100 Hari Setelah Aku Mati Part 116 : Mimpi-Mimpi Risa Bagian 2

0
83

Aku berdoa untuk tidur aku yang hanya sebentar dan berdoa untuk hari esok yang sudah pasti akan aku lewati dengan panjang. Aku bangun saat adzan berkumandang dimana hari itu aku lewati dengan tidur selama 1 jam saja. Dan bena-benar hanya satu jam. Aku masih sangat mengantuk namun debar dari rasa excited mengalahkan rasa ngantuk yang bergelantungan di kelopak mata aku. Aku solat subuh di masjid kompleks rumah aku dan banyak warga dan tetangga yang mengajak bicara lebih lama setelah solat. Akan tetapi dengan terpaksa aku tolak dengan halus karena hari ini merupakan hari penentuan bagi aku. Aku segera pulang ke rumah untuk mencuci mobil tua warisan ayah yang mulai berdebu itu dan aku menyikat dan mengelap hingga bagian terkecil dari mobil itu dan berusaha merubah warna cat usang itu menjadi lebih bagus lagi.

Sambil melihat mobil itu dari angle yang berbeda-beda aku pun segera berlari masuk rumah dan menyaut handuk untuk segera mandi. Om bowo tampak sedang asik menikmati rokok kreteknya di temani secangkir kopi di depannya. Aku pun mengatakan pada om jika aku mau mandi dulu karena takut kesiangan. Om bowo pun meledek aku dan menyebut aku dasar anak bujangan tidak sabaran. Aku pun mandi dengan sebersih mungkin dan setengah botol shampo aku habiskan untuk mencuci rambut aku yang mulai memanjang ini. Dan aku lupa seharusnya aku memotong rambut aku dulu sambil membilas sisa sabun dan shampo. Aku keluar dan langsung memilih baju mana yang nanti cocok untuk hari spesial ini. Dan pilihan aku jatuh pada sebuah batik warna biru dongker di tambah dengan celana berbahan kain berwarna hitam. Dan sepatunya aku menggunakan fantofel hitam mengkilat membungkus kaki aku.

Setelah semuanya selesai dan siap kemudian aku pamit dengan om bowo. Aku sudah berada dalam mobil yang akan mengantar aku ke rumah wanita idaman aku yang insya Allah akan menjadi istri aku. Aku sudah berada di depan pintu rumah risa dan aku sengaja tidak membalas pesan singkat yang dia kirim berpuluh kali. Sebelumnya aku sudah berjanji akan datang pukul 09.00 pagi namun masih ada sisa waktu 10 menit sebelum jam 9. Aku mengatur nafas, berusaha mengurangi rasa nerves, belum pernah aku segugup ini saat berkunjung ke rumah risa. Pintu kayu jati aku ketuk perlahan dan sampai terdengar suara langkah cepat dari balik pintu. Risa pun senang ketika aku datang dan dia langsung mencium tangan aku. Dan risa bilang jika ayah risa sudah menunggu diri aku di ruang tamu. Kemudian risa mengajak aku ke ruang tamu untuk bertemu om hamzah.

Tidak lama aku melihat om hamzah sedang duduk di sofa dimana sebuah buku bersampul biru sedang di pegangnya, saat itu beliau melirik ke arah aku datang dan berdiri. Om hamzah pun menyambut aku dengan mengucapkan selamat dan memeluk aku. Lalu beliau menyuruh aku duduk dan aku pun mengucapkan terima kasih pada om hamzah. Om hamzah memberikan isyarat agar risa mengambilkan minuman dan risa yang sedari tadi mendadak menjadi pendiam hanya manggut-manggut saja dan beranjak ke dapur. Om hamzah pun bertanya bagaimana aku ketika disana apakah lancar? om hamzah juga mengatakan jika dirinya tidak bisa menyambut aku karena beliau sedang ada tugas sambil beliau menepuk pundak aku. Aku mengatakan jika semua berjalan lancar dan aku tinggal mengurus beberapa hal untuk pendidikan aku selanjutnya. Om bertanya mengenai rencana aku untuk studi aku selanjutnya karena om tau jika biaya yang harus di keluarkan tidak lah sedikit. Apalagi sekarang sudah dewasa nya aku dan risa sebentar lagi akan bekerja. Pertanyaan om tadi membuat aku seperti di tampar dimana beliau seperti berbicara mau di kasih makan apa anak saya jika kamu saja masih harus kuliah lagi meskipun beliau berbicara dengan halus.

Aku sudah merasakan skak mat dan mati kutu karena belum memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu dan butuh berapa lama sampai aku bisa menjawab. Itupun dengan sedikit gugup. Aku bilang aku berusaha mencari pekerjaan sampingan dan untuk biaya pendidikan sudah dapat di atasi karena almarhum bapak sudah menyiapkan hal ini jauh-jauh hari, ucap aku pada om dengan nada merendah. Om hamzah sedikit menekuk dahi nya dan terlihat berfikir dan aku semakin berperasaan tidak karuan dimana rasa pesimis menghampiri benak aku. Aku berfikir jika om hamzah kurang senang dengan jawaban aku. Risa tidak lama datang dengan sebuah nampan berisi kudapan ringan dan 2 cangkir kopi. Risa pun menyodorkan kopi itu dan ikut duduk di kursi yang terpisah. Om hamzah mempersilahkan aku untuk minum dimana kami bertiga ada dalam situasi yang canggung. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here