100 Hari Setelah Aku Mati Part 128 : Hikmah Dari Siomay Sambal Kacang Bagian 2

0
54
bukukita.com

Aku pun mengatakan santai saja karena aku tidak terburu-buru. Pak mukhlis pun mengucapkan alhamdulilah karena dagangannya hari ini laris karena beliau bilang namanya orang dagang sering tidak tentu. Kadang kalo sedang ramai-ramai tapi jika sedang sepi juga sering, ucap pak mukhlis. Menurut nya yang penting dia masih di beri kesehatan terus untuk mencari rejeki. Biasa nya anak pak mukhlis yang bernama lia membantunya tapi karena dia masih kuliah maka dia tidak bisa membantu bapaknya sepenuhnya. Dan putri nya selalu kuliah sampai habis solat isak di hari sabtu. Aku pun kagum karena seorang pedagang siomay memiliki putri yang cerdas dan kuliah juga. Dan pak mukhlis merendah dan mengatakan jika diri aku lebih pintar hingga aku kuliah sampai di luar negeri.

Namun aku mengatakan pada pak mukhlis jika putri nya hebat karena untuk masuk UGM itu tidak gampang dan bapak siomay pun bilangdirinya bersyukur karena anaknya masih bisa kuliah dan mendapat kuliah negeri jika tidak dirinya bisa pusing untuk cari dana kuliah lia. Dia bilang dirinya tidak mau jika anaknya hanya menjadi pedagang kecil seperti dirinya dengan penghasilan yang kecil. Jika pun harus jadi pedagang juga jika bisa gedean sedikit, ucap pak mukhlis. Pak mukhlis mengatakan jika dirinya hanya lulusan SR makannya dirinya hanya mentok di dagang siomay. Namun dia bersyukur karena mempunyai istri yang begitu pengertian. Dimana istri nya mau di ajak susah dan mau menabung pelan-pelan yang penting telaten. Aku pun hanya manggut-manggut mendengar keterangan pak mukhlis yang aku anggap tidak masuk akal itu.

Sejenak aku berusaha meresapi kalimat dari nya dan mungkin ini hanya cerita biasa yang di alami jutaan orang di dunia namun lebih dari itu aku paham bagaimana pak mukhlis berusaha memposisikan dirinya untuk memberikan kehidupan terbaik pada keluarganya meskipun dengan keterbatasan yang ada. Kalimat sederhana namun menurut aku merupakan sebuah pelajaran yang berharga pertama yang aku dapatkan dari beliau. Telaten merupakan kalimat yang aku garis bawahi. Dia pun mengatakan jika aku sebentar lagi menjadi bapak dan pasti aku akan merasakan apa yang dia alami. Meskipun tidak bisa di bandingkan karena diri aku orang pintar. Namun namanya kita itu hidup di dunia yang sama dan semua yang hidup itu akan di uji dan menurut aku aku masih muda dan harus banyak belajar.

Sekali lagi aku hanya bisa mengangguk mendengar nasehat pak mukhlis dan mungkin sudah menjadi naluri orang yang sudah tua untuk memberi nasehat pada orang yang lebih muda seperti aku ini. Akhirnya tidak lama istri pak mukhlis datang membawa bungkusan yang berisi bumbu sambal kacang dan istrinya juga sudah terlihat berumur dan keriput di wajahnya menggambarkan sudah banyak peristiwa yang di lewati bersama pak mukhlis. Aku melihat kedua orang tua itu dan beliau berdua meski sudah tua namun terlihat harmonis. Mereka saling melempar senyum dan celotehan dalam berinteraksi dan tidak terlihat beban di wajahnya. Disitu aku mendapat pelajaran berharga kedua nya tampak iklas, secara tidak sadar aku belajar dari keluarga pak mukhlis bagaimana cinta selalu dapat tumbuh seiring berjalannya waktu dengan satu kata sederhana yang bisa di aplikasikan yaitu iklas. Tanpa sadar bibir aku tersenyum melihat hal sederhana dan pelajaran yang baru saja di berikan pak mukhlis pada aku. Dan dirinya bilang jika pesanan aku sudah jadi dan dirinya memberikan sebungkus bonus buat risa yang sedang ngidam. Pak mukhlis sangat ramah sambil memberikan kantong plastik berisi pesanan aku.

Bahkan dia mendoakan agar aku dan risa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah hingga memiliki keturuna yang sholeh. Dari situ aku hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih pada pak mukhlis. Tidak lama aku pamit dan mengucapkan terima kasih atas hikmah dari siomay sambal kacang nya, ucap aku dalam hati. Aku tidak henti-hentinya mondar mandir di depan pintu itu. Keringat dengan deras meluncur melewati pelipis aku dan aku sudah di minta duduk dengan tenang oleh bapak mertua aku namun tetap saja aku tidak bisa tenang karena menunggu proses persalinan risa. Pagi itu aku baru bangun belum sempat aku mengucek mata aku sudah terjaga karena risa yang merintih kesakitan. Dan di situ dengan sigap aku segera memapah risa menuju mobil. Sekarang dan sekarang saatnya begitu pikir aku. Memang hari ini kami berencana ke rumah sakit bersalin karena usia kandungan risa yang sudah tua, masing-masing dari aku dan risa sudah mengambil cuti untuk persalinannya. Tapi aku tidak menyangka waktunya akan datang secepat dan semendadak itu. Aku memapah risa dan mendudukannya di kursi depan dan aku berlari membuka pagar dan langsung kembali ke mobil. Aku menyalakan mesin mobil keluaran awal 90 an itu dan langsung melaju ke jalanan secepat yang aku bisa, beruntung hari pun masih pagi dan jalanan tidak terlalu ramai. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here