100 Hari Setelah Aku Mati Part 129 : Mata Yang Mewarisi Bapaknya

0
84
bukukita.com

Aku pun mengatakan pada risa agar dia lebih kuat karena dia merintih kesakitan sambil menjambak lengan baju aku. Karena risa teriak kesakitan itu membuat buyar dan aku mencoba untuk lebih fokus ke jalan yang ada di depan aku. Aku pun bilang jika kita sebentar lagi akan sampai agar risa lebih tenang. Aku pun menyuruh risa untuk mengatur nafas pendek-pendek. Dan tidak lama ketuban risa pecah dan risa pun teriak lagi. Di situ aku mulai menginjak pedal gas dalam-dalam agar aku segera ke rumah sakit bersalin yang dengan laju normal bisa kami tempuh selama 15 menit. Namun dengan keadaan itu akhirnya kami sampai kurang dari 15 menit. Aku memarkirkan mobil ke depan isntalasi gawat darurat yang langsung di sambut tenaga medis yang sudah bersiap. Tidak lama risa langsung di bawa ke ruang bersalin oleh seorang perawat. Aku mengambil handphone dan memencet beberapa kontak dan menelpon seseorang.

Aku menelpon bapak risa dan memberitahukan beliau jika risa di rumah sakit dan sebentar lagi akan melahirkan. Bapak risa pun menuju segera ke rumah sakit dan aku buru-buru menuju meja administrasi dan memberikan data diri dan menandatangani beberapa dokumen persetujuan dan segera setelah itu aku berlari ke ruang bersalin tempat dimana risa di tangani. Aku langsung dengan segera bertanya kepada dokter yang baru sekali keluar dari ruangan. Ada masalah di dalam persalinan risa karena bayi nya sunsang dan risa harus segera di operasi dan di situ dokter butuh segera persetujuan dari aku untuk melakukan operasi. Dan aku segera setuju asalkan risa dan anak aku bisa selamat. Dokter pun segera mempersiapkan untuk operasi dan aku di persilahkan untuk mengisi form. Dan dokter menyuruh suster untuk memberikan form isian persetujuan operasi kepada aku.

Aku pun tidak boleh masuk karena sudah menjadi peraturan di rumah sakit bahwa pihak luar tidak di ijinkan masuk ruang operasi. Dan dokter juga mengatakan sekali pun aku pemilik rumah sakit tetap saja itu merupakan sebuah aturan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, ucap dokter. Dan dia mengatakan jika anak pertama memang akan membuat gugup tapi dokter meminta agar aku bersabar dan tenang. Dokter itu pun menepuk pundak aku dan dia berlalu dengan orang yang memakai pakaian hijau itu juga berjalan meninggalkan aku dan berjalan ke koridor. Dokter muda itu masih muda mungkin tidak selisih jauh dari umur aku. Aku gelisah karena dokter yang menangani risa masih sangat muda. Tidak lama ayah risa datang dan menanyakan keadaan risa. Aku mengatakan jika risa sudah di tangani namun dia harus di operasi karena posisi bayi nya sunsang dan aneh karena ketika pemerikasaan kemarin normal-normal saja.

Bapak risa pun mengatakan kita tunggu dan berdoa saja agar semua nya berjalan lancar dan selamat jawab beliau sambil mengajal aku duduk. Bapak risa mengatakan jika kelahiran anak pertama memang membuat tegang tapi kita harus yakin dan percaya pada Tuhan dan tentunya dokter yang menangani risa. Aku pun hanya bisa mengangguk dan berdoa agar semuanya bisa lancar dan semoga anak kami selamat dan semoga ibunya juga selamat. Selama proses operasi aku sama sekali tidak bisa tenang dan aku hanya berjalan tidak tentu arah di depan pintu kaca itu. sesekali aku berusaha mengintip tapi tirai berwarna hijau muda itu menutupi pandangan aku dan ingin rasanya aku ikut masuk dan menunggui risa, operasi cesar bukan lah tanpa resiko. Dan meskipun sekarang sudah umum orang melaksanakan persalinan dengan cara ini tetap saja membuat aku cemas dan gugup.

Bapaknya risa pun memberikan sebotol air mineral kepada aku. Aku pun menerima botol yang di berikan bapak risa. Pak hamzah pun mengatakan pada aku jika risa itu merupakan anak yang kuat dan tahan banting jadi dia pasti akan baik-baik saja. Bapak risa pun bercerita jika dulu ketika risa lahir bapaknya merupakan brimob dan sering di tempatkan di daerah operasi khusus dan waktu risa lahir itu bapak nya risa sedang tugas di makasar. Apalagi jaman dulu komunikasi tidak seperti sekarang yang serba cepat dan dulu bapak nya risa dapat kabar risa setelah dia berusia 2 hari. Bapak risa malah tidak ada di samping ibunya risa ketika risa lahir. Namun mendingan karena aku masih bisa menunggu risa lahiran. Hari itu sudah menjelang siang dan belum ada kabar dari dalam ruang operasi dimana aku sebisa mungkin berusaha menekan gejolak gelisah yang sedari tadi menunggu aku. Beberapa kerabat sudah di kabari bapak mertua dan aku juga sudah memberi kabar beberapa sodara seperti om bowo dan yang lainnya. Waktu sudah menunjukan jam 11 siang sampai pintu itu terbuka dan dari dalam muncul dokter muda itu. Dan aku pun menanyakannya dengan tidak sabar. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here