari menyentuh dada aku, aku sudah lama mati sekitar 90 tahun lama nya dan kamu membuat aku seolah hidup, ucap sari. Sari pun bilang karena aku seolah aku masih bersama diriku yang lain semasa hidupnya. Lalu ia pun mengatakan jika jalan aku masih panjang, jika aku terus bersama nya aku hanya akan berakhir dengan hidup seperti mati. Sari pun meminta nya untuk datang lagi kapan-kapan dan jangan memutuskan doa-doa untuk mereka agar tenang disana dan ketika kembali ke alam nya. Aku dan sari berjalan ke halaman belakang dan berdiri di sebuah cermin besar bekas lemari usang yang di taruh di belakang rumah. Sari pun mengatakan jika aku sudah mempunyai teman, kata aku sambil menghadap cermin besar itu dan melihat bayangan aku dan sari. Sari berpesan agar aku terus hidup bersama mereka karena jalan aku akan semakin sulit besok tapi sari bilang jika kelak besok aku jadi orang besar. Aku pun memejamkan mata dan berusaha mencerna nasihat sari dan begitu kubuka mata aku ada 3 bayangan yang pertama bayangan aku sendiri dan bayangan 2 orang sari. Salah satu bayangan di cermin itu seperti berteriak dan ternyata itu risa, dia mendekap tangan aku seperti ketakutan.

Sari melanjutkan perkataan nya dan dia bicara pada risa yang mirip dengan nya agar menjaga aku melebihi dirinya. Risa pun masih memeluk tangan aku tapi dia mengangguk seperti mengiyakan permintaan sari. Sari menghilang entah kemana dan aku kemudian memapah risa meninggalkan rumah ini, tampaknya dia syok melihat sari lewat pantulan bayangan di cermin itu. Aku berjalan meninggalkan rumah tua itu dan lagi-lagi sari berada di ambang pintu rumah sambil melambaikan tangan dengan wujud anak kecil nya dan aku tersenyum dan berbicara menggunakan bahasa batin. Saat itu aku mengucapkan banyak terima kasih pada sari. Ceritanya berlanjut ke part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here