100 Hari Setelah Aku Mati Part 119 : Komitmen Kami Bagian 2

0
79
bukukita.com

Susi bilang sudah susah-suah move on jadi begini lagi. Susi berbicara cepat dan menyaami aku dan langsung pergi dengan wajah memerah. Dan aku dengan begonya hanya bisa garuk-garuk kepala karena aku bingung dengan sikapnya susi. Namun memang susi itu penyelamat dan aku bersyukur dengan tawaran pekerjaan itu. Aku iseng membuka handphone dan mengirim bbm kepada risa. 5 menit, 10 menit hingga kentang dan jus jambu aku habis belum ada jawaban dan mungkin lagi sibuk dia. Begitu batin aku di dalam hati dan aku memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi untuk menemani aku duduk lebih lama dan aku sedikit memikirkan kata-kata susi tadi.

Aku memikirkan lagi dan lagi, cukup lama sampai kopi yang aku pesan sudah ada di depan aku. Aku pun berbicara sendiri dan aku sejenak merenung apakah aku terlalu idealis hingga melupakan realita jika berkeluarga itu tidak mudah dan sesederhana yang aku bayangkan. Aku harus tau tanggung jawab dan suara di dalam kepala aku seakan ikut protes. Kamu kasih apa istri kamu nanti. Ada lagi suara lain yang mengganggu ketenangan aku. Aku benar- benar ingin menwujudkan mimpi-mimpi kecil aku dan aku menimbang baik buruknya cita-cita aku tadi hingga handphone aku berbunyi. Dan ternyata itu risa dan barus saja selesai urusan di balai kota dan mau datang menjemput aku.

Dan aku bilang agar dia menyusul aku di café ini dan tidak butuh waktu lama risa sudah sampai karena café itu tidak terlalu jauh dari balai kota. Risa bertanya apa yang sedang aku lakukan disini karena tumben aku datang ke café. Aku pun mengatakan jika aku baru saja mendapatkan kerjaan yang di berikan oleh susi. Risa membaca kertas yang sudah aku lipat tadi dan setelah selesai membaca dia memegang tangan aku sambil tersenyum. Dan dia meledek aku karena aku sebagai guru. Risa tadi benar-benar menenangkan dan mungkin akan sulit mencari wanita yang memiliki rasa pengertian sepertinya. Dan aku juga bertanya apakah risa juga akan senang jika besok harus pergi dan ikut aku keluar masuk kampung seperti yang udah kita omongin kemarin? aku mengatakan prosesnya bakal susah dan jujur aku ragu dan aku takut tidak bisa kasih kehidupan yang layak buat kamu.

Risa tetap memegang tangan aku lebih erta sambil mengusap dengan lembutnya. Dia mengatakan bukan menjadi apa aku besok yang aku risaukan namun dengan siapa aku besok menghabiskan hari tua aku. Aku tidak menantang dunia yang aku takuti menghadapi dunia seorang diri tanpa diriku, ucap risa. Risa pun membelai pipi aku dan tersenyum dimana wajahnya yang damai dan teduh menurunkan sedikit rasa cemas aku. Dan yang penting aku percaya sama aku dan sama seperti kebanyakan orang di luar sana dan semua orang yang mengenalmu pasti percaya sama diri aku. Dan risa percaya jika aku bisa menyeselsaikan segala sesuatu yang aku mulai dan tidak takut jika risa ikut pergi dengan aku. Aku pun terenyuh mendengar jawaban risa dan sejenak aku menyempatkan diri bersyukur kepada Allah karena mengirimkan kaum hawa dan jelita ke dalam hidup aku dan aku meraih tangan kananya dan mencium nya dengan lembut. Aku sudah mengenal hidup dalam kesepian dan aku tidak mau mengulanginya lagi dengan hidup tanpa dirimu. Aku mengecilkan mata dan menahan silau sinar dari lampu sorot dan blitz kamera memapar wajah aku dan aku menahan rasa gatal karena blangkon yang aku kenakan sedikit kekecilan dan aku melirik beberapa orang yang aku kenal duduk dengan takzim. Sekitar 10 meter dari singgahsana tempat aku duduk.

Dewi melambaikan tanganya dan mengedipkan matanya dan di sampingnya ada wayan, wardana, novita, miska, mas yakob dan beberapa teman masa kuliah lain. Irawan, andi yang masih mengenakan seragam polisi dengan jaket. Dan hampir semua teman masa sekolah aku ikut hadir. Dan aku melirik seseorang di samping aku dan untuk ke ratusan kalinya aku terkesima. Bahkan dengan dandanan sehari-hari sudah mampu membuat aku jatuh cinta. Dandanannya yang makin membuatnya nampak sangat jelita, setelan kebaya tradisional namun modern dengan gemerlap pernak pernik berwarna emas dan perak membuat aku terbenging di depan banyaknya tamu undangan. Aku memang selalu kesulitan menyembunyikan perasaan setiap menatapnya. Lihatlah dia dimana kecantikan gadis jawa dengan lembut merekahkan senyum yang membuat isi di dalam dada aku terasa lumer dan mencair. Rerengan yang menghiasi dahinya dan mempunyai makna filosofis berupa pengharapan dan doa untuk keluarga nya kelak dan dia mengenakan penunggul yang berarti pengharapan kedua pasangan menjadi pasangan yang sempurna dan semua elemen dalam paes ageng temanten jogja yang tinggi akan nilai filosofi luhur dia kenakan dengan sempurna. Tidak hentinya aku berdebar dan jika mungkin acara itu berjalansangat lama maka bisa saja aku pingsan karena gemetaran. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here