100 Hari Setelah Aku Mati Part 124 : Permainan Hantu Bagian 3

0
39
bukukita.com

Aku mengangguk sambil tersenyum dan mengelus rambut risa. Kami mengakhiri pembicaraan pagi itu dan segera bersiap untuk melakukan aktifitas kerja yang sudah menunggu kami. Aku pun menanyakan pada risa jam berapa aku harus menjemputnya. Risa mengatakan jika dirinya sampai pada pukul 4 dan dia bilang tidak tau nanti soalnya dia ada tukeran jam piket. Aku pun mengatakan pada risa agar hati-hati saat bekerja dan risa pun berkata siap boss bahkan dia bilang jika aku semoga lancar dalam pendaftaran koass hari ini dan dia bilang di dalam kulkas sudah dia siapkan makanan buat aku dan tinggal di panasin saja. Dia pun sambil meraih tangan aku dia pun mencium aku. Pagi itu aku memacu mobil secepat yang aku bisa untuk segera sampai ke tempat pendaftaraan koass di pusat kota jogja dan karena banyaknya perbaikan jalan membuat jalanan menjadi macet.

Aku pun sewot saat melihat antrian kendaraan yang panjang di depan aku dan suara klakson bersautan membuat jalan kota pelajar ini begitu terlihat semakin padat padahal dulu jalanan jogja tidak seperti sekarang, ramai memang namun tidak padat dan macet seperti ini. Aku melirik ke pergelangan tangan dimana jama sudah menunjukan pukul 09.10 pagi artinya aku sudah terlambat dan berhuntung hari itu hanya pemberian berkas dan pendaftaran masih cukup lama di buka dan aku melihat ke arah depan yang masih penuh sesak dengan mobil dan motor yang saling beradu tempat. Aku sambil berbelok di sebuah perempatan dan mengambil jalan memutar untuk bertolak pulang dan aku memutuskan pulang saja dan berencana untuk menyerahkan berkas aku besok.

Hari itu memeang bukan hari baik aku dan berharap keluar dari kemacetan aku malah mendapat antrian yang lebih panjang daripada tadi. Aku terjebak macet di jalan matraman. Aku mendengus dan berusaha meneriman kenyataan jika aku harus lebih bersabar. Hari masih pagi seharusnya sinar matahari sudah bersinar cukup terik namun hari itu langit masih kelabu dan angin bertiup cukup kencang. Dapat di lihat dari pohon-pohon yang bergoyang cukup kuat karena tiupan angin. Aku melirik ke spion tengah yang posisi nya sedikit miring dan aku mengangkat tangan dan memperbaiki posisinya dan ada hal mengejutkan yang aku lihat dari pantulan spion itu. Dan itu adalah sosok goib yang aku sudah lama sekali tidak bertemu duduk di kursi belakang. Dan dia mengatakan jika memang aku ini tidak terlalu ramah jawab nya dengan kalem. Dia menanyakan apakah semalam aku bermimpi buruk? lalu aku pun menjawab balik apa hanya itu yang hendak dia tanyakan maka dia datang.

Namun sosok itu tersenyum dan dalam satu kedipan mata dia sudah berada di kursi depan dan duduk di samping aku. Dia bilang lihatlah cuaca sedang tidak bagus hari ini dan mungkin akan ada badai bahkan dia pun mengomentari cuaca yang mulai di hujani dengan gerimis hujan. Aku pun mengatakan secara langsung apakah memang bangsa mereka suka dengan basa basi? dan aku bilang jika aku tau sosok ini tidak akan muncul di sembarang waktu dan dia pasti mempunyai maksud yang serius, maka dari itu aku ingin to the point dengan makhluk yang aku tidak tau namanya ini. Dia pun tertawa sambil mengucapkan rupanya betul jika diri aku bukan manusia yang ramah. Dan dia bilang jika dia hanya ingin menyampaikan beberapa hal pada aku. Dia mengatakan jika aku sudah dewasa dan benar-benar dewasa bahkan diri aku sudah berani berkeluarga dan pesan aku harus lebih hati-hati karena ada sesuatu yang menunggu aku. Dia mengatakan sesuatu itu merupakan tanggung jawab baru. Dia pun mengatakan jika diri aku tidak lama lagi akan mendapatkannya dan ada satu hal lagi dan kali ini kurang bagus dimana mimpi semalam memiliki arti bahwa sosok gelap yang datang dalam mimpi kamu akan muncul secara nyata dan entah cepat atau lambat dia akan mengancam sesuatu yang berharga.

Dia bilang bahwa akan banyak hal yang terjadi pada aku dan ini merupakan ujian yang akan aku hadapi. Setiap hari merupakan hari bahagia dan bisa dikatakan mungkin jika di kaitkan dengan hidup baru aku, aku merasa sangat bahagia dengan keluarga baru aku dan meskipun kami hanya berdua namun aku merasa risa membuat semua nya begitu sempurna. Dulu selama masih bujang aku harus mengurus semuanya sendiri dan kini ada risa seorang istri sekaligus sahabat yang membantu menyiapkan segala keperluan aku. Kehidupan kami memang belum mapan dan risa masih bersetatus pegawai tidak tetap di rumah sakit yang cukup kondang di jogja. Sedangkan aku tidak lebih dari seorang guru les dengan penghasilan 1,5 juta sebulan. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here