100 Hari Setelah Aku Mati Part 127 : Hikmah Dari Siomay Sambal Kacang

0
60
bukukita.com

Beberapa waktu lalu kami melakukan pengecekan rutin untuk kesehatan kehamilan risa dan semua berjalan normal dimana bayi dalam kandungan risa sehat dan berkembang dengan baik. Setiap malam kami berdiskusi mengenai hal-hal yang harus segera disiapkan dan untuk soal nama merupakan hal yang paling sering kami debatkan. Risa pun mengatakan jika anaknya perempuan ia akan menamai nya bulan. Dan jika lahirnya siang makan namai dengan matahari dan aku pun kurang setuju dengan nama yang akan di rencanakan risa. Namun jika lahirnya cowok dia ingin nama dari tokoh wayang, ucap aku pada risa. Aku melempar pandangan ke dinding dan di rumah aku ada banyak wayang kulit yang tertempel dinding sebagai pajangan. Dulu bapak merupakan penyuka wayang kulit maka nama-nama pewayangan jawa sangat akrab di telingan aku karena bapak dulu sering menceritakan kisah keteladanan dalam pewayangan. Seperti kisah pada serat tripama yang berarti kisah 3 suri teladan yang menceritakan bambang sumantri.

Raden kumbakarna dan Adipati karna dimana mereka tokoh wayang kesukaan almarhum bapak aku. Kisah kesatria dari kadipaten awangga itu menjadi kisah suri teladan yang sering di ceritakan bapak dan dinding rumah aku tertempel tokoh 5 orang pandawa. Beberapa keturunan pandawa seperti gatotkaca, antasena, antareja, bambang irawan, wisanggeni dan di ujung deretan wayang itu adalah tokoh yang aku sukai. Aku sambil menunjuk satu tokoh wayang yang terpajang di salah satu sudut dinding. Risa mengerutkan dahi dan bertanya tentang tokoh abimanyu. Dimana abimanyu merupakan salah satu anak arjuna dimana dia mewarisi ketampanan bapaknya dan keluesan ibunya. Dia mempunyai anugerah berupa wahyu yang artinya bakal meneruskan keturunan raja dan kisah prajurit itu bisa di teladani dimana dia gugur ketika perang baratayuda dengan terhornat.

Risa mengatakan siapa pun nanti nama anak nya dia ingin anak nya menjadi anak yang baik seperti kedua orang tua nya. Aku mengangguk dan tertawa karena permintaannya dan karena aku baik nya sedang kambuh maka tanpa babibu aku pun berangkat mencari siomay kesukaan risa. Aku berjala ke garasi dan mengeluarkan si butut vespa kesayangan aku dan menggenjot starter kicknya. Suara mesin yang khas dari produk otomotif keluaran itali ini terdengar nyaring dan aku mengendarai si butut dengan sangat pelan sambil menikmati suasan sore hari dan mungkin sekitar jam 5 sore. Aku masih bisa melihat bias mentari berterbangan dan satu-satu nya mamalia yang bisa terbang itu membuat siluet kehitaman di langit. Dari arah selatan kumpulan burung bangau terlihat terbang menggerombol dan membuat formasi terbang yang teratur. Bangau-bangau itu pasti baru kembali mencari makan di pematang swah atau rawa yang ada di selatan jogja.

Jalanan di kompleks di perumahan aku lumayan ramai, ramai dengan pejalan kaki dan pesepeda. Aku mengklakson beberapa tetangga aku yang terlihat di depan rumah mereka dan ada yang menyiram tanaman. Ada yang sekedar duduk di teras terlihat beberapa ibu-ibu sedang hebih mengobrol sambil mengawasi anak-anak mereka yang asik bermain di pelataran. Aku mengalihkan pandangan ke kanan kiri jalan dan melihat berbagai makanan di pinggir jalan seperti jalan, pecel, gudeg dan banyak lagi dimana suasana jogja yang asli. Inilah suasana yang begitu aku rindukan selama aku masih kuliah dulu dimana jogja tempat aku tinggal berhati nyaman. Aku menoleh dan berusaha mencari gerobak siomay kakilima yang biasa menjadi langganan aku dan risa waktu itu. Penjualnya merupakan seorang bapak-bapak dimana rambutnya sudah mulai memutih akan tetapi badanya masih terlihat sehat.

Sejak dulu dagangannya selalu ramai karena selain enak beliau juga sangat ramah pada pembelinya. Ketika aku datang dan mendekati nya, dia menegor aku yang katanya aku sudah lama tidak mampir. Pedagang pun menanyakan risa yang tidak aku ajak. Aku menjawab risa sedang di rumah dan sedang mengidam siomay jadi aku bilang aku pesan yang biasa. Pak mukhils sudah hapal sekali dengan selera aku jadi tidak perlu banyak bicara beliau akan membuat siomay dengan irisan kentang dan kobis goreng yang banyak. Namun aku harus menunggu sebentar karena bumbu kacang nya habis dan sedang di ambilkan oleh sang istri. Ketika aku menunggu bumbu kacang datang, aku pun mengamati pak mukhlis yang sedang melanjutkan kesibukannya dan beliau sedang mempersiapkan siomay untuk pembeli lain yang sudah mengantri dari tadi. Aku pun memperkirkan usia beliau mungkin berusia 60 tahun dan seingat aku sejak pindah dari semarang ke rumah aku yang sekarang pak mukhlis sudah jualan disini. Beliau selalu di bantu oleh istri nya ketika beliau berjualan dan belakangan ketika kembalinya dari ausie aku sering melihat anak beliau turut membantu berjualan. Pak mukhlis pun berguman dimana sang istri karena tidak datang-datang. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here