100 Hari Setelah Aku Mati Part 12 : Kini Kamu Tau Bagian 2

0
82
bukukita.com

Aku mendekatinya dan menaruh kedua tangan aku di pundak nya, aku menatap risa dan aku mengatakan jika risa harus berjanji apapun yang kamu lihat tentang aku jangan beritahu siapa pun dan kamu boleh anggap aku aneh dan silahkan menjauhi aku jika kamu anggap aku terlalu aneh. Risa memegang dua tangan aku dan melepaskan dari pundak aku, dia menggenggam tangan aku erat sekali dan balik menatap aku. Aku yang memilih nemenin kamu, aku janju tidak akan ninggalin kami aku akan menjaga privasi kamu, ucap risa. Aku masih menatap risa dan merasakan ada sesuatu yang hangat di dada, entah apa itu. Kalian pernah merasakan sesuatu yang hangat dan berdesir di dada kamu. Kami sudah berada dalam bis yang menuju ke tempat itu. Aku sedikit deg-deg an, 3 tahun sudah aku berusaha melupakan tempat itu dan kali ini aku dengan sengaja menuju kesana, ke sebuah tempat bersejarah dalam hidup aku. Aku masih ngantuk dan berusaha memejamkan mata sambil menyumpal telinga aku dengan headset, sambil mendengarkan lagu dari bryan adam. Untuk menyamarkan suara risa yang dari tadi ngoceh tidak jelas di sepanjang perjalanan.

Aku masih asik merem dan mendengar lagu, tiba-tiba ada yang mencubit aku, headset aku di tarik risa. Aku kaget dan kesakitan karena perut aku di cubit risa. Risa pun marah karena aku di ajak bicara seperti orang tidak memperhatikan saja. Risa tidak lama mencubit bibir aku lagi dan aku pun memonyongkan bibir aku yang bawah, namun lagi-lagi risa mencubit bibir aku. Risa bilang dia sedang seirus juga di bercandai dari tadi. Risa pun menanyakan ibu aku yang tidak tinggal serumah dengan aku. Aku hanya tersenyum dan mengusap rambut risa pelan. Aku bilang pada nya nanti dia juga akan tau, risa diam dan tampak pipinya yang memerah. Kami turun dari bis dan harus berjalan sekitar 300 meter untuk menuju makam ibu. Aku berdiri sejenak sebelum melanjutkan jalan, sekedar memejamkan mata sebentar, mengumpulkan keberanian dan menguatkan niat aku.

Tidak lama aku mengajak risa dan mengatakan pada nya jika tidak jauh lagi tempat nya. Risa pun menurut dan berjalan disamping aku dan sampailah kami di pintu masuk makam. Risa pun bingung dan akhirnya aku hanya mengangguk dan tersenyum, aku membeli bunga di dekat makam tadi dan sekarang membawa nya beserta risa masuk ke dalam kompleks makam. Aku pun tas dan memakai cincin bermata batu pemberian kyai aku dulu dan hanya berfungsi sebentar untuk menutup mata batin aku. Cincin ini hanya bisa menutup mata batin aku sebentar saja. Kami sampai makam ibu dan sekarang nisannya sudah di perbaiki dan sudah ada keramik nya. Nampaknya di rawat dengan baik, hanya ada beberapa rumput liar tumbuh di atasnya, aku berjongkok sambil mencabuti rumput liar di atas makam ibu.

Aku pun menyapa makam ibu dan mengatakan apakah ibu pangling sama aku? sambil menikmati nikmat kuburan. Aku pun mengeluarkan kata-kata agar ibu jangan galak disana nanti malaikat pada takut. Aku berusaha melucu tapi aku melah menangis dan melanjutkan celotehan aku. Aku pun mengatakan jika sebentar lagi aku SMA dan aku selalu mendapat ranking 1. Aku bilang jika aku selalu mendpat juara 1 sama seperti aku masih SD. Bedanya disini dulu aku tidak mempunyai teman namun sekarang aku punya banyak teman di jogja. Mereka itu baik sama aku dan tidak lama aku mengenalkan risa pada ibu, aku bilang jika risa itu pintar tapi masih belum bisa ngalahin aku, ucap aku. Aku pun menatap risa sambil tersenyum. Aku juga menceritakan jika aku sekarang sendirian di rumah karena bapak sedang tugas di aceh, bapak sedang membasmi konfli dan aku pun berbicara sambil menaburkan bunga di atas makam ibu. Saat beranjak dari makam ibu, aku pun menggandeng tangan risa sampai gapura depan makam, aku menoleh kebelakang dan membatin terima kasih ibu. Risa pun minta maaf karena dia tidak tau jika aku merupakan orang yang tertutup banget sampai-sampai risa sebagai teman nya tidak tau sama sekali tentang aku.

Aku pun mengatakan pada risa tidak semua kehidupan aku harus di ketahui oleh orang lain. Aku memang harus melewati semua ini dan kamu cukup menjadi temen aku yang sangat berarti buat aku. aku juga bilang pada risa jika duu yang namanya teman Cuma jadi angan-angan buat aku, sekarang aku punya kamu dan teman-teman yang lain dan aku bahagia sekarang ini. Risa pun tersenyum sambil menyeka setitik air di ujung matanya dan risa melirik ke jam tanganya. Risa pun bilang jiak ini sudah jam 3 dan jika pulang sekarang kita sampe jogja malam. Kita tidak akan pulang malam ini dan aku masih ada urusan di rumah lama aku, risa tampaknya masih memikirkan kejadian barusan dan dia lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Kami hanya berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh rumah aku yang lama dari kompleks makam ibu. Di sepanjang perjalanan banyak orang melihat aku. Ceritanya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here