100 Hari Setelah Aku Mati Part 118 : Komitmen Kami

0
83
bukukita.com

Masih banyak sekali tahapan lain yang harus aku lalui dan beberapa bulan lagi aku akan mengikuti program koass. Suara om bowo membuat aku menoleh ke arah beliau dan om bowo dan tante sri selama menjelang dan sesudah acara lamaran aku akan tetap tinggal di jogja untuk menyiapkan segala kebutuhan besok. Aku mengatakan jika aku bingung mau cari kerjaan dimana karena tinggal beberapa bulan lagi sudah mulai test lagi. Om bowo bilang daripada bingung cari kerja mending bikin kerjaan saja. Seolah ini merupakan masalah sepele dan bukan pencerahan namun aku malah gelisah. Tiba-tiba handphone aku bergetar menandakan ada telepon masuk. Aku merogoh saku dan melihat siapa yang menelpon. Aku pikir itu risa yang memberi kabar lowongan pekerjaan yang sesuai dengan aku dan aku salah ternyata yang menelpon itu adalah susi.

Aku kaget karena tumben sekali anak ini telepon sambil aku mengangkat telepon. Ternyata susi menelpon aku karena ingin menawarkan kerjaan pada aku dan aku buru-buru karena tidak menyangka susi akan menawari hal yang sejak kemarin membuat aku pusing. Aku pun tersenyum lebar dan menutup telepon penyelamat dari susi tadi. Ketika itu om bowo melihat aku dan bertanya ada apa? aku pun mengatakan jika ini namanya pucuk di cinta ulam pun tiba om sambil aku pamit menyusul susi yang sudah menunggu aku. Di café itu tidak terlalu ramai karena memang hari masih pagi dan belum jam makan siang dan hanya ada beberapa ABG yang bolos sekolah sedang asik dengan rokoknya.

Aku menatapa sinis kelakuan abg-abg itu dan aku berjalan ke lantai 2 tempat dimana aku dan susi janjian dan itu dia sudah menunggu dengan senyum manisnya. Tidak lama susi memanggil aku sambil melambaikan tangannya. Aku menghampiri susi seperti biasa tampilan susi edari dulu bisa di bilang perfect. Apalagi usianya sudah semakin matang dimana dia terlihat sangat menawan. Aku berbasa-basi sambil menyalami nya dan kami mengobrol sejenak mengenai hidup kami masing-masing tidak perlu berfikir macam-macam karena susi sudah move on dan dia sudah memiliki calon suami dan kami tidak lagi duduk berdua untuk ngobrol mengenai CLBK dan sebagainya.

Aku pun kaget kenapa susi bisa tau jika diri aku sedang mencari pekerjaan. Dan susi mengatakan jika susi merupakan temen risa sudah pasti dia tau dan aku mengangguk paham dan ternyata susi tau dari mulut comelnya risa. Susi sambil memberikan sebuah dokumen dengan teliti aku pun membaca isi kertas A4 itu. Aku tersenyum membaca tulisan itu dan menjadi guru untuk anak-anak SD itu cukup bagus untuk permulaan. Aku sudah bilang sama ownernya dan kebetulan dia masih sodara dari calon aku dan susi pun menyedot milkshakenya.

Dengan begini aku bisa lepas dari status pengangguran aku. Aku pun bilang pada susi jika semua sudah selesai aku akan bekerja di puskesmas yang agak jauh dari sini dan jika memungkinkan besok atau entah kapana aku pengen buka praktek sendiri tapi bukan di daerah sini dan aku pengen ke luar pulau yang bener-bener kekurangan. Susi memegang dahinya dan melepaskan bibir dari sedotan nya berwarna merah jambu itu. Susi mengatakan sayng jika aku harus milih daerah tertinggal karena menurut susi aku punya potensi yang aku bisa ke terima di rumah sakit besar. Mungkin aku bisa saja memilih rumah sakit gede jika memang kemampuan aku cukup untuk itu dan aku pernah memikirkan ada 2 pilihan yaitu aku memilih ke tempat yang menguntungkan atau aku memilih tempat yang membutuhkan. Aku rasa aku akan memilih yang kedua karena ini lebih cocok buat aku. Hal ini bukan berarti aku tidak ada duit namun aku ngerasa berhutang sama negara dan aku merasa aku harus melunasinya dengan sedikit pengabdian yang bisa aku lakuin dan semoga saja semua bisa aku wujudkan setelah ini.

Aku bakal nebangun mimpi kami dan baik risa ataupun aku sudah sepakat. Risa baik-baik saja jika mungkin besok akan dapat suami yang seorang dokter miskin namun tentunya aku menghindari kemiskinan dan sebisa mungkin keluarga aku besok bakal sejahtera dan mungkin terlalu naif. Aku sudah memilih itu dan aku sudah mantap di tujuan aku dan aku bakal terus usaha sampe bisa beneran kesampean. Aku bakal terus memantaskan diri sambil aku menatap tajam mata susi. Susi pun terdiam dan dia tidak berkomentar atau menjawab kalimat aku tadi. Dia hanya membalas tatapan aku dengan ekspresi yang tidak bisa aku jelaskan. Aku berusha memecah lamunannya ketika susi terdiam dan aku memanggil susi dengan keras hingga dia terlihat kaget. Tidak lama susi pamit pulang dan aku menyuruh dia menghabiskan dulu kentangnya namun dia bilang tidak kuat kelamaan dekat aku. Bersambung ke cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here